
"Ya ampun mas, selalu deh begini."teriak Putri.
"Apa sih yang, pagi-pagi sudah teriak-teriak." jawab Byan.
"Apa sih- apa sih, lihat ini, ini, dan ini, kenapa kamu bikin ini di sini? Kan aku sudah bilang bikin nya di dalam saja." teriak Putri sambil menunjuk area leher dan dada yang kini banyak sekali tato merah nya.
"Maaf Yang, ngga sengaja." ucap Byan sambil tersenyum.
"Ngga sengaja-ngga sengaja, alasan kamu itu." ucap Putri dengan wajah kesal nya.
"Permisi." ucap seseorang sambil mengetuk pintu nya.
"Ya sebentar." teria Putri lalu menghampiri dan membuka pintu kamar nya.
"Untung ada yang mau masuk, coba kalau ngga, makin merepet aja tuh." gumam bathin Byan sambil tersenyum, dirinya merasa terselamatkan oleh orang yang lagi ngetuk pintu kamar nya.
"Kak Dhea, silahkan masuk kak." ucap Putri.
"Dhea yang pandangan nya langsung ke bagian leher Putri hanya bisa tersenyum.
"Maaf saya sudah mengganggu, kalau begitu lanjutkan saja, nanti saya kembali lagi." ucap Dhea yang berpikir kalau Putri lagi bermesraan dengan suami nya.
Dhea datang atas permintaan Putri dan keluarga nya, keluarga Putri mempercayakan masalah make up kepada Dhea, karena mereka sudah melihat hasil nya pada saat pernikahan Farel.
Ya, hari ini adalah hari dimana akan dilaksanakan nya resepsi pernikahan antara Byan dan Putri.
"Ngga kok kak, ayo masuk, kakak sendirian?" tanya Putri.
"Biasa sama si kembar senior, tpi mereka lagi merias Fani dan yang lain nya." jawab Dhea.
"Oh iya, ya sudah kita juga bisa mulai sekarang kak." ucap Putri.
"Maaf mas, aku sudah lancang masuk dan mengganggu rutinitas kalian berdua." ucap Dhea.
"Ngga apa-apa mbak, ya sudah kalau gitu aku ke kamar nya kak Farel ya sayang." ucap Byan yang ngga mau mengganggu istri nya.
"Iya." jawab Putri dengan wajah kesal nya.
"Kok muka nya seperti lagi kesal begitu? harus nya kan hari ini bahagia." ucap Dhea setelah melihat Byan keluar dari kamar nya.
"Gimana ngga kesal coba mbak, lihat ini, ini , dan ini." ucap Putri sambil menunjuk ke area leher dan dada nya.
"Tenang saja, nanti mbak tutupi sama make up." jawab Dhea sambil tersenyum.
"Beneran bisa mbak?" tanya Putri.
"Bisa, serahkan semua nya sama mbak." jawab Dhea.
__ADS_1
"Syukur lah kalau mbak bisa menutupi nya, tadi nya aku bingung lo mbak, untuk menerima para tamu dalam keadaan seperti ini." ucap Putri.
"Ternyata suami kamu ahli bikin tato ya." ucap Dhea sambil merias wajah Putri.
"Bukan ahli mbak, tapi doyan kayak nya." ucap Putri.
"Semua pria sama kok." jawab Dhea sambil tersenyum, mengingat dirinya pun sering di buatkan tato oleh Glen suami nya.
"Pasti mbak nya ingat sama suami nya ya? Bibir nya tersenyum seperti itu." ucap Putri.
"Kamu ini." ucap Dhea.
"Dek, kamu sudah selesai belum?" tanya Fani yang sudah kelihatan cantik.
"Sebentar lagi." jawab Dhea.
"Kakak cantik sekali." ucap Putri.
"Kamu juga cantik dek."
"Mbak, kita udah selesai." ucap Nura dan Nuri yang baru masuk ke kamar Putri.
"Ya sudah, kalian duduk aja di situ." ucap Dhea sambil nunjuk ke arah sofa yang ada di kamar Putri.
*
*
"Kamu malin terlihat bersinar sayang." ucap Byan sambil menatap Putri istri nya.
"Kamu juga sangat tampan mas." Putri pun memuji balik suami nya.
"Yang, kok leher dan dada kamu bersih, tato yang aku buat semalam kemana?" tanya Byan.
"Diumpetin sama mbak Dhea, kalau ngga aku ngga akan duduk di sini sama kamu mas." jawab Putri.
"Ya maafin aku Yang, lagian kamu selalu membuat aku bergairah Yang." ucap Byan sambil tersenyum mesum.
"Sudah jangan bahas itu, nanti kalau tiba-tiba mau gimana?" tanya Putri.
"Ya tinggal masuk kamar saja Yang, selesai." jawab Byan santai.
"Kamu ini mas, sudah lah diam jangan bahas itu lagi." ucap Putri lalu mereka berdua pun fokus pada tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
Semakin siang para tamu pun sudah mulai berdatangan, dari para sahabat, kerabat dan klien dari kedua mempelai memenuhi ruangan pesta.
Keluarga Byan sudah nampak hadir, terlihat Dira yang sangat cantik dengan penampilan nya melihat ke arah pintu masuk.
__ADS_1
"Hayo nunggu siapa?" tanya Fani.
"Ekh mbak Fani, ini lagi nunggu kak Nathan." jawab Dira.
"Seperti nya habis ini kalian yang menikah." ucap Fani.
"Ngga tahu mbak, tapi memang keinginan kak Nathan dalam waktu dekat ini menikah, tapi kok aku merasa takut ya mbak." ucap Dira.
"Apa yang ditakutkan?" tanya Fani.
"Entahlah mbak, aku merasa takut nanti nya ngga sesuai dengan yang kita ingin kan."
"Dengar kan mbak, tidak ada yang harus ditakutkan dalam hidup ini, kamu cukup menjalani nya dengan penuh rasa syukur dan menikmati nya dengan penuh rasa bahagia, apalagi kalau kamu sudah merasa nyaman dengan Nathan, so, tunggu apa lagi." ucap Fani.
"Tapi sebenar nya aku ingin menyelesaikan kuliah dulu mbak." ucap Dira.
"Berjalan saja ikuti alur nya, mbak yakin kamu bisa mengatur waktu nya, kamu lihat mbak, mbak menjalani nya sambil kerja di rumah sakit, bahkan dalam waktu dekat ini mbak mau melanjutkan kuliah lagi." ucap Fani.
"Jadi mbak mau kuliah lagi?" tanya Dira.
"Iya, tapi belum bilang sama kak Farel, nanti nyari waktu yang tepat bilang nya, kalau salah waktu bisa-bisa yang ada kak Farel ngga bakal mengizinkan." ucap Fani.
"Mengizinkan apa?" tanya Farel yang sudah ada di belakang Fani.
"Itu mas, Dira ngajak aku main ke rumah nya, aku kan harus dapat izin dari kamu dulu." ucap Fani sambil mengedipkan sebelah mata nya kepada Dira.
"Ya kalau mau main ke rumah Dira main saja, tapi di saat kamu lbur." ucap Farel.
"Iya mas." jawab Fani.
"Ya sudah kita kesana dulu ya Dir." ucap Farel.
"Iya kak." jawab Dira sambil tersenyum.
"Sayang, maaf aku terlambat." ucap Nathan yang baru masuk ke ruangan pesta bersama keluarga nya.
Dira pun langsung membalikan tubuh nya menatap Nathan dan keluarga nya yang baru datang.
"Ngga apa-apa, om, tante, apa kabar?" ucap Dira lalu mencium telapak tangan Anggar dan Ara.
"Alhamdulilah baik, orang tua kamu dimana nak?" tanya Anggar.
"Itu om di sebelah sana." jawab Putri sambil menunjuk ke arah Raka dan Ayu yang sedang berkumpul satu meja dengan para kerabat nya.
"Baiklah, kalau begitu om dan tante kesana dulu ya." ucap Anggar.
"Iya om, tante, silahkan." jawab Dira.
__ADS_1