
"Pagi mah, pagi pah." teriak Dira yang baru masuk ke ruang makan.
"Pagi sayang." jawab Raka dan Ayu serempak.
"Pengantin baru belum pada bangun ya?" tanya Putri.
"Belum, biarkan saja jangan di ganggu, lagian katanya pada kuliah jam sembilan kan?" ucap Ayu.
"Iya mah." ucap Dira.
"Mereka belum bangun, apa Putri melakukan apa yang di bilang Dela kemarin ya?" gumam bathin Dira.
"Sayang kamu mau sarapan apa?" tanya Ayu yang melihat Dira hanya diam saja.
"Biar aku yang ambil saja mah, mamah lanjutkan saja sarapan nya." ucap Dira sambil mengambil piring.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Nathan?" tanya Raka.
"Baik kok pah." jawab Dira.
"Dek, papah mau ngomong serius sama kamu." ucap Raka dengan wajah serius nya.
"Iya pah ada apa?" tanya Dira.
"Apa kamu sudah benar-benar mencintai dan mau menerima Nathan apa ada nya?" tanya Raka.
"Iya pah, adek menerima kak Nathan apa ada nya kok." jawab Dira.
"Kemarin papah ada pertemuan dengan perusahaan papah nya Nathan, dan pak Anggar bilang kalau Nathan sudah lulus mereka akan langsung melamar kamu, apa kamu siap?" tanya Raka.
"Ya gimana ya pah, adek bingung antara siap dan tidak, karena kan adek masih kuliah." jawab Dira.
"Nak, kalau hati kamu sudah yakin dengan Nathan, kuliah ngga jadi masalah, kamu masih bisa melanjutkan nya kok seperti Putri." ucap Ayu.
"Tapi kalau nanti aku punya anak bagaimana?" tanya Dira.
"Ya ngga apa-apa, anak itu adalah rezeki buat para orang tua nya, kan banyak yang kuliah lagi hamil bahkan ada yang sudah punya anak." jawab Ayu.
Dira pun terdiam dan mencerna semua ucapan dari mamah nya.
"Bagai mana nak? Biar nanti kalau pak Anggar bertanya sama papah lagi, papah bisa menjawab nya,." tanya Raka.
"Ikuti kata hati kamu sayang, jangan merasa ngga enak sama papah dan mamah, papah dan mamah akan menerima semua keputusan kamu, kami tidak akan memaksa kamu." ucap Ayu.
__ADS_1
Dira pun terdiam dan memikirkan semua yang sudah di bicarakan orang tua nya, dia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
*
*
Byan pun menurunkan istri nya dari pangkuan, lalu mengisi air ke dalam buthtube.
Terlihat jelas si botak mengayun ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak langkah Byan yang sedang mengisi air dan menyiapkan keperluan buat mandi istri nya.
"Ternyata bentuk nya seperti itu yang telah membuat aku melayang dua kali." gumam bathin Putri sambil terus menatap si botak nya Byan.
Putri sedang duduk di atas kloset duduk jadi seperti dirinya sedang nonton drakor aja lihat Byan yang kesana kemari menyiapkan untuk dirinya mandi.
Byan yang menyadari si botak nya sedang di perhatikan pun langsung mendekat kan si botak ke depan Putri.
"Yang kamu ih, kenapa dekat-dekat." teriak Putri sambil menahan perut Byan dengan kedua tangan nya.
"Gara-gara kamu lihatin, dia jadi on lagi." ucap Byan sedikit mendekatkan si botak ke dada Putri.
"Yang," protes Putri.
Byan tidak mendengar aksi protes dari Putri dirinya langsung sedikit membungkuk dan \*\*\*\*\*\*\* habis bibir Putri.
Dengan gerakan yang lembut dan rayuan maut dari Byan, akhir nya mereka melakukan kembali di pagi hari dan di dalam kamar mandi.
"Kamu ini ya Yang, ngga ada bosen-bosen nya." omel Putri sambi memakai kan handuk di kepala nya.
"Au ah." ucap Putri.
Selagi Putri lagi pakai baju, Byan membereskan tempat tidur nya.
Begitu Byan menarik selimut nya, terlihat dengan jelas ada bercak merah di sprey warna putih yang mereka pakai malam tadi.
"Terima kasih sayang, kamu telah menjaga nya selama ini dan menyerahkan nya kepada ku." gumam Byan sambil menarik sprey kotor dan memasuk kan nya ke keranjang cucian.
Byan pun mengambil sprey baru lalu memasangkan nya kembali.
"Sayang kenapa kamu lakukan itu? Biar nanti aku yang rapihkan." teriak Putri yang melihat Byan sedang merapihkan tempat tidur nya.
"Ngga apa-apa, cuma mengganti kain sprey doang," jawab Byan.
"Sprey kotor nya mana sayang?" tanya Putri.
"Itu, di keranjang cucian, kenapa?" Byan pun balik bertanya.
"Mau aku cuci lah sayang, masa mau aku pakai." jawab Putri.
__ADS_1
"Jangan, kamu ngga boleh mencuci apa pun, kamu ngga boleh mengerjakan apa pun, cukup kamu melayani aku saja." jawab Byan.
"Tapi kan ada bercak darah nya." ucap Putri.
"Biar bibi yang cuci in, mereka juga ngerti kok, udah ayo siap-siap kita sarapan, kan jam sembilan kita berangkat ke kampus." ucap Byan.
Putri pun pasrah lalu duduk di kursi rias nya dan siap-siap untuk merias wajah nya.
"Sayang." teriak Putri sambil menatap Byan dengan tajam.
"Aku di sini sayang, kenapa harus teriak segala?" tanya Byan.
"kenapa melakukan nya di sini? Nanti semua orang melihat nya." ucap Putri sambil menunjjuk beberapa tanda merah di leher nya.
"Ya maaf yang, ngga sengaja." ucap Byan.
"Maaf-maaf, seharus nya kamu lihat tempat dulu jangan asal buat." ucap Putri dengan wajah kesal nya.
"Ya kan mana aku sadar yang, yang ada aku menimati semua yang ada pada dirimu." ucap Byan.
"terus gimana ini Yang? Aku kan malu." ucap Putri sambil mengusap leher nya.
"Ngapain malu, kan bukan sama orang lain, lagian mereka kan sudah tahu kalau kamu adalah istri aku, jadi abaikan saja." ucap Byan.
"Ya sudah terserah, kali ini aku maafin kamu Yang, tapi kalau lain kali seperti ini lagi, aku akan tidur sama kak Dira. Ucap Putri.
"Iya sayang nya aku, aku janji aku ngga bakalan buat tanda cinta ini di sini lagi, tapi aku akan buat di sini." ucap Byan sambil menyentuh bukit kembar nya Putri.
"Sudah lah ayo kita ke bawah, nanti bisa-bisa aku malah ngga keluar-keluar dari kamar ini." ucap Putri sambil melangkah ke luar kamar.
"Pagi semua nya, maaf kita berdua terlambat." ucap Putri.
"Ngga apa-apa nak, tapi kita semua sudah selesai sarapan nya, jadi kalian berdua saja ya." jawab Ayu.
"Iya mah ngga apa-apa." jawab Putri.
"Kalau begitu papah berangkat dulu, Byan kalau ngga ada kuliah mulai sekarang kamu harus sering pergi ke kantor," ucap Raka.
"Iya pah." jawab Byan.
"Mamah antar papah ke depan dulu ya." ucap Ayu lalu pergi meninggalkan anak-anak dan menantu nya.
"Oh jadi benar kan dugaan aku, semalam mereka berdua melakukan nya." gumam bathin Dira sambil melihat tanda merah keunguan di leher Putri dan rambut mereka yang masih pada basah.
__ADS_1