Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Bukti


__ADS_3

Sandi dan kedua orang tua nya pun kini sudah berada di kantor polisi untuk memenuhi panggilan nya, walaupun ada sedikit drama dari Sandi.



"Bisa di jelaskan pak polisi kenapa anak saya yang malah di tangkap, Sedangkan anak saya kan yang menjadi korban nya? Apa bapak berdua lupa siapa saya?" tanya pak Bagas.



"Baik, sebelum saya memberikan penjelasan kepada anda, sebaik nya anak anda sendiri yang menjelaskan nya, dan untuk bapak, kami berdua sangat ingat dengan siapa kami berdua berbicara, jadi ngga perlu juga bapak mengingatkan kami tentang bapak, tapi kami di sini hanya menjalankan tugas, dan mencari kebenaran." jawab Farel yang kesal dengan sikap sombong nya pak Bagas.



"Bagaimana saudara Sandi, apa anda sudah siap menjelaskan dengan jujur apa yang telah anda lakukan terhadap Putri?" tanya pak Rizal.



"Saya ngga melakukan apa-apa sama Putri, karena saya sayang sama Putri jadi ngga mungkin saya melakukan perbuatan jahat kepada nya." jawab Sandi mengelak.



"Tapi kami tadi siang mendapatkan laporan langsung dari saudari Putri atas perlakuan anda kepada nya malam kemarin? apa anda akan mengelak lagi?" tanya Rizal dengan tatapan tajam nya.



"Semua yang dilaporkan Putri pasti salah, kita itu saling mencintai dan kalau sekedar ciuman itu kita lakukan atas dasar suka sama suka, jadi apa salah nya." jawab Sandi yang masih mengelak dan berlaga sombong.



"Anda dengar kan pak polisi? Anak saya ngga salah, wanita itu saja yang salah, dia sudah menjebak kamu sayang, dia pasti hanya ingin harta kamu saja." ucap Bu Rina dengan wajah sinis nya.



"Sudah lah pak, ini kan cuma urusan anak muda yang saling mencintai, lagian kan wajar kalau sekedar ciuman saja, urusan wanita itu biar saya yang urus, paling juga dia wanita matre yang ingin memanfaatkan anak saya saja." ucap pak Bagas.



"Bugh." Farel dengan penuh amarah memukul meja dengan sangat keras hingga tangan nya merah dan berdarah.



"Jangan asal bicara kalian, kalian belum tahu siapa wanita yang kalian hina barusan." ucap Farel dengan mata yang sudah merah menahan amarah nya.



"Kenapa bapak yang marah? Apa dia wanita yang pernah tidur sama bapak juga? Berarti dia cuma pura-pura polos dong depan saya." ucap Sandi sambil tersenyum mengejek.



"Bugh." Farel melayangkan sebuah pukulan yang sangat keras ke wajah nya Sandi.



"Lancang sekali mulut kamu, asal kamu tahu dia adalah adik saya." teriak Farel sambil kembali melayangkan tangan nya.



"Sudah pak Farel, kita usut sampai tuntas saja, hinaan yang barusan mereka lontarkan kita masukan ke dalam laporan saja." ucap pak Rizal sambil menahan tangan Farel.


__ADS_1


"Apa!" Teriak mereka bertiga sambil saling menatap.



"Maaf kan kami pak, kami tadi hanya asal bicara saja, bukan maksud kami ingin menghina adik bapak." ucap bu Rina.



"Pak Rizal masukan semua perkataan nya kedalam laporan." ucap Farel tanpa mendengarkan ucapan maaf dari bu Rina.



"Sudah lah pak kita damai saja," ucap pak Bagas sambil memberikan amplop tebal yang berisikan uang puluhan juta.



"Maaf pak, kami tidak gila harta, lebih baik uang nya bapak gunakan untuk sewa pengacara buat di persidangan nanti." ucap pak Rizal, karena Farel lagi mengontrol emosi nya.



"Ayolah pak, kami cuma bilang gitu saja masa harus masuk ke persidangan segala." ucap Pak Bagas yang belum tahu permasalahan Sandi yang sebenar nya.



"Maaf pak, ucapan yang keluarga bapak barusan lontarkan itu laporan tambahan, karena laporan inti nya dari Putri yang menjadi korban." ucap pak Rizal.



"Terus bagaimana dengan Byan yang sudah menganiaya anak saya? Apa tidak di usut dan membiarkan dia berkeliaran di luar sana gitu?" tanya pak Bagas yang ngga mau kalah.



"Byan hanya berusaha menolong Putri dari anak bapak yang mau meleceh kan nya bahkan bisa dikatakan anak bapak mau memperkosa Putri." jawab pak Rizal.




"Ngga pah, Putri yang dengan suka rela mau menyerahkan nya." jawab Sandi berbohong.



"Kamu mau bicara jujur dengan sendiri nya atau saya yang akan membuat kamu terpaksa jujur?" tanya Farel yang sudah geram dengan Sandi.



"Begini saja pak, mungkin apa yang dilaporkan mereka hanya untuk menjebak anak saya, apalagi mereka tidak ada bukti yang akurat untuk kasus ini." ucap pak Bagas yang tetap ingin membebaskan Sandi.



"Oh, jadi menurut bapak mereka lapor tanpa bukti? Baik, saya akan memperlihatkan sebuah bukti kepada bapak." ucap Farel sambil memutar rekaman video yang di berikan Byan kepada nya siang tadi.



Di ruangan itu memang sudah disediakan televisi besar untuk melihat kan bukti rekaman video yang di berikan pelapor.



Video pun mulai di putar dan di sana terlihat jelas dari awal mereka duduk di cafe sampai memperlihatkan Sandi yang memasukan obat ke dalam minuman Putri hingga Putri merasakan kepanasan.

__ADS_1



"Bagaimana pak? Apa semua ini sudah jelas sebagai bukti untuk anda?" tanya pak Rizal.



"Bisa saja kan ini sebuah jebakan untuk anak saya." ucap pak Bagas.



"Sudah cukup, bapak bisa menjelaskan nya di persidangan nanti, pak Ben tolong masukan dia ke dalam penjara." ucap Farel yang sudah ngga tahan lagi mendengar ucapan sombong dan keras kepala dari pak Bagas.



"Pah, mah, tolong Sandi pah, Sandi ngga mau di tahan." teriak Sandi yang kini sedang di seret oleh pak Beni dan di masukan ke dalam penjara.



"Pah tolong Sandi pah." ucap bu Rina sambil menangis melihat anak nya di dalam penjara.



"Sudah lah mah, sekarang kita pulang dulu, besok kita temui pengacara kita untuk membebaskan nya." ucap pak Bagas sambil menarik tangan istri nya lalu pergi meninggalkan kantor polisi.



"Breng sek, ingin sekali aku menghabisi nya." teriak Farel dengan tangan yang masih mengeluarkan darah.



"Sabar pak Farel, anda jangan mengotori seragam anda hanya dengan orang sombong seperti mereka." ucap pak Rizal menenangkan Farel.



"Argh." Farel pun melampiaskan kekesalan nya dengan memukul dinding dengan keras hingga darah yang belum kering di tangan nya malah bertambah.



"Pak tangan anda terluka, sebentar saya panggilkan medis dulu." ucap pak Rizal yang langsung menghubungi dokter yang khusus untuk melayani mereka di kantor polisi.



"Dok, tolong ke kantor polisi sekarang juga ada anggota yang terluka." ucap pak Rizal.



"Maaf pak saya mau melakukan operasi, bagaimana kalau anak magang saja yang kesana, tapi dia sudah mahir kok saya jamin." jawab dokter.



"Iya ngga apa-apa dok yang penting sekarang langsung kesini." ucap pak Rizal.



Tidak berapa lama menunggu anak magang yang diutus dokter pun datang dengan peralatan yang ada di tangan nya.



"Anda."

__ADS_1



"Kamu."


__ADS_2