
Pagi ini di kediaman Nathan terasa ada yang aneh karena tidak ada Nathan di meja makan seperti biasa nya.
"Nathan belum bangun mah? Coba mamah cek ke kamarnya, ngga seperti biasa nya dia telat untuk ikut sarapan." ucap Anggar.
"Iya ya pah, ya sudah kalau gitu mamah bangunkan Nathan dulu." jawab Ara lalu pergi ke kamar nya Nathan.
"Nak, bangun belum? sudah siang ini, kamu hampir melewatkan sarapan." teriak Ara sambil terus mengetuk pintu kamar Nathan.
Karena tidak ada sahutan dari dalam kamar, Ara pun perlahan membuka pintu kamar Nathan.
"Nak, kok sepi, tempat tidur nya juga masih rapih? Apa lagi di kamar mandi." gumam Ara lalu pergi ke kamar mandi nya.
"Sepi ngga ada air yang keluar." gumam Ara lalu membuka pintu kamar mandi nya.
"Kosong, kemana kamu nak?" Ara pun yang merasa khawatir langsung keluar dari kamar Nathan dengan setengah berlari.
"Pah, pah Nathan ngga ada di kamar nya." teriak Ara dengan wajah khawatir nya.
"Ngga ada gimana mah?" tanya Anggar kaget, karena baru kali pagi ini Nathan ngga ada di kamar nya.
"Kamar nya masih rapih dan kosong pah, seperti nya Nathan ngga tidur di kamar nya." ucap Ara.
"Coba mamah hubungi Zila, siapa tahu Nathan nginap di rumah kakak nya." ucap Anggar.
Ara pun meraih ponsel dan mencari kontak Zila anak sambung nya.
"Ada apa pah?" tanya Rania yang melihat wajah orang tua nya yang seperti lagi khawatir.
"Kamu tahu kak Nathan kemana?" tanya Anggar.
"Ngga pah, Nia ketemu sama kak Nathan pas makan malam, terus kita masuk kamar masing-masing, memang nya kak Nathan ngga ada di kamar nya pah?" ucap Rania anak ke tiga Anggar.
"Ngga ada, makanya papah dan mamah khawatir.
"Kemana kakak ya?" gumam Rania.
"Gimana mah? Ada di rumah Zila ngga?" tanya Anggar setelah melihat istri nya menyimpan kembali ponsel nya.
"Ngga ada pah, tolong cari Nathan pah, mamah hubungi no Nathan pun ngga diangkat nya." ucap Ara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sebentar papah tanya pak satpam yang jaga malam, barangkali saja mereka ada yang melihat nya." ucap Anggar sambil pergi ke luar rumah.
__ADS_1
Anggar pun berjalan dengan sedikit berlari menuju pos depan tempat mereka berjaga.
Saking panik nya mereka ngga kepikiran untuk memanggil nya lewat telepon, tapi Anggar justru yang datang menghampiri mereka.
"Pagi pak." ucap pak satpam yang jaga dengan sopan.
"Pagi juga pak, apa bapak semalam melihat Nathan keluar rumah?" tanya Anggar dengan wajah serius nya.
"Oh den Nathan? Iya pak semalam keluar rumah, katanya mau ke kampus, tapi sampai pagi ini saya belum melihat den Nathan kembali." jawab pak satpam.
"Ya sudah makasih ya pak." ucap Anggar lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Gimana pah? Pak satpam melihat nya ngga?" tanya Ara.
"Kata pak satpam semalam Nathan keluar katanya mau pergi ke kampus, kalau begitu papah akan ke kampus nya sekarang." ucap Anggar sambil meraih kunci mobil.
"Mamah ikut pah." teriak Ara sambil mengambil tas nya.
"Nia kamu pergi sekolah diantar pak sopir saja, papah mau mencari kakak kamu dulu." ucap Anggar.
"Iya pah, hati-hati." ucap Rania.
Anggar dan Ara pun pergi menuju kampus nya Nathan untuk memastikan kalau Nathan semalam datang kesana.
Di sepanjang perjalanan tak henti-henti nya Ara menitik kan air mata nya, selama ini Nathan belum pernah pergi tanpa sepengetahuan mereka.
"Sudah mah jangan nangis, Nathan pasti baik-baik saja, papah yakin kalau Nathan bisa jaga diri." Anggar pun menenangkan istri nya.
Ara hanya diam, dia hanya bergelut dengan pikiran dan prasangka nya.
Tidak membutuhkan waktu lama akhir nya Anggar dan Ara sampai di kampus nya Nathan.
Begitu memasuki halaman kampus Ara melihat motor Nathan terparkir di samping pos satpam.
"Pah, itu kan motor nya Nathan, iya itu motor nya Nathan pah." teriak Ara sambil menunjuk ke arah motor milik Nathan yang ada di samping pos satpam.
"Sebentar kita parkir kan dulu mobil nya." ucap Anggar.
Setelah mobil Anggar terparkir dengan baik, Ara pun langsung keluar dan menghampiri pos satpam.
__ADS_1
"Pagi menjelang siang pak? Maaf mengganggu." ucap Ara dengan sopan.
"Pagi menjelang siang juga bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya pak satpam.
"Maaf saya mau tanya, yang bawa motor ini kapan kesini nya pak?" tanya Ara.
"Oh yang punya motor besar ini bu?" tanya pak satpam.
"Iya pak? Kapan dia kesini? Terus sekarang dia nya kemana?" tanya Ara yang sudah tidak sabar.
"Tenang mah, pelan-pelan biar pak satpam yang menjelaskan nya." ucap Anggar yang sudah berdiri di belakang Ara.
"Iya pak, bu, semalam dia datang kesini mau jemput teman nya, tapi kampus ini sudah sepi karena acara sudah selesai, tapi dia menitipkan motor nya dan pergi bersama teman nya pakai mobil." ucap pak satpam.
"Kemana mereka pergi pak? Teman nya siapa?" tanya Ara kembali.
"Saya ngga tahu mereka kemana, cuma semalam dia bilang nitip motor besok pagi diambil, tapi sudah mau siang belum kembali." jawab pak satpam.
"Boleh kami melihat cctv?" tanya Anggar.
"Kalau bapak ingin melihat cctv bapak pergi saja ke ruang dekan, soalnya kalau untuk melihat cctv yang terekam harus ada persetujuan dari pihak kampus." jawab pak satpam.
"Ya sudah kalau begitu makasih ya pak, ayo mah kita ke ruang dekan dulu." ucap Anggar lalu pergi masuk ke kampus sambil menggandeng tangan istri nya.
*
*
"Bu, ibu istirahat saja, biar sekarang Fani yang gantian jaga mereka." ucap Fani ketika dia melihat ibu nya sedang membawa kan obat buat Fani dan Dira.
"Kamu sudah bangun nak?" bukan nya menjawab dokter Mery malah balik bertanya.
"Sudah bu, sudah segar kembali kok, gimana Putri dan Dira bu?" tanya Fani.
"Mereka sudah sadar nak, dan sudah kelihatan agak segeran, tapi bekas luka dan lebam nya masih ada." jawab dokter Mery.
"Alhamdulilah, ya sudah kalau gitu biar aku yang bawa obat buat mereka, ini obat buat mereka kan bu?" tanya Fani sambil mengambil obat yang ada di tangan ibu nya.
"Iya nak, kalau gitu ibu istirahat dulu ya nak." ucap dokter Mery.
"Iya bu, makasih ya bu sudah gantiin aku." ucap Fani.
"Iya sayang, tapi ngomong-ngomong boleh juga tuh nak Farel jadi mantu ibu." ucap dokter Mery.
__ADS_1
"Ibu apaan sih kita juga baru bertemu, lagian pak Farel juga pasti nya sudah punya pasangan bu." ucap Fani dengan wajah malu-malu nya.