Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Kisah Lama Terulang Lagi


__ADS_3

Setelah di rasa agak segaran Byan dan Nathan pun menghampiri kamar yang di tempati Putri dan Dira.



Byan kaget begitu melihat Putri dan Dira sedang asik berbincang, sementara Farel dan Fani sedang mengantarkan pak Rizal ke depan.



"Sayang, adek." teriak Byan sambil menghampiri Putri dan Dira dengan sedikit berlari.



"Dira." gumam Nathan sambil ikut masuk mengikuti langkah Byan.



Putri dan Dira yang sedang asik berbincang pun langsung menoleh ke arah pintu kamar.



"Kak Byan, Nathan." ucap mereka berdua secara bersamaan.



Byan pun langsung memeluk mereka berdua.



"Kalian ngga apa-apa kan? Katakan sama kakak siapa yang telah melakukan nya?" tanya Byan.



"Nanti saja kita ceritakan kak." jawab Putri sambil melepaskan pelukan nya.



"Pasti sakit ya?" tanya Nathan sambil menyentuh pelan bibir Dira.



Sejenak mata mereka beradu pandang dan melupakan Byan dan Putri yang ada di kamar itu.



Mata mereka seolah-olah lagi berbicara satu sama lain nya, di mata mereka terlihat ada cinta yang tulus dari kedua nya.



"Maaf pandangan nya bisa di kondisikan? Masih ada kita lo di sini?" ucap Putri yang dengan sengaja menggoda Nathan dan Dira.



Dira pun langsung mengalihkan pandangan nya dengan wajah yang sudah berubah jadi merah.



Dira dan Nathan menjadi canggung, kedua nya hanya diam dan saling mencuri lirikan.



Putri pun tersenyum penuh arti lalu menatap Byan sambil memberikan kode lewat mata nya.



"Non, maaf mengganggu ini bibi bawakan makan siang nya, kata non Fani harus di makan soal nya kan harus minum obat lagi." ucap bibi pelayan sambil masuk dengan nampan yang penuh dengan makanan di tangan nya.



"Kak Fani nya dimana bi?" tanya Putri.



"Masih di bawah non, soalnya lagi ada tamu." jawab si bibi.

__ADS_1



"Ya sudah bi sini biar saya yang suapin mereka." ucap Byan sambil mengambil nampan dari si bibi.



"Kalau begitu bibi permisi ke belakang lagi." ucap si bibi lalu pergi meninggalkan kamar tamu.



Tanpa ada yang menyuruh nya Nathan langsung dengan sigap mengambil piring yang sudah berisikan makanan.



"Ayo buka mulut nya tapi pelan-pelan nanti sakit." ucap Nathan sambil mengangkat sendok yang berisikan makanan.



Putri dan Byan pun tersenyum melihat kelakuan manis yang Nathan berikan kepada Dira.



Awal nya Dira merasa malu di perlakukan seperti itu oleh Nathan, tapi lama-kelamaan Dira merasa nyaman.


*


*


"Suasana rumah nya enak ya, adem." ucap Farel setelah kepergian pak Rizal dari rumah Fani.


"Ya lumayan lah, saya dari kecil memang tinggal di sini jadi sudah menyatu banget dan seperti nya saya ngga bisa dipisahkan lagi dengan rumah ini." ucap Fani.



"Kalau nanti suatu saat suster menikah bagaimana? Apa suster masih mau tinggal di rumah ini atau ikut suami nya?" tanya Farel.



"Saya sih mau nya tinggal di sini selama nya, tapi gimana nanti saja, kan saya juga ngga tahu jodoh saya orang mana, kalau orang luar kota atau luar negeri kan pasti nya saya ikut suami saya." jawab Fani.




"Hah?" ucap Fani yang kaget dengan pertanyaan dari Farel.



Sejenak mereka saling beradu pandang, Fani yang tersadar duluan langsung mengalihkan pandangan nya.



"Bapak cocok banget pakai baju itu, lebih tampan." ucap Fani sambil tersenyum.



"Terimakasih atas pujian nya, kamu juga cantik kalau rambut nya sedang di geray seperti itu." ucap Farel sambil menatap wajah cantik nya suster Fani.



Mereka kembali saling menatap hingga tanpa sadar kalau orang tua Farel dan Byan serta orang tua Nathan sudah berdiri mengelilingi mereka berdua.



Mereka sampai ke rumah Fani secara bersamaan dan sempat berbincang-bincang dulu sebentar, Farel dan Fani yang lagi fokus memang tidak melihat kedatangan mereka, karena mereka terlalu fokus dengan pandangan mereka masing-masing.



"Ehem, maaf kami mengganggu, apa benar ini rumah nya suster Fani?" tanya Fadil sambil menahan senyuman nya.



Farel dan Fani pun kaget dan langsung menoleh ke arah mereka yang sedang menatap nya.

__ADS_1



"Bapak? Kalian? Kapan kesini nya? kok ngga kedengaran suara mobil masuk ya?" ucap Farel sambil melihat kearah sekitar.



"Gimana mau kedengaran nak, kamu lagi fokus menatap gadis cantik di depan kamu." ucap Nisa sambil melihat ke arah Fani.



"Seperti nya mereka berdua cocok Dil, sudah sekalian lamar saja, biar kisah kamu yang melamar Nisa terulang lagi." ucap Raka sambil tertawa.



"Pah, sudah mereka jadi malu itu." ucap Ayu.



Sedangkan keluarga Andre dan keluarga Nathan hanya melihat interaksi dari mereka.



"Maaf bu, pak ayo silahkan masuk." ucap Fani yang mengalihkan pembicaraan mereka.



Mereka pun satu persatu masuk ke dalam rumah besar milik nya dokter Mery.



"Ini pasti suster Fani yang sudah menolong anak kita." ucap Raka.



"Iya pak, kebetulan saya pulang dari rumah pasien dan melihat mereka berdua yang lagi tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan, saya pun langsung membawa mereka berdua kesini." ucap Fani.



"Terus kenapa bisa tahu dan menghubungi Farel kakak nya Putri yang anda tolong?" tanya Fadil.



"Waktu itu saya pernah bertemu dengan pak Farel di jalan dan pak Farel sempat memberikan kartu nama nya, tadi nya saya hanya mau melaporkan korban, tapi begitu pak Farel datang ternyata pak Farel mengenal nya bahkan ternyata dia adalah adik kandung nya pak Farel." jawab Fani.



"Oh saya kira kalian sudah kenal lama dan sudah berkomitmen." ucap Raka.



"Sudah lah pah, dari tadi gangguin mereka terus, sekarang anak saya di mana sus? Saya ingin melihat nya." tanya Ayu yang sudah ngga sabar ingin melihat Dira.



"Mereka ada di kamar tamu, tapi saya mohon yang masuk bergantian karena saya takut nya mereka kaget dan mengingat pengeroyokan yang sudah terjadi pada mereka." ucap Fani.



"Memang nya mereka berdua di keroyok?" tanya Andre yang dari tadi hanya diam saja.



"Tadi sempat bilang ke saya sebentar, kalau mereka di keroyok oleh empat orang, tapi saya ngga banyak bertanya lagi, karena saya takut mereka trauma dan mengingat kejadian itu kembali, soalnya kita harus pelan-pelan bertanya dengan korban penganiayaan." jawab Fani.



"Ya sudah kalau gitu kita aja dulu." ucap Raka sambil berdiri bersama Ayu istri nya.



"Saya juga, karena saya orang tua dari Putri, ayo bu." ucap Fadil sambil ikut berdiri dari duduk nya.


__ADS_1


"Ya sudah mari pak, bu saya tunjukan kamar nya, tapi jangan memaksa mereka untuk menceritakan kejadian yang sudah terjadi, biar nanti mereka sendiri lah yang menceritakan nya." ucap Fani lalu menunjukan kamar nya yang di tempati Putri dan Dira.


__ADS_2