Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Titik Terang


__ADS_3

Anggar dan Ara pun kini sudah berada di ruang dekan dan meminta izin untuk memutar rekaman cctv semalam.



"Selamat siang pak." ucap Anggar yang sudah di persilahkan masuk oleh pihak kampus.



"Siang juga pak, silahkan duduk." ucap salah seorang dekan.



"Maaf kami mengganggu waktu bapak." ucap Anggar sambil menjabat tangan dekan dan Raka yang ada di ruangan itu.



Raka lebih dulu ada di ruangan itu sebelum Anggar dan Ara datang.



"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pak dekan.



"Begini pak, kami ini orang tua Nathan yang menjadi mahasiswa di kampus ini, kami mau minta izin untuk melihat rekaman yang ada di kampus ini, soalnya semalam kata pak satpam anak saya kesini tapi pergi lagi bersama teman nya, sedangkan motor nya dia tinggal di dekat pos satpam, dan sampai sekarang Nathan belum kembali, saya dan istri sangat khawatir karena ini baru pertama kali nya Nathan tidak ada di rumah." ucap Raka.



"Jadi yang pergi dengan anak saya itu anak nya bapak?" tanya Raka yang memang sudah melihat hasil rekaman nya.



"Jadi bapak ini adalah ayah nya teman anak saya yang bawa mobil?" tanya Raka.



"Iya saya orang tua nya Byan, bahkan adik dan sahabat nya juga ngga ada, tadi saya sudah tanya sama teman-teman nya kalau Putri dan Dira setelah selesai acara mereka langsung pulang, tapi sampai sekarang mereka belum pulang ke rumah." jawab Raka.



"Ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kita mencari nya sama-sama." ucap Anggar.



"Boleh juga pak, oh iya boleh saya minta no ponsel nya? Biar nanti kalau diantara kita sudah mendapatkan kabar dari mereka gampang kasih kabar nya." ucap Raka.



"Boleh, ini kartu nama saya, bagaimana kalau kita bicarakan masalah ini sambil makan siang, kebetulan sebentar lagi jam makan siang." ucap Anggar sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.



"Boleh pak, kalau begitu mari kita lanjutkan pembicaraan nya di sana saja, kalau di sini takut mengganggu pembelajaran di kampus ini." ucap Raka.



"Kalau begitu kami permisi pak, terimakasih atas waktu nya, kalau ada kabar tolong segera kabarin kami." ucap Anggar pada pak dekan.



"Iya pak sama-sama, nanti saya juga akan mencari nya lewat mahasiswa lainnya barangkali saja ada yang melihat mereka." jawab pak dekan.



"Terimakasih pak, mari." ucap Ara.



Mereka bertiga pun kembali keluar dari kampus untuk melanjutkan pembicaraan tentang anak mereka yang belum ada kabar nya.

__ADS_1


*


*


"Selamat siang, bagaimana keadaan nya?' tanya Fani sambil masuk dengan beberapa obat di tangan nya.


"Siang dokter cantik." jawab Putri dan Dira secara bersamaan.



"Ah, kalian ini jangan panggil dokter, panggil saja saya Fani." ucap Fani sambil tersenyum.



"Ngga enak kalau kita manggil nama saja." ucap Dira.



"Ya sudah kita panggil kakak dokter saja." ucap Putri.



"Terserah kalian saja, asal jangan panggil ibu, karena saya belum jadi ibu-ibu, tapi suatu saat bakal jadi ibu-ibu." jawab Fani.



Putri dan Dira pun tertawa begitu mendengar celotehan dari Fani sampai-sampai mereka mengaduh sakit di bibir nya.



"Aduh, sakit." teriak mereka berdua.



"Makanya jangan tertawa dulu, kalian senyum dikit aja dulu, kan masih belum benar-benar sembuh." ucap Fani.




"Kalau udah lihat kalian berdua tertawa seperti ini berarti kalian sudah sembuh, baik sekarang kalian makan siang dulu habis itu obat nya di minum, biar rasa nyeri dan ngilu nya berkurang." ucap Fani.



"Kak dokter, kalau selang infusan nya dilepas sekarang bisa ngga? soalnya aku ribet kalau mau ke kamar mandi." ucap Dira.



"Bisa adek-adek ku, karena kalian juga udah kelihatan segar jadi infusan nya boleh di buka,." jawab Fani sambil memakai sarung tangan nya dan siap untuk membuka infusan Putri dan Dira.



Perlahan Farel mengerjapkan kedua matanya lalu dia mengambil ponsel yang sejak pagi tadi dia silent.



"Ya ampun hampir seratus panggilan tak terjawab." gumam Farel sambil melotot.



"Pasti bapak dan ibu sangat khawatir." ucap Farel sambil melakukan panggilan kepada Fadil.


*


*


"Bagaimana? Apa sudah ada titik terang dengan keberadaan anak saya?" tanya Fadil pada anak buah nya.


"Belum pak, karena tidak ada bukti yang akurat, kami sudah ke kampus nya anak bapak, tapi teman-teman nya bilang anak bapak yang bernama Putri langsung pulang selesai acara dengan saudara Dira." jawab anak buah nya Fadil.

__ADS_1



"Kamu tidak cek di cctv kampus?' tanya Fadil.



"Sudah pak, memang terlihat anak bapak dan sahabat nya keluar dari kampus tapi setelah itu mereka sudah tidak terjangkau lagi oleh cctv kampus, sedangkan cctv di jalan xxxx dekat kampus lagi dalam perbaikan."



"Ya sudah kalau begitu terus lakukan pencarian, ada hal kecil apa pun yang kamu temukan langsung hubungi saya." ucap Fadil.



"Baik pak, kalau begitu saya permisi kembali menjalankan tugas."



"Ya." jawab Fadil.



"Kalian sebenar nya pada kemana? Jangan buat kami semua khawatir sayang." gumam Fadil.



Suara ponsel yang begitu nyaring membuyarkan lamunan Fadil.



"Farel." gumam Fadil yang langsung menerima panggilan dari anak pertamanya.



"Halo nak, kamu dimana? Kenapa kamu susah dihubungi? Kenapa kamu baru menghubungi bapak? Kamu sudah dengar belum tentang adik kamu, adik kamu menghilang bersama Byan dan Dira dari semalam." ucap Fadil yang tanpa memberikan Farel untuk berbicara.



"Pak, bapak tenang dulu, dengarkan kakak dan jangan panik." ucap Farel.



"Iya bapak akan berusaha ngga panik, tapi kamu sudah tahu kan kabar adik kamu?" tanya Fadil.



"Ya pak, kakak sudah tahu, semalam kakak selagi tugas ada yang menghubungi kalau ada dua remaja perempuan korban penganiayaan dan kakak bersama pak Rizal langsung datang ke TKP, kakak sungguh kaget dan hampir tidak percaya ternyata kedua remaja yang dimaksud pelapor itu ternyata Putri dan Dira, suster Fani yang menemukan mereka di pinggir jalan dengan kondisi parah akibat penganiayaan tersebut bahkan Putri dan Dira dalam keadaan pingsan." jawab Farel.



"Apa! Siapa yang sudah berani melakukan anak bapak seperti itu?" tanya Fadil dengan wajah yang menyiratkan emosi.



"Kakak belum bisa banyak bertanya pada Putri dan Dira, soal nya mereka belum sadar terus kata dokter Mery jangan dulu banyak bertanya selama kondisi nya belum benar-benar pulih." jawab Farel.



"Terus Byan dimana? Kata orang tua nya Byan juga ngga ada pulang sampai sekarang." tanya Fadil.



"Byan sudah ada di sini, semalam selagi dia mencari mereka kakak hubungi." jawab Farel.



"Ya sudah kasih alamat nya, nanti bapak bersama orang tua Dira menuju kesana." ucap Fadil.


__ADS_1


"Iya pah, sekarang kakak share lock." jawab Farel lalu memutuskan panggilan nya.


__ADS_2