
"Mamah mana pah?" tanya Byan yang sudah terlihat tampan dengan jas warna putih nya.
"Wah anak papah tampan juga kalau pakai jas." Raka bukan nya menjawab tapi dia malah memuji ketampanan anak nya.
"Jadi kalau kakak ngga pakai jas ngga cakep gitu." ucap Byan sambil mengerucutkan bibir nya.
"Kamu setiap hari juga cakep kok nak." ucap Fadil.
"Tuh om Fadil saja bilang aku cakep tiap hari, ayah nya bilang cakep cuma pas aku pakai jas doang." ucap Byan sambil duduk diantara Fadil dan Raka.
"Nak, kamu kan mulai hari ini mau menikah dengan Putri, jadi mulai sekarang kamu biasakan panggil om dengan panggilan bapak." ucap Fadil.
"Baik om eh pak." jawab Fadil yang masih kaku dalam mengganti panggilan nya.
"Assalamualaikum." ucap Jaka sang sopir yang di suruh untuk mendaftar ke KUA.
"Waalaikumsalam." jawab mereka bertiga serempak.
"Masuk pak jaka." ucap Raka sambil berdiri begitu melihat Jaka berdiri di depan pintu dengan dua orang utusan dari KUA.
"Tuan ini pak penghulu yang akan menikah kan den Byan dan non Putri." ucap Jaka.
"Selamat datang pak, terimakasih sudah mau menyempatkan waktu nya untuk menikahkan anak saya." ucap Raka sambil mengulurkan tangan nya.
"Sudah menjadi kewajiban kami pak." jawab pak penghulu yang bernama pak Selamat.
"Silahkan duduk pak." ucap Raka dengan sopan.
Pak Selamet bersama teman nya pun duduk berhadapan dengan Raka, sedangkan pak Jaka kembali ke belakang tempat dia menunggu.
"Ini mempelai pria nya ya? Terus mempelai wanita nya dimana?" tanya pak Selamat.
"Ada di dalam pak, lagi siap-siap." jawab Raka.
"Kalau begitu biar saya panggilkan dulu." ucap Fadil.
"Kamu duduk saja, kamu kan wali dari mempelai wanita, biar bibi yang panggilkan, bi tolong bilang sama ibu kalau pak penghulu sudah menunggu, ibu nya ada di kamar Dira." ucap Raka pada bi Lela yang sedang menata minuman di atas meja.
"Baik tuan." jawab bi Lela pelayan nya Raka.
*
*
"Ya ampun nak, kamu cantik sekali? ternyata kamu pintar juga make up pin orang Yu, kenapa ngga buka salon saja sih Yu." ucap Nisa yang kagum dengan hasil riasan Ayu sahabat nya.
"Kayak kamu ngga tahu saja dengan mas Raka, jangankan untuk buka salon, kuliah saja aku ngga selesai." jawab Ayu.
__ADS_1
"Karena papah itu ngga mau mamah menduakan papah dengan kerjaan, papah kan bucin sama mamah tante." ucap Dira.
"Nah nanti juga ya, mamah yakin kalau Byan pasti bucin deh sama Putri." ucap Ayu sambil merapihkan sedikit riasan nya.
"Permisi nyonya." ucap bi Lela sambil mengetuk pintu kamar Dira.
"Iya bi, ada apa? Bibi ini di bilang panggil nya ibu jangan nyonya masih aja ngeyel" tanya Ayu sambil menatap bi Lela yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ngga enak nyonya, kalau panggil ibu." jawab bi Lela.
"Ya sudah terserah bibi saja lah, ada perlu apa bi? Uang belanja sudah habis?" tanya Ayu.
"Bukan nyonya, itu kata bapak nyonya dan non Putri ditunggu di ruang keluarga karena pak penghulu nya sudah datang." jawab bi Lela.
"Oh sudah datang ya? Ya sudah bilang sama bapak kami kesitu sekarang." ucap Ayu.
"Baik nyonya kalau begitu saya permisi." ucap bi Lela lalu pergi meninggalkan kamar Dira.
"Kok aku deg-deg gan ya." gumam bathin Putri .
"Ya sudah kalau gitu aku sama Dira yang akan membawa Putri." ucap Nisa.
"Kalau begitu aku duluan ke ruang keluarga ya." ucap Ayu lalu pergi ke ruang keluarga.
"Tangan kamu dingin Put? Kamu tegang ya?" bisik Dira.
"Iya kak, Dira Putri deg-deg gan." jawab Putri pelan.
"Bu, apa kak Farel sudah di kasih tahu?" tanya Putri sambil berjalan.
"Tadi sih kata bapak mau di kasih tahu, tapi ngga tahu sudah datang ngga tahu belum." jawab Nisa.
"Mana Putri nya mah?" tanya Raka yang melihat Ayu hanya seorang diri.
"Lagi kesini pah, mari pak silahkan di minum sebelum acara di mulai." ucap Ayu .
"Makasih bu." jawab pak Selamet dan teman nya.
Byan menatap Putri yang sedang menghampiri nya dengan diapit oleh Nisa dan Dira.
"Cantik sekali kamu Put." gumam bathin Byan sambil menatap Putri tanpa berkedip.
"Kedip dong kak, segitu nya melihat calon istri." goda Raka.
__ADS_1
"Apaan sih pah." ucap Byan sambil menunduk malu.
Kini Putri sudah duduk di samping Byan, jantung keduanya berdetak kencang tidak seperti biasa nya.
"Wah ternyata calon mempelai wanita nya sangat cantik ya pak, kalau begitu saya saja yang menikah dan bapak yang menjadi penghulu nya." goda pak Selamet.
"Beneran pak? soal nya tadi anak saya sempat ngga mau pak untuk di nikahkan." jawab Raka.
"Papah." gumam Byan sambil menatap Raka.
Raka dan Fadil pun tersenyum melihat Byan yang seperti nya lagi marah karena di goda oleh pak Selamet dan Raka.
"Pak, Farel sudah di kasih tahu belum?" tanya Nisa pada suami nya.
"Sudah bu, katanya nanti kesini." jawab Fadil.
"Pak boleh menunggu sebentar lagi ngga? Soalnya kakak Putri masih dalam perjalanan." ucap Nisa dengan tatapan memohon kepada pak penghulu.
"Paling kami bisa ngasih waktu sepuluh menit saja bu, soalnya selesai dari sini kami mau menikahkan pengantin lain nya." jawab pak Selamet.
Mereka pun menunggu kedatangan Farel sambil berbincang ringan di selingi dengan cemilan yang sudah di sediakan, sudah sepuluh menit lewat tapi Farel belum datang juga.
"Bagaimana kalau kita mulai saja ijab kabul nya, soalnya saya masih mau menikahkan pengantin yang lain nya." ucap pak Selamet sambil melihat jam yang melingkar di tangan nya.
"Ya sudah kalau memang bapak sibuk dan di tunggu yang lain nya, mulai saja pak." jawab Fadil pasrah.
"Baik, kita mulai saja ijab nya ya nak? Sekarang bapak wali dari mempelai wanita menjabat tangan mempelai laki-laki, kita akan mulai ijab nya." ucap pak Selamet.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan saya,"
"Stop, tunggu jangan di mulai dulu." teriak seseorang di depan pintu dengan masih memakai baju dinas nya.
Semua yang hadir pun langsung menoleh ke arah suara tersebut.
"Farel."
"Kak Farel."
"Alhamdulilah akhirnya kamu datang nak." ucap Nisa dengan bibir tersenyum.
"Maaf mengganggu acara nya, saya tidak akan menyetujui pernikahan ini." ucap Farel dengan suara lantang.
"Apa!" ucap mereka semua serentak dengan wajah kaget nya termasuk pak Rizal teman nya Farel.
__ADS_1
"Saya tidak akan menyetujui kalian menikah sebelum urusan hukum Byan selesai." ucap Farel sambil menatap tajam ke arah Byan.