
"Sayang kamu pulang nya sama aku ya? Kamu suruh pak sopir pulang saja." ucap Byan.
"Ya sudah nanti ku suruh pulang pak sopir nya." jawab Putri sambil membereskan tempat makan.
"Biar saya yang beresin bu." ucap Sindy.
"Makasih ya mbak." ucap Putri.
"Kalau gitu kamu istirahat di sini ya, aku kembali kerja." ucap Byan lalu mencium seluruh wajah Putri, ingin sekali Byan ******* bibir nya, tapi dia masih sadar kalau di ruangan masih ada Sindy.
"Ya ampun pak Byan memang suami idaman, romantis banget sih, padahal masih satu ruangan tapi pamit nya udah seperti mau pergi jauh aja." gumam bathin Sindy sambil membereskan meja.
"Sudah dong mas, yang ada nanti mas ngga lanjut kerja lagi." ucap Putri.
"Ya deh, kamu jangan melakukan apa pun, oke." ucap Byan lalu menghampiri kursi kerja nya, Putri hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya." ucap Sindy dengan sopan.
"Ya, makasih ya mbak sudah menemani kita makan." ucap Putri.
"Saya yang harus nya berterima kasih pada ibu dan bapak, karena sudah di izin kan untuk makan bersama." ucap Sindy.
"Mari pak, mari bu." pamit Sindy lalu pergi meninggalkan ruangan Byan.
Putri pun menatap tajam ke arah Byan tanpa berkedip sedikit pun.
Byan yang merasa ada yang menatap nya pun mengangkat kepalanya dengan secara perlahan.
"Waduh, seperti nya dia lagi marah." gumam bathin Byan sambil menatap Putri.
"Jelaskan." ucap Putri dengan tatapan tajam nya.
"Jelaskan apa Yang?" Bukan nya menjawab, Byan malah balik bertanya.
"Kenapa kalian bisa ada dalam satu ruangan? Terus makanan sudah tersedia di atas meja?apa kalian berdua mau makan siang berdua di ruangan ini?" tanya Putri.
"Aku juga ngga tahu Yang, dia izin masuk terus dia bilang sudah belikan aku makan siang, aku ngga enak dong untuk menolak nya, makanya aku suruh menyimpan nya di meja." jawab Byan sejujur nya.
__ADS_1
"Apa mas ngga bilang ke dia kalau mas itu sudah punya istri bahkan sebentar lagi mas akan menjadi seorang ayah."
"Sayang, mana mungkin mas langsung bilang begitu, lagian kan siapa dia harus tahu status mas." ucap Byan.
"Jadi mas mau menyembunyikan status mas sama para wanita yang baru di kenal, begitu?" tanya Putri sambil menghampiri Byan.
"Bukan maksud mas begitu sayang, tapi kan memang dia itu baru hari ini kerja di sini, mana mungkin mas langsung memberitahu status mas, nanti juga pasti tahu kok akan status mas yang sebenar nya, dan bukti nya hari ini langsung terjawab dengan ada nya kehadiran kamu." jawab Byan sambil berdiri dan memeluk erat tubuh Putri.
"Terus kalau aku ngga datang ke kantor, apa mas akan makan berdua dengan nya, dan memberikan peluang buat dia untuk masuk ke hati mas?" tanya Putri.
"Sayang dengar kan mas, hati mas ini sudah di penuhi dengan kamu, wanita mana pun ngga bakalan bisa menggantikan posisi kamu di hati mas, hanya kamu, dari kecil hingga sekarang hati mas hanya untuk kamu seorang, jadi jangan berpikiran yang macam-macam lagi." uap Byan lalu mencium pipi Putri.
"Kamu bilang seperti itu karena aku sudah ada di sini, coba kalau aku ngga datang, apa yang akan kamu lakukan? Pasti kamu duduk berdua dan makan bersama." ucap Putri.
"Ya, kalau kamu ngga ada, mas akan makan makanan nya, tapi tidak dengan dia, mas akan makan sendiri sambil melakukan video call sama kamu." ucap Byan.
"Alasan saja." ucap Putri.
"Sudah dong sayang, jangan cemburu lagi, kamu percaya sama aku ya? Aku ini sudah cinta mati sama kamu, jadi sama lain sudah ngga ada rasa." ucap Byan
"Siapa yang cemburu." ucap Putri.
Putri yang awal nya malas-malas san karena masih ada rasa cemburu kini mulai mengimbangi ciuman dari suami nya.
"Ma-af." ucap Sindy lalu kembali menutup pintu ruangan Byan.
"Aduh, aku lupa kalau di dalam ada istri nya pak Byan, ah mataku jadi ternoda." gumam Sindy lalu pergi kembali ke ruangan nya.
"Mas, seperti nya barusan ada yang masuk." ucap Putri setelah melepaskan ciuman nya.
"Ngga ada," jawab Byan sambil kembali meraup bibir PUtri.
"Mas sudah, cukup, kita lanjutkan nanti di rumah saja." ucap Putri sambil menjauhkan wajah nya.
"Tanggung Yang." protes Byan.
"Mas, mau nanti di rumah atau ngga sama sekali." ancam Putri.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu mas nyerah aja deh." ucap Byan sambil melepaskan pelukan nya.
"Mas, aku mau lihat-lihat keluar ya?" ucap Putri.
"Ngga, kamu diam saja di sini, kamu duduk di sofa." jawab Byan yang ngga mau terjadi apa-apa sama istri nya.
"Mas, tapi aku bosen, aku janji deh aku ngga jauh-jauh." Putri masih mode merayu suami nya.
"Memang nya kamu mau kemana sih?" tanya Byan.
"Aku cuma mau keliling perusahaan ini saja kok." jawab Putri.
"Ngga sayang, kamu nanti capek." ucap Byan.
"Ngga, aku janji ngga akan terlalu capek, kalau aku capek aku akan istirahat, boleh ya sayang, nanti malam aku kasih double." ucap Putri lalu mencium bibir Byan sekilas.
Byan yang ngga punya pilihan pun hanya bisa pasrah dan mengizinkan istri nya untuk keliling perusahaan.
"Ya sudah, tapi kamu di temani Sindy ya." ucap Byan lalu mengambil intercom nya untuk memanggil Sindy.
"Iya deh ngga apa-apa, yang penting aku bisa keluar dari ruangan ini." ucap Putri.
"Sin, tolong ke ruangan saya sebentar." ucap Byan.
"Tunggu sebentar ya sayang, Sindy lagi kesini." ucap Byan.
"Permisi pak, bapak memanggil saya?" tanya Sindy setelah mendapat izin untuk masuk.
"Ya, tolong kamu temani istri saya, dia ingin melihat-lihat suasana kantor." perintah Byan.
"Baik pak, ayo bu silahkan." ucap Sindy.
"Aku pergi keluar sebentar ya sayang." ucap Putri dengan nada yang sangat manja.
"Kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi mas." ucap Byan lalu kembali mencium seluruh wajah istri nya.
"Nasib jomblo, kenapa aku ada di situasi ini, pasangan ini terlalu romantis, dan aku juga ingin sekali punya pasangan seperti pak Byan, apa masih ada stok pria seperti pak Byan untuk ku thor?" gumam bathin Sindy.
__ADS_1
Othor pun menjawab. "Ngga, karena kamu cuma numpang lewat saja."
"Siap suamiku sayang." ucap Putri lalu pergi meninggalkan ruangan Byan.