Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Makan Bersama


__ADS_3

"Ya sudah kalau gitu papah keluar dulu." ucap Raka.



""Bapak juga keluar dulu ya bu." ucap Fadil.



"Aku juga ikut pah." ucap Byan.



"Ya sudah, kalau gitu kalian sama kita berdua saja." ucap Ayu.



"Yang aku keluar dulu sama papah dan bapak ya." ucap Byan.



Byan pun mengikuti langkah ayah dan ayah mertua nya setelah mendapatkan izin dari Putri istrinya.



"Bu, seperti nya kak Farel menyukai kak Fani lo." ucap Putri setelah para pria meninggalkan kamar itu.



"Beneran nak? Alhamdulilah kalau seperti itu, soalnya dia itu susah sekali membuka hati buat perempuan dengan alasan belum mau berumah tangga." jawab Nisa.



"Wah sebentar lagi kamu akan punya menantu lagi dong Nis?" tanya Ayu sambil melihat ke arah Nisa.



"Tante juga lo." ucap Putri sambil tersenyum penuh arti.



"Maksud kamu Put?" tanya Ayu.



"Nathan kan sedang PDKT sekarang sama kak Dira." jawab Putri.



"Putri kamu ini." teriak Dira yang tanpa sadar telah berteriak dan memukul bahu Putri yang masih sakit hingga mereka berdua merasakan kembali rasa sakit di tubuh nya.



"Aduh." ucap mereka berdua bersamaan.



"Kalian ini, tubuh masih sakit pun masih saja saling debat dan gontok-gontok kan." ucap Ayu.



Mereka berdua pun tersenyum sambil menahan rasa sakit nya.



"Kalian bisa jalan kan? Kalau bisa kita pulang ke rumah saja, biar mamah bisa ngurusin kalian." tanya Ayu.



"Bisa kok mah." jawab Dira.



Akhir nya Ayu dan Nisa pun menyiapkan tas dan baju kotor mereka untuk di bawa pulang.



Sementara Fadil, Raka dan Byan menghampiri mereka yang sedang berkumpul di ruang tamu, dan mereka pun mendengar ucapan dari dokter Mery.


__ADS_1


"Apa! Siapa yang mau menikah?" tanya Fadil.



Semua orang pun menatap kearah mereka bertiga.



"Maaf bapak ini siapa?"tanya dokter Mery sambil menatap Fadil.



"Saya Fadil bu, saya orang tua Putri, ibu ini yang punya rumah ini?"Fadil pun balik bertanya.



"Iya saya dokter Mery, selamat datang di rumah saya, maaf kalau keadaan nya seperti ini." ucap dokter Mery.



"Justru kami lah yang harus nya minta Maaf, kami semua sudah mengganggu waktu istirahat nya, dan maaf juga kami sudah membuat keributan di rumah ibu." ucap Fadil.



"Ngga apa-apa pak, justru saya senang, karena rumah ini jadi ramai." jawab dokter Mery.



"Oh iya, tadi siapa yang mau menikah?" tanya Fadil.



"Oh itu pak, sebelum suami saya pergi untuk selama nya, suami saya pernah membeli baju dan celana seorang pria, saya kira itu baju buat dirinya sendiri ternyata dia berpesan kalau suatu saat ada seorang pria yang berkunjung ke rumah ini lalu memakai baju yang di beli suami saya itu, maka dia adalah jodoh Fani dan harus menikah dengan Fani." jawab dokter Mery dengan jelas.



"Tapi bu, mana mungkin kan aku harus menikah dengan pak Farel, kita saja baru bertemu." ucap Fani sambil menahan malu nya.



"Mungkin saja nak, oh jadi wanita cantik ini adalah anak ibu." ucap Fadil sambil menatap kearah Fani.




"Saya setuju dengan ibu." ucap Andre.



"Mas, kamu ini kebiasaan deh." ucap Siska sambil memukul bahu suami nya.



"Lo itu dari dulu sampai sekarang kalau dengar makanan langsung semangat ya." ucap Raka.



"Oh wajib dong, biar banyak tenaga." jawab Andre.



Semua orang pun tertawa mendengar perdebatan antara mereka.



"Ya sudah ayo mari, oh iya para istri nya kemana?" tanya dokter Mery.



"Di dalam sama anak-anak bu, biasa kalau udah ketemu sama anak-anak nya mereka akan melupakan para suami nya." ucap Raka.



"Ya sudah ajak makan siang bareng, kan pasti pada belum makan siang." ucap dokter Mery.



"Biar aku yang panggil kan." ucap Glen sambil tersenyum.

__ADS_1



"Tidak, biar aku saja." ucap Nathan yang langsung pergi.



"Kenapa tuh anak?" gumam Anggar sambil menatap Nathan.



"Seperti nya kita akan besanan pak Anggar." ucap Raka.



"Jadi? Anak saya dekat sama anak pak Raka?" tanya Anggar dengan menatap tak percaya.



"Ya, tadi kita mergokin anak bapak sedang menyuapi Dira anak saya." jawab Raka.



"Aduh entah saya harus ngomong apa lagi, pertemuan dengan pak Raka saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri buat saya, apalagi di terima jadi besan nya pak Raka, sungguh saya seperti ketiban durian runtuh." ucap Anggar dengan wajah yang berbinar.



"Jangan bicara begitu pak, saya juga hanya manusia biasa dan orang biasa kok." jawab Raka.



"Bagaimana pun bapak, tapi saya sungguh benar-benar merasakan bangga dan beruntung sekali, bukan karena bapak orang yang berpengaruh di kota ini, tapi kesederhanaan bapak yang membuat saya bangga, di zaman sekarang jarang ada orang kaya dan orang penting lain nya yang hidup dengan kesederhanaan seperti bapak, kebanyakan orang-orang pada sombong dan merasa diri yang paling kaya." ucap Anggar.



"Itu sih tergantung pada jiwa nya sendiri." jawab Raka.



"Seperti nya dia memang cemburu sama lo deh Glen, kelihatan saja tatapan mata nya ke elo, terus sikap barusan memperlihatkan kalau lo ngga boleh berdekatan dengan kak Dira." bisik Galih.



"Ya, menurut gue juga begitu." jawab Glen.



"Kita tunggu di ruang makan saja, bagaimana?" tanya dokter Mery.



"Baiklah bu, sekali lagi terima kasih atas semua nya." ucap Fadil.



"Sama-sama pak, mari." ucap dokter Mery sambil berjalan menuju ruang makan yang luas yang terdiri dari meja makan yang panjang.



"Wah meja makan nya ternyata sangat besar dan pasti nya cukup untuk makan kita semua." ucap Andre sambil menatap takjub ke arah meja makan di depan nya.



"Iya pak, dulu di sini suka di jadikan tempat pertemuan suami saya bersama klien-klien nya, karena suami saya merasa nyaman kalau ada pertemuan apapun di rumah di bandingkan harus bertemu di cafe atau tempat lain nya." jawab dokter Mery.



"Wah bisa di tiru nih, seperti nya saya juga harus buat satu ruangan khusus seperti ini, biar kalau pas meeting bersama klien terus kangen sama istri kan tidak memerlukan waktu yang lama." ucap Raka.



"Betul sekali pak, itu yang selalu di bilang suami saya." ucap dokter Mery.



"Wah sudah pada kumpul di sini rupanya, eh ibu pemilik rumah ini?" tanya Ayu yang baru datang ke ruang makan.



"Iya saya pemilik rumah ini, silahkan duduk kita makan siang bersama." ucap dokter Mery.

__ADS_1


__ADS_2