
"Om, tante, kak Zila dan juga adik Rania, saya pulang ya, soalnya takut kemalaman." ucap Dira.
"Ngga makan malam dulu di sini?" tanya Ara.
"Makasih tante, saya makan di rumah saja nanti." jawab Dira.
"Ya sudah sampai kan salam kita kepada orang tua kamu ya nak." ucap Anggar.
"Baik om, nanti saya sampaikan." jawab Dira.
"Kamu mau antar pakai apa dek?" tanya Zila.
"Pakai motor kak." jawab Nathan.
"Pakai mobil dek, ini udah malam, nanti masuk angin lo." ucap Zila.
"Enak pakai motor kak, cepet." jawab Nathan.
"Nak, benar kata kakak kamu, nanti kalau Dira masuk angin gimana?" ucap Ara.
"Ngga apa-apa tante, Dira udah biasa kok." ucap Dira.
"Ya sudah pakai motor saja, tapi kamu pakaikan jaket kamu ke Dira." ucap Anggar yang mengerti dengan apa yang di rasakan oleh anak nya.
"Kamu tunggu dulu ya, aku bawa jaket aku dulu." ucap Nathan dan langsung berlari ke kamar nya.
"Kakak ngga bawa jaket, pakai punya Nathan aja ngga apa-apa kan Dir?" tanya Zila.
"Ngga apa-apa kak." jawab Dira sambil tersenyum.
"Kak Dira kapan-kapan kakak nginap ya di sini?" tanya Nia.
"Insya Allah dek." jawab Dira.
"Tunggu beberapa bulan lagi dek, nanti kak Dira tinggal di sini kok." jawab Nathan sambil tersenyum dengan jaket di tangan nya.
Dira hanya menatap tajam ke arah Nathan, yang di tatap hanya mesem-mesem tanpa dosa.
"Beneran kak?" tanya Nia.
"Insya Allah ya dek." jawab Dira.
Semua nya pun tersenyum melihat keakraban Dira di rumah ini.
"Ya sudah ayo keburu malam." ajak Nathan.
"Dira permisi ya om, tante, kak Zila, adik." ucap Dira sambil mencium telapak tangan mereka satu per satu, kecuali sama Nia tangan nya sendiri yang di cium.
"Hati-hati nak." ucap Ayu.
"Iya mah." ucap Nathan lalu menyalakan dan melajukan motor nya.
__ADS_1
"Anak kita bisa juga ya romantis sama perempuan." ucap Ara.
"Dia kan diajarin ma kakak mah." ucap Zila.
"Oh pantes saja dia bisa romantis begitu." jawab Ara.
"Non, maaf mengganggu, non Dila nya nangis ingin ke non Zila." ucap pelayan Anggar.
"Oh iya bi, sini nak sama mamah." ucap Zila sambil mengambil Dila dari pangkuan bibi pelayan nya.
"Kita main di ruang keluarga yu." ajak Nia.
"Ya udah ayo kita main di sana." ucap Zila sambil melangkah ke ruang keluarga di ikuti oleh Nia.
Anggar dan Ara pun masuk ke dalam kamar mereka.
"Mudah-mudah han ngga hujan, kalau hujan kasihan mereka." ucap Ara sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Itu malah yang di harapkan seorang laki-laki mah." ucap Anggar.
"Maksud papah?" tanya Ara.
"Ni ya mah dengerin papah, seorang pria bonceng seorang perempuan di motor apalagi di tambah hujan deras, itu menambah keromantisan karena si perempuan pasti akan memeluk erat kita para pria." jawab Anggar sambil tersenyum.
"Oh, jadi papah suka banget ya kalau ada perempuan yang suka nemplok di punggung papah, pantas saja akhir-akhir ini suka banget jalan ke mini market depan naik motor, apa jangan-jangan suka ada yang papah bonceng?" tanya Ara penuh curiga.
"Ngga percaya." ucap Ara dengan bibir yang cemberut.
"Bener sayang, kalau begitu nanti kita coba jalan-jalan pakai motor ya? Biar mamah juga merasakan sensasi nya." ucap Anggar sambil memeluk Ara dari samping lalu mencium gemas pipi Ara.
"Kapan papah ada waktu buat mamah, sekali nya libur juga malah asik di ruang kerja." ucap Ara.
"Iya sayang, minggu besok papah ajak kamu jalan-jalan pakai motor, tapi malam ini ajak papah jalan-jalan ke jalan kenikmatan ya." ucap Anggar lalu mencium leher Ara.
"Ngajak jalan-jalan saja pakai harus ada imbalan nya." ucap Ara sambil cemberut.
"Ayo lah sayang, ya? Kan aku udah lama ngga di kasih jatah." ucap Anggar.yang terus-terusan merayu Ara.
"Mah, pah, ayo kita makan malam dulu." teriak Nia.
"Iya nak." jawab Ara.
"Ganggu aja sih adek." ucap Anggar.
"Ya sudah pah, ayo kita makan dulu." ajak Ara.
"Tapi nanti dua ronde ya." ucap Anggar.
"Kita lihat nanti saja, sekarang buruan kita keluar, biar mereka ngga nunggu lama." ucap Ara.
__ADS_1
"Iya deh ayo." ucap Anggar, lalu mereka pergi ke ruang makan.
*
*
"Pegangan yang erat Yang." teriak Nathan.
Dira pun memeluk pinggang Nathan dengan erat sambil tersenyum.
"Ah kenapa aku bisa nyaman begini sih meluk kak Nathan." gumam bathin Dira sambil tersenyum di punggung Nathan.
"Ah jadi ingin segera halalin kamu deh Yang." gumam bathin Nathan sambil fokus mengendarai motor nya.
Mereka berdua pun menikmati perjalanan di malam itu, tidak ada kata dingin buat mereka, yang ada mereka saling memberikan kehangatan lewat pelukan dari Dira.
Tanpa terasa motor Nathan sudah berada di halaman depan rumah Raka.
Dira seolah-olah enggan untuk turun, dia masih terdiam sambil menyenderkan kepala nya di punggung Nathan.
"Sayang, kamu betah ya meluk aku?" tanya Nathan sambil mengelus tangan Dira yang masih melingkar di pinggang nya.
"Eh, sudah sampai ya kak?" Dira pun kaget dan spontan melepaskan pelukan nya dari pinggang Nathan.
"Kalau masih betah peluk lagi aja ngga apa-apa kok." ucap Nathan.
"Itu mah mau nya kakak saja." ucap Dira sambil turun dari motor nya Nathan.
"Sayang, aku ngga mampir ya? Soalnya takut keburu hujan." ucap Nathan sambil melihat ke arah langit.
"Iya ngga apa-apa, kamu hati-hati di jalan ya sayang." ucap Dira.
"Salam saja sama papah dan mertua aku." ucap Nathan sambil membuka helm yang di pakai Dira.
"Iya nanti aku sampaikan." jawab Dira.
"Kiss dulu dong Yang, masa hari ini ngga dapat jatah." ucap Nathan sambil menyentuh bibir nya.
"Ngga ah, nanti di lihat papah sama mamah lagi." ucap Dira sambil melihat ke arah pintu rumah nya.
"Mereka ngga bakalan lihat sayang, kan mereka ada di dalam, paling yang lihat satpam kamu aja." ucap Nathan,
"Ya sudah tapi di pipi saja ya." ucap Dira.
"Iya deh ngga apa-apa, yang penting dapat kiss aja malam ini." ucap Nathan sambil tersenyum penuh arti.
Dira pun mendekat kan bibir nya ke arah pipi Nathan, dengan sigap Nathan membalikan wajah nya sehingga bibir Dira mengenai bibir nya.
"Sayang is kamu ini." teriak Dira setelah melepaskan ciuman nya.
Nathan hanya tersenyum lalu menyalakan kembali motor nya.
"Mimpiin aku ya sayang, bye." ucap Nathan lalu melajukan motor nya.
__ADS_1
Dira pun melambaikan tangan nya dengan bibir tersenyum.