
"Ini kan jalan nya?" ucap Nathan sambil melihat kearah sekitar.
"Itu Nat, rumah yang itu yang di depan nya ada mobil polisi." ucap Byan sambil menunjuk ke arah mobil polisi yang terparkir depan rumah Fani.
"Kok sampai ada mobil polisi segala? Ada apa ya Yan?" tanya Nathan sambil menepikan mobil nya.
"Ya iya lah ada mobil polisi, kan kakak nya Putri seorang polisi belum lagi ayah nya yang sudah berpangkat sebagai IRJEN." jawab Byan sambil turun dari mobil.
"Wow, ternyata Putri bukan kaleng-kaleng ya." ucap Nathan sambil menutup pintu mobil nya lalu berjalan menghampiri Byan yang sudah berada di depan gerbang rumah Fani.
"Masa kita pencet bel, mengganggu orang yang lagi istirahat dong." ucap Nathan sambil melihat ke sekitar rumah Fani.
"Sebentar, gue telepon dulu kak Farel nya." ucap Nathan sambil mengambil ponsel nya.
*
*
"Pak ini kopi sama cemilan nya, maaf cuma ada ini saja." ucap Fani sambil menata kopi dan cemilan di atas meja yang ada di kamar itu.
"Jadi ngerepotin, makasih ya sus." ucap pak Rizal.
"Sama-sama pak, silahkan di minum." ucap Fani sambil tersenyum ramah.
Semenjak Farel melihat senyuman Fani yang manis, Farel selalu terpana di buat nya.
Farel pun tersadar dari lamunan nya setelah mendengar suara ponsel nya berdering.
"Maaf, saya terima telepon dulu." ucap Farel sambil sedikit menjauh.
"Iya Yan." ucap Farel.
"Kak, aku sudah ada di depan, kakak dimana?"tanya Farel.
"Tunggu sebentar, kakak ke depan sekarang." jawab Farel sambil memutuskan panggilan nya.
Farel pun berjalan keluar setelah sebelum nya meminta izin kepada Fani.
"Yan, ayo masuk." ucap Farel sambil membuka pintu gerbang.
"Kak, Putri dimana kak? Putri ngga kenapa-kenapa kan?" tanya Farel penuh dengan ke khawatiran.
"Masuk saja dulu, nanti kakak jelaskan semua nya." jawab Farel sambil kembali menutup pintu gerbang nya.
Byan dan Nathan pun melangkah masuk mengikuti langkah nya Farel.
Perlahan Farel membuka pintu kamar yang ditempati adik dan sahabat nya itu setelah sebelum nya mengetuk pintu dulu.
__ADS_1
"Itu Putri sama Dira." ucap Farel sambil menunjuk ke arah Putri dan Dira yang masih memejamkan kedua matanya dengan selang infus di tangan nya.
"Putri, adek."
"Dira."
Teriak Byan dan Nathan secara bersamaan sambil berlari menghampiri tempat tidur.
"Put, bangun Sayang, kamu kenapa? Siapa yang sudah melakukan ini semua sama kamu." ucap Byan
"Adek, bangun dek, bilang sama kakak siapa yang sudah melakukan ini pada kalian berdua." teriak Byan.
"Sudah Yan, tunggu mereka sadar, kasihan mereka, biarkan mereka istirahat dulu." ucap Farel.
"Putri kenapa kak, siapa yang sudah melakukan semua ini?" tanya Byan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kakak juga ngga tahu, yang lebih tahu kronologi nya suster Fani, dia yang sudah menemukan dan membawa Putri dan Dira ke sini." jawab Farel sambil memperkenalkan Fani pada Byan dan Nathan.
"Ya sudah bagaimana kalau kita duduk di ruang tamu saja, nanti saya jelaskan di sana, kalau di sini kasihan mengganggu istirahat mereka berdua." ucap Fani.
"Baiklah kalau begitu mari kita ke depan." ajak pak Rizal.
"Sllahkan duduk." ucap Fani dan mereka pun semua nya duduk saling berhadapan.
"Baiklah saya akan menceritakan kronologi nya sampai saya bisa menemukan mereka berdua di pinggir jalan, jadi tadi sehabis saya praktek bersama dokter senior saya melihat mereka sudah tergeletak pingsan di pinggir jalan." Fani pun akhirnya menceritakan asal mula dirinya menemukan Putri dan Dira.
Pak Rizal, Farel, Byan dan Nathan pun dengan begitu serius mendengarkan cerita dari Fani.
"Begitulah ceritanya, dan untung saja saya tidak membuang kartu nama yang di berikan oleh pak Farel waktu itu.
"Apa! Dia bermaksud membuang kartu namaku? Benar-benar dia wanita pertama yang menolak kartu namaku." gumam bathin Farel sambil menatap kesal kepada Fani.
"Sabar pak, yang penting kan ngga jadi di buang nya." bisik pak Rizal dengan sedikit tersenyum karena melihat wajah kesal Farel.
Farel hanya menatap dengan tatapan tajam kepada pak Rizal, sedang kan pak Rizal yang di tatap nya hanya tersenyum tanpa dosa.
"Brengsek, awas saja kalau sampai aku tahu orang yang telah membuat Putri dan Dira seperti ini, tidak akan kubiarkan." ucap Byan dengan penuh amarah.
"Bajingan, siapa pun yang telah membuat Dira ku seperti ini tidak akan aku ampuni." gumam Nathan sambil mengepalkan tangan nya.
"Kalian boleh marah, tapi saya mohon jangan terlalu mendesak Putri dan Dira, biarkan dulu mereka tenang dulu, karena biasanya orang yang sudah dianiaya seseorang kadang akan menimbulkan sebuah trauma pada dirinya." ucap Fani.
__ADS_1
"Baik sus, dan saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada suster yang sudah menolong istri dan adik saya." ucap Byan.
"Sama-sama, oh iya sebentar lagi adzan subuh, bagaimana kalau kita sholat berjamaah, setelah itu kalian boleh beristirahat." ucap Fani.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita siap-siap untuk sholat." ucap pak Rizal.
"Mari pak kita ke mushola, kebetulan di belakang ada mushola tempat kita melakukan sholat berjamaah." ucap Fani sambil berdiri.
"Sudah cantik, baik, rajin sholat lagi, ah memang istri idaman." gumam bathin Farel sambil menatap punggung Fani dari belakang.
"Sudah bungkus saja pak Farel." bisik pak Rizal.
"Bungkus-bungkus memang nya nasi padang di bungkus." ucap Farel pelan, tapi Fani sempat mendengar nya.
"Kok jadi lapar ya begitu mendengar nasi padang." ucap pak Rizal.
"Ah itu mah kebiasaan bapak saja yang doyan makan." ucap Farel.
"Kasihan ternyata mereka pada lapar, baiklah setelah selesai sholat aku masakin buat semuanya, untung hari ini aku off." gumam bathin Fani sambil tersenyum.
"Silahkan siapa yang mau menjadi imam?" tanya Fani setelah kini semuanya sudah berada di dalam mushola yang ada di kediaman Fani.
"Silahkan pak Farel, anda yang memimpin." ucap pak Rizal.
"Kok saya, bapak saja." ucap Farel.
"Ayolah pak, ini kesempatan bapak untuk memikat hati nya suster Fani." bisik pak Rizal.
"Sebentar, ibu ikut berjamaah." teriak dokter Mery sambil masuk ke mushola.
"Aku kira ibu ngga bakalan ikut." ucap Fani.
"Tadinya ngga ikut berjamaah, tapi seperti nya banyakan dan ingin melihat siapa imam nya, kan kalau diantara kalian ada yang menjadi imam akan ibu jadikan menantu." ucap bu Mery sambil tersenyum.
"Kalau saya yang jadi imam masuk kriteria ngga bu?" tanya sopir nya bu Mery.
"Sebelum daftar sudah ibu eliminasi, kasihan istri dan anak kamu di rumah." jawab Dokter Mery yang membuat mereka semua tertawa mendengar nya.
"Sudah jangan bercanda terus, ayo pak Farel silahkan." ucap pak Rizal.
Mau tidak mau Farel pun memberanikan diri nya untuk menjadi imam bagi mereka.
__ADS_1
"Memang cocok jadi menantu ku." gumam bathin dokter Mery sambil tersenyum.