
"Eh kalian tahu ngga? Kalau anak baru sekarang lagi pada ada acara, dan pulang nya malam, gimana kalau kita lancarkan aksi kita nanti malam." ucap Cintya.
"Boleh, aku sudah gedek sama mereka berdua." ucap Caca.
"Sumpah ya, kalian tahu ngga Sandi ngga masuk karena apa?" tanya Dela.
"Kenapa emang nya?" tanya Cintya dan Caca bersamaan.
"Sandi babak belur di hajar Byan hanya karena si Putri anak baru itu." jawab Dela.
"Serius Del." teriak Cintya dan Caca.
"Ya, kemarin aku ke rumah nya, dan aku bersumpah akan membalas kan semua nya." ucap Dela dengan penuh emosi.
"Si Resi kemana Cin?" tanya Caca.
"Tadi sih ke toilet, emang kenapa? Tumben nanyain si Resi lo." jawab Cintya.
"Kan kita nanti di bagi dua, gue sama Caca kita bereskan si Putri, lo sama si Resi bereskan si Dira, gimana?" tanya Caca.
"Bagus juga ide lo, oke lah kalau begitu." jawab Cintya.
"Ya sudah sambil nunggu mereka pulang, gimana kalau kita jalan-jalan dulu sebentar." ucap Dela.
"Jalan-jalan kemana? kita di sini saja mantau mereka, kalau jalan-jalan nanti yang ada kita lupa lagi dengan misi kita." ucap Cintya.
"Benar apa yang di bilang Cintya, kita tunggu di sini saja." ucap Caca.
"Ya sudah kalau gitu kita di sini saja nunggu mereka keluar." ucap Dela.
"Sory ya aku agak lama dikit, soal nya tumben-tumbenan itu toilet antri, banyak mahasiswa baru, tumben kali mereka belum pada pulang." ucap Resi sambil duduk di antara mereka.
"Kan mahasiswa lagi ada acara jadi masih banyak mahasiswa baru yang berkeliaran di kampus." ucap Cintya.
"Oh pantas saja." jawab Resi.
Mereka berempat pun melanjutkan perbincangan tentang misi yang akan dilakukan mereka nanti malam terhadap Putri dan Dira.
__ADS_1
*
*
Pak Bagas pulang ke rumah dengan wajah kusut nya, dia turun dari mobil lalu memandang rumah besar nya yang sudah dia tempati bertahun tahun itu.
"Sudah hancur semua nya, mulai sekarang aku ngga akan tinggal di rumah ini lagi, ternyata sikap dan tingkah laku ku selama ini salah, aku terlalu terlena dengan dunia dan harta." gumam pak Bagas sambil berjalan masuk ke rumah nya.
"Lo, papah kok sudah pulang? Sandi nya mana pah?" tanya bu Rina sambil melihat ke arah mobil yang sedang terparkir di depan rumah nya.
Pak Bagas bukan nya menjawab semua pertanyaan istri nya, dia malah bertanya kembali, karena bu Rina seperti nya mau pergi keluar.
"Mamah mau pergi kemana? Sudah rapih begitu?" tanya pak Bagas sambil melihat istrinya dari atas sampai bawah.
"Mamah mau pergi arisan pah, biasa kumpul bareng ibu sosialita." jawab bu Rina sambil merapihkan baju mahal yang di pakai nya.
"Mulai sekarang mamah tidak boleh pergi dan berkumpul dengan ibu-ibu sosialita lagi." ucap pak Bagas.
"Tapi kenapa pah? Bukan nya papah tidak pernah melarang mamah dari dulu? Kenapa papah malah melarang mamah untuk pergi berkumpul bareng teman-tema mamah?" tanya bu Rina dengan wajah kesal nya.
"Sekarang mamah masuk dan beresin baju-baju semua nya kita pindah dari rumah ini." ucap pak Bagas.
"Pindah? Maksud papah apa?" teriak bu Rina dengan wajah kaget nya.
"Apa hubungan nya dengan Sandi? dan juga yang memanjakan Sandi bukan hanya mamah, tapi papah juga kan memanjakan nya." ucap bu Rina.
"Ya kita memang sudah salah telah memanjakan Sandi hingga kita sekarang semua nya terkena dampak nya." ucap pak Bagas.
"Pah, bisa papah jelaskan apa hubungan nya Sandi dengan semua ini?" tanya bu Rina dengan tubuh yang sudah lemas lalu dia pun terduduk di sofa.
"Ternyata anak yang Sandi laporkan, dia adalah anak nya pak Raka yang mempunyai perusahaan terbesar di kota ini, dan dia adalah orang yang paling kaya di kota ini dan yang mempunyai saham terbesar di perusahaan kita." jawaban dari pak Bagas membuat seluruh tubuh bu Rina seketika lemas dan akhirnya bu Rina jatuh pingsan.
"Apa pah, berarti kalau gitu Sandi tidak akan bebas." teriak bu Rina dan langsung terjatuh pingsan keatas sofa.
"Mah bangun mah, mamah harus kuat." ucap pak Bagas sambil menepuk-nepuk pelan pipi nya.
"Pakai ini tuan." ucap pelayan di rumah itu sambil memberikan minyak kayu putih.
"Pak Bagas pun mengambil minyak kayu putih dari tangan pelayan nya lalu menggosok kan nya tepat di hidung nya bu Rina.
__ADS_1
Bu Rina pun mulai tersadar dan mengerjapkan kedua mata nya.
"Nyonya minum dulu." ucap pelayan sambil memberikan segelas minuman kepada pak Bagas.
"Minum mah." ucap pak Bagas sambil menempelkan gelas di bibir istri nya.
"Pah, apa semua nya itu benar? Atau cuma mimpi mamah saja?" tanya bu Rina dengan deraian air mata nya.
"Iya mah, mamah yang sabar ya, kita mulai dari nol lagi." jawab pak Bagas.
"Terus kita mau tinggal dimana pah?" tanya bu Rina.
"Kita tinggal di rumah kakek nya Sandi, kita terima saja mah, karena ini juga kesalahan kita semua." ucap pak Bagas.
"Bi, tolong panggilkan yang lain nya kesini, ada yang ingin saya sampaikan pada kalian semua." ucap pak Bagas.
"Baik tuan." ucap nya sambil pergi memanggil semua para pekerja yang ada di rumah pak Bagas.
"Mau apa papah ngumpulin mereka?" tanya bu Rina dengan wajah sedih nya.
"Kita kan mau pindah mah, jadi mereka juga di pulangkan, karena kita ngga bakalan bisa menggaji mereka ke depan nya." jawab pak Bagas sambil menyiapkan amplop buat semua pekerja nya.
"Tuan, apa tuan memanggil saya?"tanya sang sopir.
"Iya, apa semua nya sudah kumpul?" tanya pak Bagas.
"Sudah tuan, kami semua nya sudah kumpul." jawab penjaga taman.
"Baiklah kalian sudah kumpul di sini, jadi saya langsung saja ya, ini gaji terakhir kalian semua nya, kami minta maaf apabila selama kalian tinggal dan bekerja di rumah ini ada perilaku kami yang membuat kalian sakit hati." ucap pak Bagas sambil membagikan amplop ke masing-masing pekerja nya.
"Jadi kita semua di pecat tuan?" tanya seorang pelayan.
"Sebenar nya saya juga ngga mau memecat kalian, tapi saya sekarang sudah bangkrut dan ke depan nya saya takut ngga bisa membayar kalian, dan saya juga mau meninggalkan rumah ini." jawab pak Bagas.
Para pekerja di rumah pak Bagas pun terdiam, mereka hanya bisa pasrah lalu satu persatu meninggalkan rumah pak Bagas.
__ADS_1
Setelah semua pekerja sudah di kasih gaji terakhir, pak Bagas dan bu Rina membereskan semua barang-barang yang akan di bawa nya