
Mereka semua sekarang dalam perjalanan ke kantor polisi setelah Dira meyakinkan semua nya kalau dirinya sudah ikhlas dan tulus untuk memaafkan mereka semua nya.
Mereka naik kendaraan yang berbeda, Byan bersama Putri ikut-ikutan pakai motor sedangkan Raka dan Ayu mereka berdua milih naik mobil saja diantar oleh sopir Raka.
"Pegangan yang kencang." ucap Byan.
"Iya, sejak kapan kakak punya motor?' tanya Putri sambil memeluk pinggang suami nya.
"Sejak mendengar kalau kamu ingin di bonceng sama seorang pria pakai motor." jawab Byan.
Putri pun tersenyum, ternyata dari dulu Byan sudah menyukai dirinya.
"Kak ayo jalan jangan diskusi dulu, nanti aja langsung praktek." teriak Dira.
"Apa sih kak, ya udah jalan Yang." ucap Putri keceplosan.
"Apa sayang? Kamu manggil aku Yang?" tanya Byan sambil melihat kebelakang.
"Ngga, udah ah ayo jalan." ucap Putri sambil menahan malu nya.
"Untung lagi duduk di belakang nya, coba kalau lagi duduk di sofa, betapa malu nya aku." gumam bathin Putri.
"Ngaku aja napa, pakai acara gengsi segala." gumam Byan dengan sedikit kesal, lalu menjalankan motor nya.
*
*
"Pagi pak, maaf apa saya boleh bertemu dengan anak saya yang bernama Cintya?" tanya seorang pria paruh baya yang baru datang bersama istri nya.
Pak Darwis dan bu Lasmi langsung datang ke kantor polisi setelah melakukan perjalanan dari luar kota nya.
Sebenar nya mereka akan tinggal sekitar tiga hari di sana karena kerjaan pak Darwis, tapi semalam dirinya mendengar kabar kalau Cintya anak mereka sedang berada di kantor polisi, pak Darwis pun langsung pulang bersama istri nya dan pagi ini langsung ke kantor polisi.
"Silahkan duduk pak, sebentar kami panggilkan." jawab pak Rizal. Lalu memerintahkan rekan sesama polisi untuk memanggil Cintya.
"Sebenar nya apa yang sudah anak saya lakukan pak?" tanya pak Darwis ayah nya Cintya.
"Anak bapak yang bernama Cintya sudah ikut menganiaya Putri dan Dira yang kebetulan mereka itu adalah anak dan adik dari salah satu anggota kami.
"Apa!" teriak bu Lasmi dan seketika tubuh nya lemas dan terjatuh pingsan ke lantai.
__ADS_1
"Bu, bangun bu, kita temui Cintya dulu." ucap pak Darwis sambil berusaha mengangkat tubuh istri nya.
Pak Rizal yang melihat pun ikut membantu mengangkat tubuh ibu nya Cintya dan di baringkan di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Ayah, Ibu." teriak Cintya sambil menghampiri ayah dan ibu nya dengan deraian air mata.
Cintya langsung bersimpuh di kaki ayah nya sambil menangis.
"Maafkan Cintya pak, Cintya salah." ucap Cintya sambil memeluk kaki ayah nya.
"Apa yang sudah kamu lakukan nak? Kurang apa kamu dari kami selaku orang tua selama ini?" ucap pak Darwis sambil menahan amarah nya.
"Maafkan Cintya pak, ibu maafkan Cintya bu." teriak Cintya yang kini memeluk tubuh ibu nya yang belum sadar kan diri.
"Ada apa ya di dalam?" tanya Dira yang kini sudah sampai di depan kantor polisi.
"Ngga tahu, kita masuk saja yuk." ucap Nathan sambil turun dari motor nya.
"Kita bareng saja sama mamah dan papah, tuh mereka juga sudah sampai kok." ucap Dira sambil menatap mobil Raka.
"Ayo kita masuk." ajak Raka pada istri dan anak menantu nya.
"Kak Farel." ucap Putri.
"Kalian kesini?" tanya Farel lalu mencium telapak tangan ya Raka dan Ayu.
"Iya nak, Dira dan Putri ingin menemui mereka." jawab Raka.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk." ajak Farel.
Mereka pun masuk bersama Farel, ketika sampai di dalam mereka di kejutkan oleh Caca yang sedang menangis sambil memeluk ibu nya yang masih dalam keadaan pingsan.
"Siapa mereka pak?" tanya Farel kepada pak Rizal.
"Mereka adalah orang tua nya Cintya." jawab pak Rizal.
Pak Darwis sama Cintya yang mendengar suara di belakang nya pun spontan membalikan tubuh nya dan melihat siapa yang datang.
"Putri, Dira." gumam Cintya sambil berdiri, lalu menghampiri Putri dan Dira.
"Putri, Dira maaf kan aku, aku mohon, aku ngga bermaksud untuk melukai kalian, tapi karena rasa cinta ku yang terlalu besar kepada Nathan hingga membuat aku buta sehingga aku melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan, aku mohon maafkan aku." ucap Cintya sambil bersimpuh dengan deraian air mata.
__ADS_1
Sungguh hati siapa yang tidak merasa tersentuh dan kasihan melihat keadaan Cintya seperti itu,
Dira pun menunduk sambil meraih pundak Cintya untuk mengajak nya berdiri.
"Sudah lah kak, jangan seperti ini, aku sudah memaafkan nya kok." ucap Dira.
"Makasih Dir, makasih banyak." ucap Cintya sambil memeluk erat Dira.
Sebagai perempuan Ayu, Putri dan Dira pun ikut meneteskan air mata nya, apalagi melihat ibu nya yang masih belum sadar kan diri.
"Put, maafkan aku ya, sumpah aku sangat menyesal." ucap Cintya sambil menatap Putri.
"Aku juga sudah memaafkan kakak kok." ucap Putri lalu memeluk Cintya.
"Om, tante, maaf kan saya, sungguh saya sangat menyesal dengan semua ini." ucap Cintya sambil menunduk dan sesekali menghapus air mata nya.
"Sudah lah nak, kami sudah memaafkan kamu," ucap Ayu sambil memeluk Cintya.
"Bantu saya untuk keluar dari sini tante, saya mohon." ucap Cintya di sela-sela isak tangis nya.
"Kami semua memang sudah memaafkan yang sudah terjadi nak, tapi kalau untuk masalah hukum itu bukan wewenang tante, jadi kamu bersabar saja ya? Dan jadikan ini suatu pembelajaran buat kamu, kalau ada masalah sekecil atau sebesar apapun jangan di hadapi dengan kekerasan." ucap Ayu sambil mengelus lembut punggung Cintya.
"Iya tante, saya pasrah saja, terima kasih kalian semua sudah mau memaafkan kesalahan yang telah saya perbuat." ucap Cintya.
"Aku tahu kamu itu orang baik Cin, cuma kamu terhasut sama mereka saja, jadi ke depan nya kamu cari teman atau sahabat yang baik, jangan cari sahabat yang akan menjerumuskan diri kita nanti nya." ucap Nathan.
"Iya Nat, makasih ya, Yan maaf kan aku ya, gara-gara aku istri dan adik kamu jadi terluka." ucap Cintya.
"Sudah lah Cin, kita juga sudah memaafkan nya kok." jawab Byan.
"Cin, Cintya." gumam bu Lasmi yang sudah mulai sadar dari pingsan nya.
"Ibu," gumam Cintya sambil membalikan tubuh nya lalu sedikit berlari menghampiri ibu nya.
"Ibu maafkan Cintya ya bu." ucap Cintya sambil memeluk erat tubuh bu nya.
"Kenapa kamu bisa jadi seperti ini nak? Ibu selama ini tidak mengajarkan hal yang buruk ke kamu, tapi kenapa anak ibu jadi begini?" tanya bu Lasmi sambil menangis.
"Maafkan Cintya bu, Cintya mohon." ucap Cintya di dalam tangisan nya.
Ayu, Putri dan Dira pun ikut menangis, sedangkan para pria hanya berkaca-kaca saja.
__ADS_1