
"Maaf kan aku juga Sayang, aku melakukan ini karena aku begitu marah ketika melihat wajah kamu terluka gara-gara Putri, andai saja aku tahu kalau Putri itu istri nya Byan dan juga adik nya pak Farel yang polisi itu, aku ngga akan melakukan nya." ucap Dela sambil terus mengusap air mata nya yang terus-terus san keluar dan jatuh di pipi nya.
Ya, kini mereka sedang duduk berdua di ruang tempat menjenguk yang di sediakan pihak kepolisian.
Sedangkan Byan dan Nathan sudah kembali ke rumah nya masing-masing, tapi sebelum pulang ke rumah, Byan ngantar Nathan dulu ke kampus untuk mengambil motor nya.
Mereka di kasih waktu untuk berbicara oleh pak Rizal, karena bagaimana pun pak Rizal masih punya hati nurani untuk mereka, walaupun kelakuan mereka salah.
"Jadi Byan dan Putri sudah menikah? pantas saja dia menghajar aku sampai babak belur dan kelihatan sangat marah sekali waktu itu, Maaf kan aku juga ya? Aku janji aku akan lebih baik lagi, dan aku harus mencari kerja, karena ayahku sekarang bangkrut karena ulah ku sendiri." ucap Sandi.
"Kita berdua akan berusaha sayang, aku akan selalu mendampingi kamu dalam suka maupun duka." ucap Dela.
"Apa kamu mau menerima aku yang sudah ngga punya apa-apa ini? Apa kamu masih mau terima aku walau kondisiku seperti ini?" tanya Sandi.
"Aku mau sayang, karena aku sangat mencintai kamu." jawab Dela sambil menangis.
"Terima kasih sayang, maaf kan sikap ku selama ini, aku selalu menyakiti hati kamu, sehabis kita keluar dari sini aku akan langsung menikahi kamu, tapi kita menikah biasa saja ya? Karena aku belum punya modal untuk mengadakan resepsi." ucap Sandi sambil memeluk erat Dela.
"Iya sayang, ngga apa-apa." jawab Dela yang sedang menangis dalam pelukan Sandi.
Farel dan pak Rizal yang sedang melihat nya pun merasa sedikit terharu dengan mereka berdua.
"Bagaimana pak? Seperti nya mereka sudah menyadari segala kesalahan nya dan sangat menyesali nya." ucap pak Rizal.
"Ya, kita lihat saja ke depan nya gimana, kalau saja Putri, Bapak dan keluarga besar pak Raka memaafkan dan mencabut semua laporan nya, ada kemungkinan mereka bisa bebas bersyarat." jawab Farel.
"Kalau keluarga pak Raka saya yakin mereka mau memaafkan dan mencabut laporan nya, tapi kalau bapak kamu, saya ngga yakin karena dia adalah seorang polisi yang di kenal kejam." ucap pak Rizal.
"Saya bilangin lo ke bapak saya." ucap Farel menggoda pak Rizal, padahal dalam hati nya mengakui kebenaran yang diucapkan pak Rizal.
"Ya jangan dong pak Farel, saya kan cuma bercanda." ucap pak Rizal dengan wajah sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Santai saja pak, saya cuma bercanda." ucap Farel sambil tersenyum.
"Candaan pak Farel ngga lucu, ya sudah lah kalau gitu saya mau nyuruh mereka kembali ke sel masing-masing dan istirahat, sudah malam juga." ucap pak Rizal lalu pergi menghampiri Sandi dan Dela.
Farel hanya tersenyum sambil menatap punggung pak Rizal.
*
*
Pagi harinya seperti biasa mereka selalu bangun pagi-pagi dan bersiap-siap untuk melakukan rutinitas pagi nya, tapi tidak untuk Dira dan sepasang pengantin baru itu, mereka masih terlelap di balik selimut nya masing-masing, beda nya kalau Dira berselimutkan sambil memeluk guling yang selalu setia menemani nya tidur selama ini, sedangkan Byan sedang memeluk erat Putri.
"Mereka belum pada bangun ya mah?" tanya Raka.
"Seperti nya belum deh pah.paling juga habis sholat pada tidur lagi pah." jawab Ayu sambil menyiakan sarapan untuk suami nya.
"Ya sudah biarin saja lah biar tubuh mereka juga cepat segar kembali." ucap Raka sambil mengambil piring yang sudah berisikan makanan dari tangan istri nya.
Sementarara di kamar Byan, Putri mulai mengerjapkan mata nya, lalu melihat jam yang nempel di dinding kamar.
"Jam enam?" gumam Putri lalu melihat ke wajah suami nya yang masih terlelap.
"Rasa nya seperti sungguhan, hangat dan manis." gumam Putri.
"Kalau memang manis dan hangat, cobain lagi dong." ucap Byan dengan mata yang masih terpejam.
Putri spontan menjauhkan tangan nya dari bibir Byan.
"Kakak sudah bangun?" tanya Putri kaget, Putri merutuki dirinya yang tidak menyadari kalau suami nya sudah bangun dari tidur nya.
"Kakak sudah bangun dari sebelum kamu bangun sayang." jawab Byan sambil tersenyum.
"Ya sudah lepas kak, aku mau ke kamar mandi dulu." ucap Putri sambil berusaha melepaskan tangan Byan dari tubuh nya.
"Sebentar lagi, biarkan dulu begini" ucap Byan sambil mempererat pelukan nya.
__ADS_1
"Kak, please lepasin ya, aku malu lo sama papah dan mamah, masa aku bangun nya siang." ucap Putri.
"Aku mau melepaskan kamu tapi dengan satu syarat." ucap Byan.
"Kok pakai syarat segala kak." ucap Putri.
"Mau ngga? Ya sudah kalau ngga mau kakak akan peluk kamu sampai malam lagi di sini." ucap Byan sambil memeluk erat Putri dengan kepala dia taro di leher nya Putri membuat tubuh Putri merinding seketika.
"Ngga bisa di biarkan, kalau begini terus yang ada aku malu sama anggota keluarga ini, nanti aku di cap sebagai menantu yang malas dan ngga bisa ngurus suami." gumam bathin Putri.
"Ya sudah syarat nya apa?" tanya Putri.
"Kamu panggil kakak sayang terus kiss di bibir sebagai morning kiss." ucap Byan sambil menyentuh bibir dengan jari telunjuk nya.
"Kok syarat nya seperti itu sih kak, ngga ada yang lain gitu, misal nya aku siapin baju buat kakak atau aku pakaikan kakak sepatu." protes Putri.
"Ngga ada, syarat nya cuma itu, mau ngga?" tanya Byan.
Putri pun terdiam sambil menatap wajah Byan yang masih memejamkan mata nya.
Byan sengaja tidak membuka mata nya, karena dia tahu kalau Putri pasti malu untuk melakukan nya, padahal tanpa sepengetahuan Putri, Byan selalu ngintip dari celah mata nya.
"Tapi kakak jangan melihat ya." ucap Putri.
"Kok kakak lagi, panggil sayang dong." ucap Byan.
"Baiklah sa, sayang sekarang tolong lepasin ya? Soalnya aku mau ke kamar mandi." ucap Putri lalu mendekatkan bibir nya ke bibir Byan.
Begitu bibir Putri dan bibir Byan sudah bertemu, Byan tidak menyia-nyiakan kesempatan, Byan langsung menahan tengkuknya Putri dan mengabsen di setiap deretan gigi Putri.
Putri yang awal nya terus berontak ingin melepaskan ciuman nya kini malah menikmati nya.
__ADS_1
"Kak, bangun belum?" teriak Dira sambil mengetuk pintu kamar Byan.