
Kini tangan Putri dan Dira pun sudah terlepas dari selang infusan.
"Makasih kak dokter," ucap Putri dan Dira.
"Sama-sama dek, ternyata enak ya kalau punya adek, apalagi adek nya seperti kalian berdua ini cantik-cantik." ucap Fani sambil membuka sarung tangan nya.
"Anggap saja kita ini adik nya kakak, kita juga ngga punya kakak perempuan, kita berdua hanya punya kakak laki-laki saja." ucap Dira.
"Atau kalau ngga kakak jadi kakak ipar ku saja deh, aku senang banget kalau kakak jadi kakak iparku." ucap Putri sambil tersenyum.
"Memang nya kamu setuju dek kalau kakak sama suster Fani." ucap Farel sambil masuk ke dalam kamar.
"Kakak."
"Kak Farel."
Mereka pun serentak memanggil Farel dan menatap nya, Farel pun langsung menghampiri dan memeluk mereka berdua.
"Kak." ucap Putri sambil menangis.
"Tenang, kakak sudah ada di sini, kalian akan baik-baik saja, nanti kalau kalian sudah siap untuk menceritakan semua nya, baru kalian boleh cerita." ucap Farel lalu mencium kening Putri dan Dira.
Fani merasa tersentuh hati nya melihat kasih sayang seorang kakak terhadap adik nya.
"Ternyata enak ya kalau punya saudara, kita bisa cerita dan berkeluh kesah dan juga tentu nya saling menyayangi seperti mereka ini." gumam bathin Fani sambil menatap mereka bertiga.
"Kak Fani kenapa? Mau di peluk juga? Sini kak kita pelukan berempat." ucap Putri.
Fani yang merasa malu pun cuma tersenyum lalu membereskan alat-alat bekas infusan Putri dan Dira.
"Kak, apa mamah dan papah Dira sudah di kasih tahu?" tanya Dira.
"Sudah, mungkin mereka lagi dalam perjalanan kesini." jawab Farel.
"Kok kakak bisa tahu kalau adek ada di sini?" tanya Putri.
"Cerita nya nanti saja ya, sekarang kakak harus pulang dulu kakak mau mandi dan ganti baju, ngga enak dari kemarin pakai baju dinas gini." ucap Farel.
"Kalau kakak pulang kita juga ikut pulang." ucap Putri.
"Tapi kalian belum pulih benar, jadi kalian di sini saja dulu ya?" ucap Farel.
"Ngga, pokok nya kita ikut pulang juga." ucap Putri.
"Kamu kok jadi manja begini sih Put?" bisik Dira.
__ADS_1
"Kakak tenang saja, aku sengaja biar kak Farel tetap di sini dan lebih dekat lagi dengan kak Fani, kamu lihat deh mereka coco k kan kalau jadi pasangan." bisik Putri.
"Ya sudah pak Farel mandi di sini saja, kebetulan di lemari masih ada baju ayah yang tersimpan." ucap Fani.
"Apa boleh?" tanya Farel.
"Boleh kok pak, sebentar ya saya ambilkan dulu." jawab Fani.
"Kak, maaf aku mau ngerepotin kakak lagi." ucap Putri.
"Iya dek ada apa?" tanya Fani.
"Sini kakak nya aku bisikin." ucap Putri, Fani pun menghampiri dan mendekatkan telinga nya ke bibir Putri.
"Aku minta pembalut kak, soalnya aku lagi dapat." bisik Putri.
"Oh baiklah nanti kakak bawakan sekalian kakak bawakan baju buat ganti kalian berdua." ucap Fani sambil tersenyum.
"Makasih ya kak." ucap Putri dan Dira.
Fani pun pergi ke luar untuk menyiapkan semua yang mereka butuh kan.
"Kamu bisikin apaan dek?" tanya Farel setelah Fani keluar dari kamar.
"Alah pakai rahasia-rahasiaan segala." ucap Farel sambil memberenggut.
Putri dan Dira pun tersenyum melihat wajah kesal Farel, kini rasa sakit yang ada di tubuh dan wajah mereka sedikit berkurang karena dokter Mery memberikan obat yang bagus buat mereka berdua.
"Kak, kak Fani cantik ya? Adek mau lo kalau kak Fani jadi kakak ipar adek." ucap Putri sambil tersenyum.
"Kakak juga mau dek, tapi kakak takut suster Fani nya sudah punya pasangan." ucap Farel.
"Ya kakak cari tahu dong, kalau misal nya kak Fani belum ada yang punya kakak pepet saja terus sampai kak Fani klepek-klepek." ucap Dira.
"Kalian ini." ucap Farel sambil menggelengkan kepala nya.
"Tapi memang benar kak apa yang di bilang kak Dira." ucap Putri.
"Kak, ini baju nya dan ini peralatan mandi yang masih baru, beserta handuk nya." ucap Fani sambil memberikan baju dan peralatan mandi nya.
"Dan ini buat kalian berdua beserta dalaman nya, semua nya masih baru kok." ucap Fani sambil memberikan baju ganti buat Putri dan Dira.
"Ya sudah kalau begitu kakak mandi dulu ya dek." ucap Farel setelah menerima baju dari Fani.
Putri dan Dira saling menatap penuh arti, mereka berdua sudah sepakat akan mendekatkan Fani dengan Farel.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu kita juga membersihkan tubuh dulu yuk kak." ajak Putri.
"Ya sudah kita gantian, kamu duluan saja." ucap Dira.
Byan dan Nathan yang menempati kamar tamu yang satu nya lagi mulai mengerjapkan mata nya.
"Nath bangun, kamu mau lihat Dira ngga? Aku mau lihat mereka lagi." ucap Byan sambil menggoyangkan tubuh Nathan.
"Ya aku juga ikut." ucap Nathan sambil bangun dari tidur nya.
"Cuci muka dulu lah biar muka bantal nya ngga terlalu kelihatan." ucap Byan.
Nathan pun bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka nya.
Kini Farel sudah tampan dengan memakai baju yang diberikan oleh Fani, Fani sengaja mencari kaos dan celana yang dirasa pas dan cocok buat Farel kenakan.
"Weh kapan pak Farel pulang bawa baju ganti?" tanya pak Rizal yang sudah bangun dari tidur nya.
"Di kasih pinjam sama suster Fani pak." jawab Farel sambil tersenyum.
"Ah istri idaman, sangat pengertian sekali ya." ucap pak Rizal.
"Banget deh pak, seperti nya saya harus terus mendekati nya, sudah lah cantik, baik pengertian lagi" ucap Farel dengan senyuman yang mengembang.
"Oh ya pak Farel, saya pulang duluan ya? Tadi istri saya telepon katanya ingin diantar belanja bulanan." ucap pak Rizal.
"Ngga ikut makan siang dulu?" tanya Farel sambil memakaikan jam tangan nya.
"Nanti saja sama istri saya sekalian belanja." jawab pal Rizal.
"Ya memang seharusnya begitu pak, kita sebagai pria dan seorang suami harus selalu menjaga perasaan istri." ucap Farel.
"Wah calon suami yang baik, dan pasti nya akan mendapatkan pasangan yang baik pula." ucap pak Rizal.
"Insya Allah pak, ah sudah lah ayo kita keluar." ucap Farel.
Farel dan pak Rizal pun keluar dari kamar untuk berpamitan kepada Fani dan ibu nya, sebelum pak Rizal pulang dia melihat dulu keadaan Putri dan Dira.
"Wah udah pada segar nih." ucap pak Rizal yang sudah berdiri di depan pintu.
"Alhamdulilah pak, kami sudah ngga terlalu merasakan sakit seperti tadi pagi." jawab Dira.
"Nanti kalau sudah siap, kalian ceritakan semua nya ya? Biar saya dan kakak kamu menangkap si pelaku." ucap pak Rizal.
"Iya pak." jawab Putri dan Dira secara bersama.
__ADS_1