
"Putri ngga sama kamu nak?" tanya Nisa yang kini sudah satu meja dengan Dira.
"Ngga tan, tadi katanya kak Putri mau nyari rujak sama kak Byan, tapi aku sudah menyuruh nya kesini kok." jawab Dira.
"Apa dek? Rujak? Jangan-jangan." ucap Ayu.
"Jangan-jangan apa mah?" tanya Dira.
"Apa kita satu pemikiran." ucap Nisa.
"Seperti nya." jawab Ayu sambil tersenyum.
"Ibu sama tante memang nya berpikir apaan?" tanya Farel.
"Seperti nya Putri," ucap Fani yang tidak sempat meneruskan kalimat nya karena sudah di potong oleh Ayu.
"Nak, jangan dulu." ucap Ayu sambil sedikit menggelengkan kepala nya.
Fani pun yang mengerti lalu terdiam dan menikmati kembali makanan nya.
"Kalian main rahasia-rahasiaan." ucap Farel sambil memandang orang yang ada di hadapan nya satu per satu.
"Kita ngga main rahasia-rahasiaan, tapi karena belum yakin dan belum pasti, jadi kita ngga mau membahas nya dulu." jawab Nisa.
"Oh iya nak, bagaimana kabar kedua orang tua kamu?" tanya Ayu pada Nathan.
"Alhamdulilah tante baik." jawab Nathan.
"Syukur lah kalau baik, salam saja ya sama kedua orang tua kamu." ucap Ayu.
"Baik tante, nanti saya sampai kan." jawab Nathan.
"Wah seperti nya kamu juga bakalan punya mantu lagi dalam dekat ini." ucap Nisa.
"Bagaimana mereka saja, kalau mereka mau nikah sekarang-sekarang ya ayo, kalau pun nanti ya ngga akan maksa." jawab Ayu.
"Nanti malam kalian berdua ikut juga ya nak?" ajak Nisa.
"Kemana tante?" tanya Dira.
"Malam nanti kak Farel mau melamar kak Fani." jawab Nisa.
"Apa! kak Farel mau melamar kak Fani? Kok aku ngga di kasih tahu." teriak Putri yang sudah berdiri di belakang mereka dengan rujak di tangan nya.
"Putri sayang, bukan kita ngga mau ngasih tahu, tapi ini mendadak dan juga kita baru bertemu." jawab Nisa.
__ADS_1
"Au ah sebel," ucap Putri sambil duduk.
"Sayang kamu ini kenapa sih, dari tadi ngambek melulu." ucap Nathan
Putri hanya diam dan menikmati rujak yang dia beli dari pedagang kaki lima.
"Rujak nya enak ya nak?" tanya Ayu sambil melirik ke arah Nisa.
"Enak banget lo mah, makanya aku beli dua cup, mamah mau?" jawab Putri sambil memberikan satu cup rujak yang masih utuh.
"Aku nyoba boleh ngga kakak ipar?" tanya Dira.
"Makan aja, ini tuh rujak terenak yang pernah aku temui, tapi sayang kurang pedas." ucap Putri sambil terus menikmati rujak yang ada di tangan nya.
Karena penasaran dengan rasa rujak yang di bawa Putri, semua yang hadir pun termasuk Fani ikut mencicipi nya.
"Hah, huh," semua nya pada kepedesan dan langsung mengambil minum yang sudah tersedia di meja.
"Nak, ini kenapa pedas sekali." ucap Ayu.
"Dek, ini namanya sangat pedas, bukan kurang pedas." ucap Nisa.
"Kakak ipar, kamu gila ya, ini sih bukan makan rujak, tapi makan cabai." teriak Dira lalu menghabiskan air minum nya.
"Sayang, sudah jangan di makan lagi, nanti kamu sakit perut." ucap Byan sambil mau merebut rujak yang ada di tangan nya Putri
"No! Sayang, aku masih mau makan rujak nya, kamu jangan coba-coba mengambil nya." ucap Putri sambil mempertahankan rujak nya.
"Tapi ini terlalu pedas sayang, jadi stop ya jangan di makan lagi." ucap Byan.
"Kalau kamu ambil rujak ini, selama satu minggu aku tidur di kamar nya kak Dira." teriak Putri.
Semua yang ada di meja cafe tersebut hanya melongo melihat perdebatan antara Putri dan Byan.
"Sayang, dengarkan aku, rujak ini terlalu pedas, nanti kamu sakit perut, usus kamu nanti terluka." ucap Byan.
Putri pun mengeluarkan air mata nya, dia menangis, entahlah hari ini Putri sering marah-marah ngga jelas dan sangat cengeng sekali.
"Bu, aku ikut pulang sama ibu ya." ucap Putri dengan air mata yang sudah menetes di pipi nya.
"Tapi kamu sudah punya suami nak, bukan ngga boleh pulang ke rumah, tapi kamu harus mendapatkan izin dulu dari suami kamu." ucap Nisa.
"Tapi suami aku jahat bu, masa aku ngga boleh makan rujak, padahal kan dia uang nya banyak." ucap Putri sambil menangis.
__ADS_1
"Dia bukan jahat nak, tapi dia itu sangat menyayangi kamu, makanya dia melarang kamu makan rujak pedas ini, karena suami kamu ngga mau kalau kamu sakit perut." ucap Nisa sambil mengelus punggung Putri dengan lembut.
"Nak, sini sebentar." ucap Ayu pelan.
"Kenapa mah?" tanya Byan.
"Biarkan saja istrimu melakukan apa yang dia mau, kemungkinan besar istri mu lagi hamil, tapi kamu jangan bilang dulu, karena ini hanya prediksi kami saja, untuk memastikan nya bawa istri kamu ke dokter kandungan." ucap Ayu.
"Apa mah, jadi aku akan punya anak?" tanya Byan sedikit menaikan suara nya.
"Syut, jangan keras-keras." ucap Ayu.
Untung Putri lagi menangis di pelukan nya Nisa jadi dia ngga mendengar apa yang diucapkan suami nya, sedangkan yang lain nya dengan jelas mendengar ucapan Byan.
"Jadi, kakak ipar." gumam Dira sambil menutup mulut nya.
"Kamu akan punya keponakan Yang." bisik Nathan, Dira hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sayang, kalau kamu mau makan rujak nya makan saja, ngga apa-apa kok." ucap Byan sambil mengelus lembut kepala Putri.
"Beneran sayang?" tanya Putri sambil menatap wajah Byan, Byan pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi sekarang aku sudah ngga mau makan rujak nya lagi, jadi kamu yang harus menghabis kan nya." ucap Putri sambil menghapus air mata nya.
"Apa! Kok aku sih sayang." ucap Byan sambil menelan saliva nya, dia ngga bisa membayangkan harus menghabiskan rujak yang rasa cabai itu.
"Kalau ngga mau menghabis kan nya, mulai malam ini sampai satu minggu ke depan aku akan tidur di kamar nya kak Dira.
"Mah, ibu, tolong aku." gumam Byan dengan wajah memelas.
"Sabar ya nak, ini semua bukan permintaan sepenuh nya dari Putri." ucap Ayu.
"Kamu harus lebih banyak bersabar dan juga lebih mengerti Putri selama delapan bulan ke depan." ucap Nisa.
"Apa! Delapan bulan?" teriak Byan sambil menepuk jidat nya.
"Sabar ya bro, jalani saja, itu kan hasil perbuatan kamu juga." bisik Nathan sambil tersenyum.
Sedangkan Farel dan Fani hanya tersenyum melihat wajah sedih Byan saat ini.
"Sayang ayo makan." ucap Putri.
"Iya sayang nanti aku makan, kak Farel, Nat, bantuin aku menghabiskan rujak nya dong." ucap Byan.
__ADS_1
"Ogah, bisa-bisa nanti malam aku ngga jadi melamar Fani." ucap Farel.
.