
"Mas, sakit." teriak Putri sambil mencengkeram erat tangan Byan.
Byan ikut meringis melihat Putri sedang kesakitan, bukan karena latah atau bagai mana, tapi Byan ikut meringis menahan rasa sakit dari cengkeraman istri nya, apalagi kuku Putri sampai melukai kulit nya hingga merah dan mengeluarkan cairan merah.
"Iya sayang sabar ya." ucap Byan berusaha menenangkan istri nya.
"Sus tolong istri saya song." teriak Byan.
"Iya pak sebentar ya pak, kan tadi sudah di periksa sama dokter jaga baru pembukaan tujuh, jadi kita tunggu dua pembukaan lagi." jawab suster jaga.
"Anda?" tanya dokter Mery begitu melihat Raka dan Ayu sedang duduk berdua di depan kamar bersalin.
"Bu dokter." ucap Raka dan Ayu bersamaan.
"Jadi yang mau melahirkan itu Putri?" tanya dokter Mery.
"Iya bu dokter, tolong bantu anak saya ya." ucap Ayu.
"Insya Allah saya bantu, ibu dan bapak jangan lupa bantu do*a nya ya, kalau begitu saya masuk dulu." ucap Dokter Mery lalu masuk ke dalam ruangan.
Dokter Mery memang sudah ngga terlalu sibuk di rumah sakit, tapi kalau ada yang menghubungi nya sebisa mungkin dokter Mery selalu datang dan membantu pasien.
Dokter Mery sedang terlelap tidur, tapi suara dering ponsel mengusik tidur nya, diri nya pun terbangun dan benar saja, rumah sakit membutuh kan jasa nya.
Dokter Mery terbilang dokter baik dan gesit, jadi dirinya selalu siap kapan pun mereka membutuhkan nya.
"Peralatan nya sudah di siapkan dok?" tanya dokter Mery pada suster yang dari tadi menemani Putri.
"Sudah dok."
"Mas, aku sudah ngga tahan." teriak Putri.
"Iya sayang, sabar, dokter, tolong istri saya dok." teriak Byan.
"Sebentar ya nak," ucap dokter Mery sambil memakai sarung tangan nya.
"Tolong di buka ya nak, kita lihat dulu, sudah waktunya apa belum." ucap dokter Mery.
Sambil menahan rasa sakit yang mendera nya, Putri mengikuti arahan dari dokter Mery.
Byan sangat amat tersiksa menahan cakaran dan pukulan dari Putri, Byan hanya bisa diam menahan rasa sakit atas kelakuan istri nya, bagaimana pun Byan sadar rasa sakit yang sedang dia rasakan tidak sesakit apa yang di rasakan istri nya.
"Oke nak, sekarang waktu nya adik bayi keluar, dia sudah ngga sabar ingin melihat para readers." ucap dokter Mery sambil tersenyum.
"Siap nak, ayo nak dorong nak." ucap dokter Mery.
__ADS_1
Putri pun mendorong nya lewat mengejan, satu kali, dua kali, Putri mengejan dan ketika ke tiga kali nya, lahir lah seorang bayi tampan yang mirip banget dengan Byan suami nya.
"Oek, oek." bayi tampan itu pun menangis dengan suara yang sangat kencang.
Sementara di luar ruangan, mereka sudah berkumpul dengan jantung berdebar menunggu kelahiran cucu pertama mereka.
"Belum lahir?" tanya Nisa yang baru datang.
Nisa dan Fadil datang langsung ke rumah sakit, begitu mendapat kabar dari Ayu.
"Belum Nis, tapi tadi dokter Mery sudah masuk kok." jawab Ayu.
"Semoga Putri melahirkan dengan selamat, tidak ada kendala apa pun." ucap Fadil.
"Aamiin,"
"Minum dulu, biar ngga terlalu tegang." ucap Dira sambil memberikan mereka masing-masing minuman kaleng.
Selagi mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, terdengarlah suara seorang bayi dengan begitu kencang nya.
"Nis, seperti nya Putri sudah melahirkan." teriak Ayu sambil memeluk erat Nisa.
Dira pun ikut masuk ke dalam pelukan Ayu, hingga mereka bertiga berpelukan sambil menangis bahagia.
Raka dan Fadil pun saling berpelukan dan tersenyum bahagia.
Sementara di dalam ruangan, Byan terus mencium seluruh wajah istri nya.
"Terima kasih sayang, terima kasih banyak, kamu sudah memberikan aku seorang bayi tampan." ucap Byan sambil terus mencium wajah istri nya.
Putri hanya diam sambil mengatur nafas nya dengan bibir tersenyum bahagia.
Dokter Mery pun menelungkupkan bayi yang baru lahir itu di atas dada Putri.
"Baju nya di buka sayang, biar dedek bayi nya kenalan dengan tempat makan dan minum nya." ucap dokter Mery.
"Tapi dok." ucap Putri sambil melihat ke arah sekitar.
"Ngga usah malu sayang, kita semua perempuan kok," ucap dokter Mery.
"Saya laki-laki dok." ucap Byan dengan konyol.
"Tapi kan kamu suami nya." ucap dokter.
Suster dan Putri pun tersenyum, "Kamu ini mas, ada-ada saja." ucap Putri sambil membuka baju bagian atas nya.
__ADS_1
"Sayang lucu ya, tampan lagi." ucap Byan sambil menatap anak nya yang baru lahir.
"Dia sekilas mirip kamu lo mas." ucap Putri.
"Kalau ngga mirip aku berarti bukan anak aku dong." ucap Byan.
"Geli nak," ucap Putri karena bayi nya sudah menemukan tempat minum nya.
"Nak, itu kesukaan papah, awas ya kamu." ucap Byan dan mendapat pukulan dari istri nya.
"Sakit Yang, sudahlah tadi sakit dipukul, di jambak bahkan kulit tangan aku berdarah karena kuku kamu yang tajam itu." ucap Byan.
"Ya ampun mas, mana coba aku lihat?" tanya Putri sambil meraih tangan Byan.
Begitu Putri melihat nya, ternyata benar kalau kulit tangan suami nya merah-merah plus berdarah.
"Maaf kan aku ya mas, aku ngga sengaja." ucap Putri lalu mencium tangan yang terluka karena diri nya.
"Ngga apa-apa Yang, sakit nya sudah tergantikan dengan kehadiran nya." ucap Byan sambil tersenyum menatap anak nya.
"Nak, ibu jahit ya? Soalnya robek sedikit." ucap dokter Mery.
"Kalau di jahit nanti gimana bu dokter?" tanya Byan.
"Tenang saja, ibu sisain sedikit kok." jawab dokter Mery.
"Kirain di jahit semua dok." ucap Byan.
"Mas, ih." ucap Putri sambil memukul bahu Byan.
Suster yang mendengar nya pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Sus tolong bayi nya di bersihkan, habis itu di adzanin ya nak." ucap dokter Mery.
"Baik dok." ucap suster lalu mengambil bayi dari atas dada Putri dan membersihkan nya.
"Alhamdulilah sudah selesai, sekarang kita pindahkan ke kamar rawat inap ya sayang, ibu juga sangat berharap kalau Fani cepat mengandung." ucap dokter Mery sambil membereskan peralatan nya.
"Sabar bu dokter, nanti juga kakak bakalan hamil kok." ucap Putri.
"Semoga secepat nya ya." ucap dokter Mery sambil tersenyum.
Dia berpikir jika nanti anak nya mau melahirkan apa dia sanggup untuk membantu nya, atau ikut khawatir seperti orang tua yang lain nya.
"Sering bersihkan ya nak, biar pas dedek bayi nya minum asi dalam kondisi bersih, oh iya asi nya sudah ada kan nak?" tanya dokter Mery.
__ADS_1
"Sudah dok Alhamdulilah." jawab Putri.
"Baiklah kalau begitu sekarang kita pindah ke ruang rawat inap ya." ucap dokter Mery.