Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Pingsan


__ADS_3

Acara pun selesai dan mereka siap-siap untuk pulang.



"Kak Dira tolong hubungi kak Byan, ponsel ku mati." ucap Putri.



"Oke kak." jawab Dira sambil ngambil ponsel di dalam tas nya.



"Ya ampun Put, ponsel kakak juga mati, kakak lupa tadi ngga di isi dulu, gimana dong?" ucap Dira sambil memperlihatkan ponsel nya.



"Ya sudah kalau gitu kita pulang naik taxi saja lah." ucap Putri sambil mengambil tas dan buku yang ada di meja kuliah nya.



"Ya sudah ayo lah, aku mah ngikut aja sama kakak ipar." ucap Dira dengan suara pelan.



"Ini di kampus kak." ucap Putri sambil melirik ke arah teman-teman yang lain nya, dia takut ada yang mendengar nya.



Dira hanya tersenyum melihat wajah Putri yang sedikit kesal.



Mereka berdua berjalan menyusuri tiap kelas dan akhir nya kini mereka sudah berada di depan kampus.



"Itu mereka, ayo kita samperin buruan sebelum ada yang melihat." ucap Caca sambil nunjuk ke arah Putri dan Dira yang sedang berdiri nunggu taxi.



"Oke, siap-siap ya." ucap Cintya lalu melajukan mobil nya ke arah Putri dan Dira.



"Hai, kalian mau pulang ya?" tanya Cintya dengan wajah so baik nya.



"Hai juga kak, iya kita mau pulang." jawab Putri.



"Bareng kita aja ayo, kita juga sekalian mau pulang kok." ajak Cintya.



"Ngga kak terimakasih, kita naik taxi saja." jawab Dira.



"Ngga apa-apa ayo naik, cukup kok untuk kalian berdua, lagian malam-malam begini taxi jarang ada yang lewat." ucap Dela.



"Gimana kak?' tanya Putri.



"Ya sudah kita ikut mereka saja, emang benar yang dikatakan kak Caca kalau taxi susah kalau udah malam begini." jawab Dira.



Selagi Putri dan Dira lagi berdiskusi, mereka berempat saling ngasih kode lewat mata mereka.



"Sudah naik saja, nanti kita antarkan kalian sampai rumah kok." teriak Caca.



"Apa ngga ngerepotin kakak semua nya?" tanya Putri.



"Ngga, lagian daripada kalian nunggu taxi kan lama." ucap Dela.

__ADS_1



"Kalau begitu kami ikut ya kak, makasih atas tumpangan nya." ucap Putri dan Dira lalu masuk ke dalam mobil mereka.



Cintya pun melajukan mobil nya dengan sedikit kencang dan melewati jalur yang berbeda.



"Kak ini bukan jalan ke arah rumah kita, kakak salah jalan." ucap Dira sambil terus melihat ke arah jalanan yang di lalui mereka.



"Sebentar kakak ada perlu dulu ke rumah teman." jawab Cintya.



Mereka berempat sudah menyungging kan senyuman di bibir nya , karena sebentar lagi mereka akan meluapkan amarah nya kepada Putri dan Dira.



Tiba di suatu tempat yang sepi, gelap dan juga sedikit jauh dari pemukiman warga Cintya menghentikan mobil nya.



Cintya dan Dela yang duduk di kursi depan turun duluan dari mobil lalu membuka pintu belakang.



"Turun kalian." teriak Dela sambil menarik kasar tangan Putri.



"Kenapa kakak nyuruh kita turun di sini?" tanya Putri dengan sedikit takut karena suasana di sana gelap dan sepi, hanya lampu jalanan yang menyinari tempat itu.



"Sudah kalian turun saja." ucap Caca sambil mendorong mereka dari dalam mobil.



Kini mereka pun sudah keluar dari dalam mobil semua nya.




"Kenapa kakak menampar aku." teriak Putri sambil menyentuh pipi nya yang terasa panas akibat tamparan dari Dela.



"Kamu kan yang telah membuat Sandi jadi babak belur." teriak Cintya sambil kembali menampar Putri.



"Sudah cukup." teriak Dira sambil mendorong tubuh Dela hingga terjatuh ke jalanan.



"Diam kamu, kamu juga kenapa mendekati Nathan, Nathan itu milik aku, ngga ada seorang pun yang boleh mendekati Nathan, ingat itu." teriak Cintya sambil menarik tangan Dira.



"Aku ngga mendekati kak Nathan, tapi kak Nathan sendiri yang mendekati aku." ucap Dira.



"Jangan banyak alasan kamu, Res, pegangin dia." teriak Cintya, Resi pun memegang kedua tangan Dira dan di letakan di belakang tubuh Dira.



"Plak." Cintya pun menampar Dira.



"Ini buat kamu yang malam minggu kemarin memeluk Nathan di cafe." teriak Cintya.



"Plak." Cintya pun kembali menampar pipi Dira yang sebelah nya lagi.



"Ini buat kamu yang sudah memeluk Nathan siang tadi di kampus." kembali Cintya berteriak.

__ADS_1



"Kak Dira, sudah cukup, kalian semua jahat." teriak Putri sambil menangis.



"Diam kamu, Plak." Dela kembali menampar Putri.



"Kamu juga sama saja, dasar kalian anak baru yang ngga tahu diri." teriak Dela.



"Rasakan ini, tadi pagi kalian berdua turun dari mobil nya Byan, kalian juga mendekati Byan kan? Asal kalian tahu Byan milik aku seorang." teriak Caca sambil menjambak rambut Putri.



Putri dan Dira hanya pasrah dan cuma bisa menangis dengan semua yang mereka lakukan, dan hanya bisa berharap ada seseorang yang menolong mereka.



Cintya, Caca, Dela dan Resi terus menyiksa Putri dan Dira tanpa henti, mereka menjambak menampar bahkan memukul kepala dan perut Putri dan Dira sampai Putri dan Dira terluka dan mengeluarkan cairan berwarna merah di sudut bibir nya.



Putri dan Dira sudah ngga tahan dengan semua siksaan yang di berikan mereka berempat, di tambah mereka belum makan lagi semenjak makan siang di kantin kampus tadi, hingga akhir nya.mereka berdua jatuh pingsan.



"Sudah cukup, bisa mati mereka kalau dilanjutkan." teriak Caca.



"Guys mereka pingsan." teriak Reni.



"Sudah cepat ayo kita pergi dari sini." teriak Caca sambil masuk ke mobil nya Cintya.



"Rasain kalian berdua." teriak Dela sambil kembali melayangkan pukulan nya kepada Putri yang sudah tidak berdaya.



"Del sudah, ayo kita cabut dari sini sebelum ada yang melihat nya." teriak Cintya sambil menarik tangan Dela.



Mereka berempat pun berlari dan masuk ke dalam mobil dengan nafas yang memburu.



"Cepat Cin, sebelum ada yang datang." teriak mereka sambil menutup pintu mobil nya.



Cintya pun melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Putri dan Dira yang sedang terkapar di pinggi jalan.



"Masya Allah, mereka kenapa? Pak tolong berhenti di depan, seperti nya ada orang yang pingsan." teriak Fani pada sopir nya.



Fani baru pulang dari rumah pasien bersama dokter senior nya, tapi karena mereka beda arah jadi Fani pulang bersama sopir pribadi nya.



Fani pun turun dari mobil lalu menghampiri Putri dan Dira yang tergeletak di atas trotoar jalan.



"Mbak, bangun mbak." ucap Fani sambil mengecek nadi dan nafas mereka berdua.



"Masih hidup." gumam Fani.



"Pak, tolong angkat mereka ke mobil." teriak Fani pada sopir nya.


__ADS_1


"Baik non." jawab pak sopir, lalu mengangkat Putri dan Dira secara bergantian dan memasukan nya ke dalam mobil.


__ADS_2