Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Keyakinan Hati Fani


__ADS_3

"Sayang aku tanya sama kamu, apa kamu sudah merasa nyaman dengan aku?" tanya Farel.



"Aku sudah nyaman dan merasa cocok kok sama kamu." jawab Fani sambil tersenyum.



"Kalau begitu bagaimana kalau minggu depan saja aku lamar kamu." ajak Farel.



"Bagaimana ya?" Fani mulai menggoda Farel.



"Kamu itu ya Yang, selalu saja mau ngerjain aku." ucap Farel yang sudah paham dengan karakter Fani.



Farel pun menggelitik pinggang Fani hingga membuat Fani tertawa terbahak-bahak.



"Ampun mas, ampun, aku ngga lagi-lagi deh ngerjain kamu." ucap Fani sambil tertawa.



"Bener ya?" tanya Farel sambil menatap wajah cantik Fani.



"Iya, aku janji." jawab Fani sambil mengangkat dua jari nya keatas.



Farel pun menarik tangan Fani hingga Fani duduk di pangkuan nya.



"Kamu sangat cantik sekali kalau lagi tertawa lepas seperti itu." ucap Farel sambil mengibaskan rambut Fani kebelakang.



"Mas juga tampan kok." jawab Fani.



Mata mereka beradu pandang, terlihat sinaran cinta di mata kedua nya.



Farel pun memberanikan diri nya untuk mendekatkan wajah nya ke wajah Fani dan meraup bibir Fani sesuka hati nya.



Awal nya Fani hanya diam merasakan kehangatan bibir Farel, tapi lama kelamaan Fani pun membalas nya, sedangkan kedua tangan nya dia kalungkan ke leher Farel.



Ada getaran-getaran seperti aliran listrik di tubuh mereka hingga membuat mereka tidak mau melepaskan ciuman nya.



Semakin lama suhu tubuh mereka semakin panas dan ingin melakukan lebih, tapi Farel masih ingat kalau mereka belum resmi menikah, Farel pun menghentikan ciuman nya.



"Sudah cukup, nanti aku khilaf." ucap Farel sambil mengusap bibir Fani yang basah karena sudah bertukar saliva dengan nya.



Fani pun terdiam sambil mengatur nafas nya, lalu turun dari pangkuan Farel dengan wajah yang sedikit merah.



"Mau kemana?" tanya Farel sambil menahan tubuh Fani hingga Fani pun terduduk kembali di atas pangkuan Farel.



"Aku mau turun mas, nanti khilaf, kita kan belum sah." jawab Fani.



"Makanya mau ya aku halalin secepat nya?" tanya Farel lalu mencium pipi Fani dari samping.


__ADS_1


"Kalian sedang ngapain?" teriak dokter Mery yang baru pulang dari rumah sakit.



"Ibu."



"Ibu."



Terak mereka berdua serempak, dan Fani pun langsung turun dari pangkuan Farel.



"Ibu sudah pulang?" tanya Fani dengan wajah malu nya karena kepergok sedang duduk di atas pangkuan Farel.



"Kalau ibu ada di sini berarti sudah pulang, kenapa pertanyaan ibu tidak di jawab?" dokter Mery pun balik bertanya.



"Kita, kita ngga lagi ngapa-ngapain kok bu." jawab Fani.



"Sudah kalian duduk lagi, ibu mau tanya sama kalian berdua." ucap dokter Mery sambil duduk di depan mereka berdua.



Farel dan Mery menurut dan duduk sambil menunduk seperti orang yang kena gerebek oleh warga setempat.



"Ibu perhatikan kalian sudah sangat dekat sekali, apa kamu sudah memantap kan hati kamu nak?" tanya dokter Mery pada Fani anak nya.



"Insya Allah sudah bu." jawab Fani.



"Nak Farel apa kamu sudah siap untuk melamar anak saya?" tanya dokter Mery.




"Baiklah, kalau begitu ibu tunggu kedatangan keluarga kamu besok malam." ucap dokter Mery.



"Besok bu? kenapa ngga minggu depan saja?" tanya Fani.



"Tidak, awal nya ibu mau menuruti keinginan kamu untuk menerima lamaran Farel yang tinggal tiga minggu lagi, tapi setelah melihat apa yang kalian lakukan tadi ibu berubah pikiran." jawab dokter Mery.



Fani pun terdiam, dirinya kini pasrah karena memang yang dia dan Farel lakukan memang salah.



"Baiklah bu, kalau begitu saya pamit untuk membicarakan masalah ini kepada ayah dan ibu." ucap Farel.



"Iya nak, hati-hati di jalan." jawab dokter Mery sambil tersenyum.



Dokter Mery sebenar nya tidak mempermasalahkan dengan apa yang dilakukan oleh Fani anak nya, dia cuma menggertak Fani saja agar mau secepat nya menikah, karena selama ini Fani susah banget kalau di tanya masalah pernikahan.



"Kalau begitu Fani antar mas Farel ke depan ya bu." ucap Fani.



"Ya ibu juga mau masuk kamar istirahat." ucap dokter Mery lalu berdiri dan pergi dari ruang tamu.



"Ini semua gara-gara mas sih." ucap Fani dengan sedikit cemberut.

__ADS_1



"Kok gara-gara mas sih, kan kamu juga menikmatinya." ucap Farel.



"Mas, ih sudah ah jangan di bahas lagi." ucap Fani sedikit malu, karena memang Fani juga menikmati nya.



"Ya sudah kalau gitu mas pulang dulu ya? Jangan tidur terlalu malam, besok siang mas jemput kamu ke rumah sakit ya?" ucap Farel.



"Mau kemana memang nya?" tanya Fani.



"Kita cari cincin buat lamaran, kalau mas yang beli takut ngga pas ukuran nya." jawab Farel.



"Ya sudah besok pas jam makan siang aku free, jadi mas boleh jemput aku." ucap Fani.



"Siap tuan Putri, apapun yang kamu minta akan mas turuti." ucap Farel.



Fani pun hanya tersenyum melihat calon suami nya itu.



"Kiss dulu dong sayang, mas kan mau pulang." ucap Farel.



Fani pun mendekatkan wajah nya hendak mencium pipi Farel, tapi dengan gerakan cepat Farel membalikan wajah nya hingga yang kena bibir nya bukan pipi nya.



Fani pun kaget lalu sedikit menjauhkan wajah nya.



"Mas, ih kamu itu iseng banget deh, gimana kalau ibu melihat kita lagi." ucap Fani.



"Biarin saja, kan besok mas akan melamar kamu." jawab Farel.



"Tapi mas," kalimat Fani pun terhenti karena bibir nya sudah di bungkam oleh bibir Farel.



Farel pun mencium bibir Fani dengan lembut, Fani hanya diam saja karena dirinya takut kepergok sama ibu nya lagi.



Farel ngga mau Fani hanya diam saja saat dirinya mencium bibir Fani, Farel pun sedikit menggigit bibir Fani hingga Fani membuka bibir nya.



Farel tidak menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Fani, dirinya pun langsung mengabsen setiap deretan gigi Fani dengan penuh kelembutan, sehingga membuat Fani kembali terbuai dengan sentuhan bibir Farel.



"Sudah mas, nanti kamu ngga pulang-pulang, yang ada besok ngga ada lamaran tapi sudah sah karena malam ini kita kepergok warga." ucap Fani yang sudah melepaskan tautan bibir nya.



"Bagus dong kalau kepergok dan di nikahkan malam ini juga, jadi aku bisa tidur sambil meluk kamu." ucap Farel sambil tersenyum.



"Mau nya, sudah mas katanya mau pulang, nanti kemalaman dan akhir nya mas ngga ada waktu untuk bilang ke keluarga mas tentang acara besok." ucap Fani.



"Ya sudah kalau gitu mas pulang ya." ucap Farel lalu masuk ke dalam mobil nya.



"Dah mas, hati-hati ya." Fani pun melambaikan tangan nya sambil tersenyum dikala Farel mulai melajukan mobil nya meninggalkan kediaman Fani.

__ADS_1


__ADS_2