Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Nyusul Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Mah, mamah." teriak Raka lalu turun dari tempat tidur nya.


"Mamah kemana sih." gumam Raka.


Raka pun mencari istri nya ke setiap ruangan, tapi alhasil dia tidak menemukan nya.


"Kalau aku ketuk kamar Byan, takut nya mengganggu Putri, ya sudah tanya ke adek saja lah." gumam Raka lalu menuju kamar Dira.


"Dek, adek." teriak Raka sambil terus mengetuk pintu nya.


Raka pun mencoba membuka dan mendorong pintu nya hingga terbuka.


"Kok ngga di kunci." gumam Raka lalu masuk ke kamar nya Dira.


"Lo, kok adek juga ngga ada di kamar nya?" gumam Raka, lalu berlari ke kamar nya Byan.


Tanpa mengetuk pintu nya lagi, Raka langsung membuka pintu kamar tamu yang di tempati Byan.


"Kok, ngga ada juga, pada kemana sih mereka ini, aku harus menghubungi nya." Raka pun langsung kembali ke kamar nya dan mengambil ponsel nya.


Raka pun kaget karena suara deringan ponsel istri nya yang berada di laci meja rias nya.


"Lo, mamah ngga bawa ponsel." gumam Raka sambil mengambil ponsel istri nya.


Raka pun mencoba menghubungi no ponsel anak-anak nya, tapi ngga ada satu pun yang menerima nya.


"Pada kemana sih mereka ini, ah, aku tanya ke pak satpam saja lah." gumam Raka, lalu menghubungi satpam yang jaga di rumah nya.


"Pak, melihat istri dan anak-anak keluar rumah ngga tadi?" tanya Raka.


"Iya pak, tadi mereka keluar membawa non Putri ke rumah sakit, katanya mau lahiran." jawab pak satpam.


"Putri mau lahiran?" Raka pun malah balik bertanya saking kaget nya.


"Iya pak, non Putri di bawa ke rumah sakit xxxx." jawab pak satpam.


Raka pun langsung memutuskan panggilan nya setelah mengucapkan terima kasih.


"Mamah, kenapa ngga bilang sama papah sih, apa jangan-jangan pas tadi Byan ngetuk pintu itu ngasih tahu kalau Putri mau lahiran ya?" gumam Raka.

__ADS_1


Raka pun dengan gerak cepat langsung ganti baju dan menelpon sopir nya untuk siap-siap pergi ke rumah sakit.


Para sopir Raka selalu stay dua puluh empat jam untuk mengantar keluarga Raka kemana pun dan jam berapa pun, makanya mereka ngga pernah jauh-jauh dari ponsel nya.


Sementara di dalam mobil, Putri terus mengeluh sakit di perut nya sambil menggenggam tangan Byan.


Malam itu saking khawatir nya dengan keadaan Putri yang akan melahirkan, mereka lupa kalau mereka punya sopir yang siap siaga untuk mengantar kan nya.


Dengan gesit Dira mengemudikan mobil nya, sedangkan Ayu duduk di samping Dira sambil sesekali melihat ke arah belakang, dimana anak dan menantu nya sedang duduk.


"Dek, perasaan ada yang kurang deh." ucap Ayu sambil melirik ke arah Dira.


"Apa mah? Memang nya mamah tadi ngga bawa koper yang isi perlengkapan bayi nya?' Dira pun balik bertanya sambil fokus mengemudi.


"Koper mamah bawa tadi, tapi benar lo ada yang kurang ini." ucap Ayu.


"Mamah ngga bawa uang?" tanya Dira kembali.


"Kan kemana-mana mamah memang ngga pernah bawa uang, kecuali kalau mamah pergi nya sendirian, tapi kalau mamah pergi sama pa-pah, dek papah ketinggalan, papah ngga diajak." teriak Ayu mengagetkan semua nya.


"Ya ampun mah, sudah lah biarin saja, mamah tinggal hubungi papah untuk nyusul,." ucap Dira yang ngga habis pikir sama mamah nya.


"Tapi papah sudah wanti-wanti sama mamah, kalau cucu pertama nya lahir, dia ingin ikut menunggu nya." ucap Ayu.


"Ayo dong dek, cepat." ucap Byan.


"Ini juga sudah cepat kak, sebentar lagi sampai kok." jawab Dira.


"Sabar sayang, sebentar lagi sampai, tahan ya, nak, kamu jangan buat mamah kamu sakit ya nak." ucap Byan sambil mengelus perut istri nya.


Mobil pun memasuki pelataran rumah sakit, Byan dengan gesit nya langsung memanggil suster meminta pertolongan.


Putri pun kini sudah berada di dalam ruang bersalin bersama Byan suami nya, sedangkan Ayu dan Dira menunggu nya di ruang tunggu.


Aduh dek, mana mamah lupa lagi ngga bawa ponsel, kamu bawa ponsel ngga?" tanya Ayu dengan perasaan gelisah.


"Adek ngga bawa apa-apa mah, tadi adek niat nya mau ngambil minum, tapi dengar keributan di kamar tamu, adek jadi ngga ambil minum nya." jawab Dira.


"Aduh, gimana kasih kabar papah dong kalau kita ngga bawa ponsel." ucap Ayu.

__ADS_1


"Sus, kamar bersalin sebelah mana?" tanya Raka.


"Bapak mau ke ruang bersalin, mari saya antarkan." jawab suster.


"Raka pun mengikuti langkah suster yang mengantar nya ke ruang bersalin.


"Itu pak ruangan nya." ucap Suster sambil menunjuk ke kamar yang di depan nya ada Dira dan Ayu yang sedang ngelisah menunggu.


"Makasih sus." ucap Raka.


"Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi." suster pun pamit dan kembali ke tempat nya.


Raka pun berjalan dengan perlahan sambil melihat ke arah Ayu dan Dira yang sedang gelisah membelakangi nya


"Mamah kenapa ngga ngajak papah." teriak Raka yang baru datang dan diantar seorang suster jaga.


"Papah." teriak Ayu dan Dira.


"Untung papah tahu kalian di sini, mana ponsel mamah ngga di bawa lagi, papah hubungi no adek dan kakak ngga di angkat." ucap Raka.


"Maaf pah, mamah tadi panik jadi langsung berangkat saja kesini tanpa mengajak papah." ucap Ayu sambil memeluk Raka.


"Maaf pah, adek ngga bawa ponsel, dan seperti nya kak Byan juga ngga bawa apa-apa deh, soalnya kita semua panik jadi tanpa memikirkan apapun langsung saja berangkat kesini." ucap Dira.


"Sekarang Putri nya sudah melahirkan apa belum?" tanya Raka.


"Belum pah, masih di dalam dan di temani kakak." jawab Ayu.


"Ya sudah kalau gitu kamu hubungi Nisa dan Fadil." ucap Raka sambil memberikan ponsel nya.


"Takut mengganggu mereka pah, pasti mereka lagi istirahat." ucap Ayu.


"Coba saja, dari pada ngga kamu kasih tahu, nanti Nisa marah lagi." ucap Raka.


"Ya sudah aku hubungi Nisa dulu pah." ucap Ayu sambil mengambil ponsel dari tangan suami nya.


Ayu pun langsung menghubungi NIsa, setelah beberapa kali di hubungi, akhir nya Nisa pun menerima panggilan dari nya.


Raka pun duduk di kursi yang di sediakan buat yang menunggu melahirkan, sebenar nya Raka penasaran ingin melihat nya, tapi dokter tidak akan mengizinkan masuk kecuali suami nya sendiri.

__ADS_1


"Pah, minta uang aku mau beli minum dan cemilan ke kantin." ucap Dira.


"Ya sudah beli yang banyak ya sayang, sekalian buat stok nanti." ucap Raka sambil memberi Dira uang lima lembar yang berwarna merah.


__ADS_2