
Pagi hari di meja makan milik keluarga Fadil, tidak biasa nya Farel sudah duduk di ruang makan sambil menunggu kedua orang tua nya.
"Tumben den masih pagi sudah duduk di sini?" tanya seorang pelayan yang ada di rumah Fadil.
"Iya bi, lagi nunggu ayah dan ibu." jawab Farel sambil menyeruput kopi yang dibuatkan pelayan nya itu.
"Mungkin sebentar lagi juga kesini." ucap pelayan nya.
"Tumben anak ayah sudah nungguin kita bu." ucap Fadil yang baru masuk ke ruang makan bersama Nisa istri nya.
"Ada apa nak? Seperti nya ada hal yang sangat penting yang ingin kamu bicarakan sama ayah dan ibu." ucap Nisa sambil duduk.
"Iya bu, sebenar nya malam tadi Farel ingin menyampaikan nya, tapi ayah dan ibu sudah beristirahat, jadi Farel putuskan pagi ini akan membicarakan nya dengan ayah dan ibu." ucap Farel.
"Cerita saja nak, kami berdua siap mendengarkan nya." ucap Nisa.
"Ayah, ibu, Farel ingin melamar Fani malam ini." ucap Farel membuat Nisa dan Fadil sedikit bahagia mendengar nya.
"Benar nak? Apa ibu ngga mimpi?" tanya Nisa yang hampir ngga percaya karena Farel ingin melamar seorang wanita.
"Benar bu, dan kalau ayah dan ibu merestui nya, nanti siang Farel akan membeli cincin buat lamaran nya." ucap Farel.
"Ayah dan ibu akan merestui kamu nak, kalau begitu nanti siang ibu harus menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa nanti malam ke rumah nya dokter Mery." ucap Fadil.
"Baik pak, mungkin ibu nanti menyiapkan nya bareng Ayu." ucap Nisa.
"Jadi ayah dan ibu merestui aku dan Fani?" tanya Farel ingin memastikan nya, karena Farel tidak mau kalau dalam hubungan nya berumah tangga sampai tidak di restui oleh kedua orang tua nya, karena menurut Farel restu kedua orang tua adalah do\*a buat dirinya.
"Iya nak, kami berdua merestui kalian." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Terima kasih pak, terima kasih bu." ucap Farel sambil mencium dan memeluk kedua orang tua nya.
Sarapan pagi ini terasa sangat lah nikmat bagi Nisa, karena mendengar kabar bahagia dari anak lelaki nya itu.
Dari sebelum Putri menikah dengan Byan, Nisa ingin Farel menikah, tapi Farel selalu menghindar dan selalu banyak alasan karena menolak nya.
*
*
"Kakak ipar kemana? Apa sudah bangun ya?" Dira pun bertanya-tanya karena ketika bangun dari tidur nya dia tidak melihat Putri di samping nya.
__ADS_1
"Ya sudah lah kalau gitu aku mau mandi dulu, paling juga sudah balik ke kamar kak Byan." gumam Dira lalu pergi ke kamar mandi.
Sedangkan yang di cari Dira masih nyaman terlelap dalam pelukan suami nya.
Byan yang sudah bangun dari tadi pun tidak langsung membuka mata nya, tapi dia memeluk erat tubuh istri nya.
Dengan perlahan Byan menyentuh dan mengelus dua bukit kembar milik Putri dan memainkan dengan sesuka hati nya.
Putri yang merasakan ada aliran di tubuh nya pun mulai terusik.
"Sayang, tangan mu kondisikan, aku lagi malas." ucap Putri dengan mata yang masih terpejam.
"Aku ngga minta lebih kok Yang, aku cuma ingin bermain di sini saja." ucap Byan sambil terus memutar dan memilin ujung bukit itu.
"Oh iya, bukan nya aku semalam tidur bareng kak Dira, kenapa sekarang aku sudah berada di kamar ini?" tanya Putri setelah membuka matanya dan sadar akan keberadaan dirinya saat ini.
"Ya semalam aku yang bawa kamu kesini Yang." jawab Byan lalu mencium leher Putri dengan penuh kelembutan.
Tubuh Putri pun malah makin panas di perlakukan seperti itu oleh Byan suami nya, tanpa sengaja suara laknat pun keluar dari mulut Putri.
Byan yang merasa sudah membangkit kan gairah Putri pun perlahan menyentuh sesuatu di bawah sana.
Putri tiba-tiba bangun dari tidur nya lalu duduk di atas tubuh Byan.
"Baiklah, karena kamu sudah mengganggu tidur ku, jadi kamu harus terima hukuman nya." ucap Putri lalu mencumbu Byan dengan liar dan rakus sampai Byan pun tidak bisa mengimbangi nya.
Putri terus membuat Byan menggelinjang karena sentuhan dan cumbuan dari nya.
"Aku suka kamu yang seperti ini." ucap Byan sambil tersenyum.
Putri tidak menghiraukan ucapan Byan, dia terus melakukan apa yang dia mau kepada tubuh Byan hingga Byan di buat nya tidak berdaya.
Semua gaya yang dia lihat di video yang di kasih Caca dia lakukan dengan penuh semangat.
Hingga akhir nya mereka mencapai puncak titik kenikmatan yang sangat luar biasa, hingga mereka tergeletak lemas di atas tempat tidur.
"Makasih sayang." ucap Byan lalu mencium kening dan pipi Putri.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa masih kurang?" tanya Putri yang sedikit kesal, karena suami nya itu selalu minta jatah.
"Puas kok sayang, dan aku ngga akan minta lagi, pagi ini berasa puas banget, karena kamu melakukan nya dengan semangat empat lima." jawab Byan.
"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang kamu nunggu aku yang mau duluan ya." ucap Putri.
"Baiklah sayang, tapi kamu harus memberikan nya seperti barusan.'ucap Byan.
"Tenang saja sayang, aku akan selalu memuaskan nya." ucap Putri sambil memeluk erat tubuh Byan.
"Kamu sekarang kok beda ya Yang?" tanya Byan.
"Beda bagaimana?" tanya Putri sedikit heran.
"Beda saja, sekarang kamu lebih agresif." jawab Byan.
"Entahlah, tapi kalau dipikir-pikir iya juga ya." ucap Putri, Byan hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari Putri.
Bagaimana pun juga Byan sangat menyukai Putri yang sekarang, Putri yang mengerti dirinya dan juga agresif tentu nya.
"Kamu ada kuliah pagi ngga hari ini?" tanya Byan.
"Ada, ya sudah aku mau mandi dulu." ucap Putri sambil melepaskan pelukan nya lalu bangun dari tidur nya.
"Mandi bareng ya Yang." ucap Byan.
"No, kalau kita mandi bareng, yang ada kita bakal lama di dalam kamar mandi nya." ucap Putri.
"Ngga lama kok, aku janji." ucap Byan.
"Tidak sayang, nanti saja kalau aku mau pasti aku akan memuaskan nya lagi, oke." ucap Putri sambil sedikit merayu Byan.
"Iya deh, ya sudah kamu mandi dulu sana Yang, nanti aku mandi nya setelah kamu aja." ucap Byan.
Putri pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dari sisa percintaan nya dengan sang suami tercinta.
Tanpa ada rasa malu lagi di hadapan sang suami, Putri pun berjalan tanpa mengenakan satu helai benang pun.
__ADS_1
"Aku makin cinta dan sayang sama kamu sayang." gumam Byan sambil menatap punggung mulus milik Putri.