
"Tidak, ini semua bukan kesalahan aku." teriak Caca.
"Diam, apa yang sudah lo lakukan lo harus menanggung nya." teriak Byan yang sudah ngga bisa sabar lagi.
"Ini semua juga gara-gara kedua wanita itu, mereka mau merebut kamu dari aku, kamu tahu kan kalau aku mencintai kamu dari dulu, tapi kamu ngga mau melihat aku walaupun hanya sebentar saja." teriak Caca dengan deraian air mata nya.
"Merebut? Mereka mau merebut gue dari elo? justru kalau gue menerima elo, maka elo lah yang merebut gue dari mereka." teriak Byan.
Farel, Nathan dan juga orang sekitar yang mendengar keributan itu langsung melihat ke arah mereka yang sedang berdebat dengan tangan Caca yang di pegang oleh Nathan.
"Kok malah aku yang merebut kamu dari mereka? Jelas-jelas mereka itu anak baru di kampus, sedangkan kita sudah lama kenal, ngomong jangan ngaco kamu." teriak Caca.
"Yang ngaco itu elo, asal lo tahu Dira itu adik gue, Dira yang lo pukul, lo injak, lo tampar dan lo tendang sampai dia pingsan itu adik gue." teriak Byan dengan sangat marah.
Semua orang yang sedang melihat perdebatan mereka mulai saling berbisik dengan apa yang sudah Byan lontar kan.
"Apa! Jadi Dira itu adik kamu?" tanya Caca dengan wajah tidak percaya nya.
"Ya Dira itu adik gue, dan lo tahu Putri itu siapa? Putri itu istri gue, jadi mereka berdua berhak dekat bahkan lebih dekat dengan gue di bandingkan elo." teriak Byan, Byan sadar telah membuka status nya dengan Putri di depan Caca.
Bukan tanpa alasan Byan membuka status nya dengan Putri, tapi Byan ingin mereka tahu dan ngga berbuat semena-mena lagi kepada Putri.
"Apa! Jadi kamu sudah menikah? Jadi, jadi mereka berdua, Yan, maafkan aku, aku mengaku salah, tapi semua itu juga salah kamu yang tidak memberi tahu kalau mereka adalah orang terdekat dengan kamu." ucap Caca dengan wajah menyesal nya.
"Walaupun gue ngga ngasih tahu sama lo, tidak seharusnya lo berbuat keji seperti itu, dimana hati nurani lo sebagai perempuan dimana!" teriak Byan dengan penuh emosi.
Seandainya yang dia hadapi adalah seorang pria mungkin Byan sudah menghajar nya habis-habis san, tapi Byan masih sadar kalau yang dia hadapi adalah seorang perempuan.
Ayu sering berpesan kepada dirinya, seburuk apapun wanita dan sejahat apapun seorang wanita, dia tidak boleh melakukan fisik apapun yang membuat wanita itu terluka.
"Maafkan aku Yan, aku mohon jangan bawa aku ke kantor polisi." ucap Caca dengan deraian air mata nya.
__ADS_1
"Gue bisa saja memaafkan lo, tapi satu lagi yang harus lo ketahui." ucap Byan.
Caca pun terdiam sambil sesekali mengusap air mata nya yang turun ke pipi nya yang mulus, karena tangan nya sudah mulai di lepas oleh Nathan.
"Lo lihat bapak polisi muda ini, lo lihat baik-baik, dia ini kakak nya Putri." teriak Byan sambil menunjuk kearah Farel.
"Apa! Tidak, ini semua tidak mungkin, pak maaf kan kesalahan saya, maaf kan ke khilapan saya." ucap Caca sambil terus memohon.
"Bawa dia ke kantor." teriak Farel sambil berlalu dan menuju mobil nya.
Nathan pun kembali memegang kedua tangan Caca dengan erat.
"Ayo ikut kita, lo harus mempertanggung jawab kan semua nya." ucap Nathan sambil mendorong tubuh Caca.
"Nat, tolongin gue ya? Lo kan terkenal orang baik, jadi tolong bantu gue ya Nat." ucap Caca sambil berjalan dengan pelan.
"Lo tahu? sebenar nya gue ingin sekali langsung membunuh lo, tapi itu bukan sifat gue, karena orang tua gue mengajar kan bagaimana cara memperlakukan orang lain terlebih pada seorang wanita, dan lo tahu siapa Dira? Dira adalah calon istri gue, jadi lo salah berurusan, dan gue pastikan lo akan mendekam di penjara." jawab Nathan lalu mendorong kasar Caca.
"Ternyata aku sudah berurusan sama orang yang salah, ibu maafkan anak mu yang sudah membuat ibu kecewa." gumam bathin Caca.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan menuju kantor polisi.
Selama perjalanan mereka semua terdiam, mereka bertiga lagi mengatur emosi nya sedang kan Caca sedang meratapi nasib ke depan nya.
Terdengar suara dering ponsel Caca membuyarkan lamunan nya.
"Angkat telepon nya lalu loud speaker." ucap Farel tanpa melihat ke arah Caca.
*
*
"Caca mana sih, katanya tadi pas aku hubungi mau otw, tapi kok belum sampai juga ya?" tanya Cintya.
Mereka kini sudah berkumpul di rumah nya Cintya, mereka akan pergi ke rumah nenek nya Cintya yang ada di kampung dan jauh dari hiruk pikuk nya orang-orang.
__ADS_1
"Untung ya Cin, orang tua lo lagi ke luar kota, coba kalau lagi ada di sini pasti akan banyak pertanyaan." ucap Resi.
"Ya pasti nya, oh iya Del, lo sudah kasih kabar belum sama Sandi?" tanya Cintya.
"Belum Cin, beberapa hari ini Sandi susah untuk di hubungi, terakhir kali aku bertemu dengan Sandi pas hari minggu kemarin di rumah nya." jawab Dela.
"Aku juga ngga melihat Sandi di kampus, kemana ya dia." ucap Cintya.
"Lo udah cari ke rumah nya belum?" tanya Resi.
"Belum lah, kan aku masih sibuk sama kalian juga." jawab Dela.
Mereka pun terdiam dan bergelut dengan pikiran mereka masing-masing sambil menunggu kedatangan Caca.
"Apa Sandi marah ya sama aku, tapi kan sampai aku pulang dia biasa saja." gumam Dela yang masih bisa di dengar oleh Cintya dan Resi.
"Kenapa Sandi harus marah? Memang nya apa yang telah kamu lakukan Del?" tanya Cintya.
"Waktu kemarin pas aku ke rumah nya, dia minta aku memuaskan nya, tapi aku ngga bisa karena lagi datang bulan." jawab Dela jujur.
"Gila, hubungan kalian sudah sejauh itu Del?" tanya Cintya kaget.
"Kenapa lo kaget, biasa aja kali, kita itu sering kok melakukan nya, emang lo belum pernah?" tanya Dela.
"Belum." jawab Cintya sambil menggelengkan kepala nya.
"Nanti lo bisa mencoba nya dengan laki-laki yang kamu mau, dan pasti lo ketagihan." ucap Dela sambil tersenyum.
"Kalian ini malah ngomongin masalah hubungan, ini gimana Caca belum datang juga." ucap Resi.
"Oh iya, hampir aku lupa, ya sudah aku coba hubungi Caca." ucap Cintya sambil mengambil ponsel lalu menghubungi Caca.
__ADS_1