
Kini keluarga Andre, keluarga Fadil dan keluarga Raka sedang berkumpul di taman samping rumah Raka termasuk Farel, mereka sedang menunggu Byan yang mereka utus untuk bertanya siapa pelaku nya yang sudah membuat anak-anak mereka luka lebam hingga pingsan itu.
Sedangkan Byan, Galih dan Glen sedang bersama Putri dan Dira di ruang keluarga, mereka ingin mendengar cerita tentang penganiaayaan yang sudah mereka alami.
"Kak gimana awal nya kak Dira dan kak Putri bisa ada yang menganiaya? Memang nya kalian berdua pada punya musuh?" tanya Glen.
Awal nya ngga ada yang berani bertanya karena takut mereka ngga akan bercerita dan malah ketakutan efek penganiayaan tersebut, tapi Glen orang nya memang ngga suka basa basi jadi dia tanpa memikirkan apapun langsung saja bertanya.
Byan dan Galih saling menatap kaget dengan pertanyaan Glen yang to the point itu.
Putri dan Dira pun saling menatap sambil berpegangan tangan, seakan-akan mereka saling memberikan kekuatan untuk menceritakan pengalaman buruk mereka.
"Ngga usah takut, ada kita di sini, kalau kalian berdua belum siap untuk bercerita ngga apa-apa." ucap Byan yang melihat wajah ketakutan pada wajah istri dan adik nya itu.
"Tenang saja kak, kita berdua sudah siap kok." ucap Putri.
"Awal nya kita mau pulang karena acara kampus sudah selesai, tapi begitu kita mau menghubungi kakak, ternyata ponsel kita berdua mati, lalu kita berdua memutuskan untuk naik taxi saja dan menunggu di seberang kampus." ucap Dira sambil menahan rasa takut nya, dia kembali terbayang akan momen dimana dirinya di pukuli dan di jambak oleh Cintya dan teman-teman nya.
"Ini kak minum dulu." ucap Galih sambil memberikan segelas air putih, Dira pun menerima nya lalu menghabis kan nya sekali tenggakan saja.
"Lalu datang kak Cintya bersama teman-teman nya menawarkan tumpangan pada kita berdua, awal nya kita menolak tapi karena memang hari sudah malam dan juga ngga ada taxi yang lewat, akhir nya kita berdua ikut dan masuk ke dalam mobil kak Cintya." Putri pun melanjutkan cerita nya.
"Cintya? Cintya yang naksir Nathan itu?" tanya Byan sambil berpikir.
"Iya kak." jawab Dira dengan wajah sedikit cemburu.
"Siapa saja yang ada di dalam mobil itu?" tanya Byan, dia ingin mengorek masalah ini dengan jelas dan ngga mau salah orang, maka tanpa sepengetahuan mereka berempat, diam-diam Byan merekam semua pembicaraan ini.
"Kak Cintya, Kak Resi, kak Dela dan kak Caca." jawab Putri.
"Terus apa yang mereka lakukan, hingga kalian berdua luka lebam bahkan sampai pingsan seperti ini?" tanya Byan.
"Awal nya mereka bilang mau mengantar kita pulang, tapi ternyata kita di bawa ke arah jalan yang berbeda, dan di tempat sepi kita di suruh turun lalu kita di pukuli, di tampar, di jambak bahkan kita berdua di tendang nya, setelah itu kita sudah ngga ingat apa-apa lagi, dan tahu-tahu kita berdua sudah berada di dalam kamar tamu nya kak Fani." ucap Dira dengan gemetar dan keringat yang bercucuran di kening nya.
__ADS_1
"Tenang dek, ada kakak, ada Glen dan juga Galih, kita akan menjaga kalian, kita ngga akan membiarkan ada orang lagi yang menyakiti kalian." ucap Byan sambil memeluk erat Dira dan Putri.
Glen dan Galih pun menghampiri mereka bertiga lalu memeluk nya sampai Dira dan Putri kembali tenang.
"Ya sudah sekarang kalian berdua istirahat saja ya di kamar." ucap Byan.
"Tapi aku istirahat nya di kamar kak Dira ya kak." ucap Putri.
"Ya sudah untuk saat ini kakak izinin, tapi kalau sudah sembuh ngga ada tidur di kamar adek." ucap Byan.
"Huh mulai bucin ternyata." ucap Glen.
"Biarin saja, bocil mah minggir ini urusan orang dewasa." ucap Byan.
"Sudah lah kak, kalian ini selalu saja berdebat." ucap Dira.
"Kita lihat saja Glen, sebentar lagi ada yang nambah ikut bucin?" ucap Galih.
"Siapa memang nya?" tanya Glen.
"Kalian berdua itu memang dasar si pencari ribut, sudah lah kakak ipar ayo kita ke kamar." ajak Dira.
"CIe yang di panggil kakak ipar." ucap Glen dan Galih bersamaan.
"Sudah lah ucapan bocil jangan di dengar, sekarang kalian ke kamar saja, nanti waktu nya makan malam kakak panggil." ucap Byan.
"Iya kak," jawab Putri dan Dira lalu pergi ke kamar nya meninggalkan Byan, Galih dan Glen.
"Kalau gitu kita ke taman sekarang, semua cerita dari Putri dan Dira sudah kakak rekam." ucap Byan.
"Kapan merekam nya kak? Kok ngga kelihatan?" tanya Galih.
"Masa mau merekam harus bilang-bilang dulu ke kalian berdua? yang ada nanti Putri dan Dira tahu lagi di rekam, kalian kan mulut nya ember." ucap Byan sambil berdiri.
__ADS_1
"Tunggu kak, kita berdua ikut." ucap Glen yang ikut berdiri.
"Ya sudah ayo, biar kak Farel segera bertindak." ucap Byan lalu melangkah menuju taman di ikuti Glen dan Galih.
Sementara Ayu, Nisa dan Siska sedang membuat cemilan di dapur di bantu bibi pelayan.
"Eh kita berasa reunian ya? tapi sayang kurang satu." ucap Nisa.
"Iya ya? Coba kalau ada Dewi tambah seru kita." ucap Siska.
"Gimana kabar nya tuh anak ya sekarang." ucap Ayu.
"Entahlah tuh anak kalau di hubungi juga suka susah, padahal cuma mau tanya kabar saja." ucap Nisa.
"Seperti nya dia ganti no deh, soalnya susah banget di hubungi via mana pun." ucap Siska.
"Kita do\*a kan saja dia dalam keadaan baik, sehat dan bahagia." ucap Ayu.
"Aamiin ya robbal alamin." jawab Nisa dan Siska bersamaan.
"Kue buatan Ayu ngga berubah ya rasa nya, masih enak seperti dulu." ucap Nisa.
"Dia mah jago nya kalau buat kue, tapi aku yakin yang jago diatas ranjang dengan gaya-gaya yang unik pasti lo NIs." ucap Siska.
"Ngga juga lah, kamu ini ada-ada saja, mana bisa aku melakukan gaya-gaya unik." ucap Nisa.
"Aku yakin apa yang dikatakan Siska benar ada nya, kan waktu awal aku melakukan nya sama mas Raka semua itu ajaran dari kamu Nis." ucap Ayu sambil tersenyum.
"Gila lo Yu, masih ingat aja dengan semua itu, semenjak aku menikah dengan kak Fadil aku ngga pernah koleksi film begitu lagi, semua koleksi aku pun sudah ku hapus semua nya." ucap Nisa.
"Iya lah pasti di hapus, karena sekarang dia kan sudah menjadi suhu nya." ucap Siska sambil tertawa.
"Sudah ah jangan di bahas lagi, sekarang mending kita bawa kue-kue ini ke taman." ucap Ayu.
__ADS_1
"Ayo, kita temui kekasih halal kita masing-masing." ucap Nisa, Siska dan Ayu pun tersenyum lalu pergi ke taman.