Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Putri dan Dira Sadar


__ADS_3

Mereka semua kini sudah terlelap, karena kelelahan semalam ngga tidur mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk terlelap.



Raka dan Fadil terus-terusan menghubungi anak-anak mereka, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menerima panggilan nya, karena ponsel mereka di silent jadi tidak mendengar suara panggilan yang masuk.



"Em, aku dimana?" gumam Putri sambil melihat ke sekeliling kamar lalu melihat Dira di samping nya.



"Kamu sudah sadar nak?" tanya dokter Mery sambil menghampiri Putri dan Dira.



"Ibu siapa? kita ada dimana bu?" tanya Putri sambil berusaha untuk bangun.



"Jangan bangun dulu nak, tiduran saja, kalian ada di rumah ibu, semalam anak ibu yang bawa kalian berdua kesini." jawab dokter Mery.



"Tolong, kumohon siapapun tolong kita." teriak Dira dengan kepala yang dia gerakan ke kanan dan ke kiri dengan wajah yang sudah bercucuran dengan keringat.



"Nak, tenang nak, kamu sudah aman, kamu sudah berada di rumah ibu." ucap dokter Mery sambil mengusap lembut kepala nya Dira.



"Kak tenang, kita sudah aman kok," ucap Putri.



"Ini minum dulu sayang, biar tenang." ucap dokter Mery sambil memberikan minum kepada Putri dan Dira.



Mereka pun menghabiskan air minum yang di berikan dokter Mery.



"Kruyuk." suara perut mereka berbunyi begitu nyaring, mereka merasakan lapar karena dari siang kemarin belum makan.



"Kalian lapar ya? Sebentar ya ibu bawakan makanan dulu." ucap dokter Mery.



Putri dan Dira pun mengangguk malu sambil menahan sakit di seluruh tubuh nya.



"Kak, orang tua kita pasti mencari kita, mereka pasti khawatir sama kita." ucap Putri sambil meringis.



"Ponsel kita juga masih mati ya? Tas kita mana ya?" tanya Dira sambil melirik ke arah kamar.



"Ayo bi masuk." ucap dokter Mery sambil membuka pintu kamar.



Kedua pelayan wanita paruh baya pun masuk ke dalam kamar dengan nampan yang berisikan makanan di tangan nya.



"Ya ampun bu, mereka terluka parah seperti ini, kasihan sekali, andai saja saya bertemu dan melihat pelaku nya akan saya bejek-bejek saya jadikan perkedel." ucap seorang ibu dengan wajah yang kesal.


__ADS_1


"Sudah lah bi, nanti pihak kepolisian yang mengurus nya, sekarang bibi suapin mereka saja." ucap dokter Mery sambil memeriksa tubuh Putri dan Dira.



"Sini non, bibi suapin." ucap bibi pelayan.



"Biar kita makan sendiri saja bi." ucap Putri.



"Ngga, kalian ngga boleh banyak gerak dulu, biar bibi yang suapin kalian." ucap dokter Mery.



Putri dan Dira pun pasrah dengan perintah dari dokter Mery, mereka sangat lahap sekali walaupun sesekali mereka meringis karena menahan rasa sakit di bibir nya.



"Sudah bi, aku sudah kenyang." ucap Putri.



"Aku juga sudah bi, sudah kenyang." ucap Dira.



"Ya sudah kalau gitu bibi permisi ke belakang lagi." ucap bibi pelayan sambil membereskan pring yang kotor dan membawa nya ke dapur.



"Sudah makan nya?" tanya dokter Mery yang baru masuk sambil membawa beberapa obat di tangan nya.



"Sudah dok." jawab Putri dan Dira secara bersamaan.



"Sekarang kalian minum obat nya ya? Agar luka kalian cepat kering dan rasa sakit pada tubuh berkurang." ucap dokter Mery.




Putri dan Dira pun meminum obat yang diberikan dokter Mery.kepada mereka.



"Sekali lagi terimakasih ya bu dokter, bu dokter sudah menolong dan merawat kita berdua." ucap Dira.



"Sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong sesama." jawab dokter Mery.



"Bu, boleh minta tolong sekali lagi?" tanya Putri.



"Iya nak, apa yang bisa ibu bantu?" tanya dokter Mery.



"Boleh pinjam ponsel nya? Soal nya saya mau kasih kabar sama orang rumah, pasti mereka khawatir dengan kami." ucap Putri.



"Kalian tenang saja, dari semalam keluarga kalian sudah menunggu di sini, dan sekarang mereka lagi pada istirahat, soalnya semalaman mereka ngga tidur." ucap dokter Mery sambil tersenyum.



"Benarkah dokter?" ucap Dira dengan wajah yang berbinar.

__ADS_1



"Iya nak, mereka sudah ada di sini, sebentar lagi akan ibu bangunkan karena waktu nya sholat dzuhur dan makan siang." ucap dokter Mery.



Putri dan Dira pun saling menatap bahagia sambil menahan rasa sakit nya.


*


*


"Pah ini gimana, sudah siang begini tapi mereka belum ada kabar nya." ucap Ayu dengan wajah khawatir nya.


Demi mencari anak-anak dan menantu nya Raka tidak masuk kantor, begitu pun dengan Fadil dia sudah mengerahkan seluruh anak buah nya untuk mencari anak nya.



"Sabar mah, kita juga lagi berusaha, mamah berdo\*a saja agar mereka baik-baik saja." ucap Raka menenangkan istri nya.



Ayu pun hanya bisa pasrah dan selalu berdo\*a untuk anak-anak nya di luaran sana agar mereka baik-baik saja.



"Yu, bagaimana? sudah dapat kabar belum dengan mereka?" tanya Nisa yang baru masuk ke rumah Ayu.



Nisa ngga bisa berdiam diri saja di rumah nya, Fadil suami nya sudah pergi mencari dari sejak mendengar kabar mereka ngga ada di rumah.



"Belum Nis, aku juga lagi bingung ini, entah kemana lagi kita mencari mereka." jawab Ayu.



"Ya sudah karena sekarang sudah ada Nisa di sini papah sekarang mau pergi ke kampus nya anak-anak dulu, barang kali salah satu dari mereka ada yang melihat nya." ucap Raka.



"Iya pah cepat kesana dan kasih kabar mamah ya." ucap Ayu.



"Ya sudah papah pergi dulu, do\*a kan papah bisa berhasil mendapatkan kabar baik tentang mereka." ucap Raka lalu mencium kening Ayu dan pergi keluar untuk mencari anak-anak dan menantu nya.



"Hati-hati pah." teriak Ayu.



"Semoga kak Raka berhasil mendapat kan informasi dari kampus." ucap Nisa.



Ayu pun hanya terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sungguh ini adalah hal yang terburuk dalam hidup nya, dia ngga pernah jauh dari anak-anak nya, dan sekarang anak-anak nya tidak ada dan belum ada kabar nya.



"Nyonya anda harus makan dulu, nanti nyonya sakit." ucap bibi pelayan Raka.



"Saya belum lapar bi." jawab Ayu.



"Non Nisa, tolong bantu bibi untuk membujuk nyonya makan ya? Soalnya nyonya belum makan dari pagi." ucap bibi pelayan.



"Yu, kamu makan ya? Kalau kamu ngga makan nanti sakit, terus kalau kamu sakit bagaimana caranya kita mencari anak-anak kita?" ucap Nisa mencoba membujuk Ayu untuk makan.

__ADS_1



Nisa pun terus membujuk Ayu tanpa henti, hingga akhir nya hati Ayu pun melemah dan akhir nya mau makan.


__ADS_2