
"Kak Dira mau kemana dulu?' tanya Putri.
"Mau langsung pulang kakak ipar, kenapa?" Dira pun balik bertanya.
"Lupa ya sama janji nya." ucap Putri sambil menatap tajam Dira.
"Janji? Aku memang sudah menjanjikan apa?" tanya Dira.
"Baru tadi sore berjanji, sekarang sudah lupa." ucap Putri yang sudha dalam mode ngambek.
"Kamu memang nya janji apa ke dia Yang?" tanya Nathan.
"Aku juga lupa sayang." jawab Dira.
"Pasti minta mangga, aduh kenapa masih ingat saja sih." gumam bathin Byan.
"Sayang ingatkan kak Dira dong tentang janji yang tadi." ucap Putri sambil merengek seperti anak kecil yang sedang minta jajan.
"Ingat kan apa sih Yang, setahu aku juga Dira ngga menjanjikan apa-apa." ucap Byan berbohong.
"Sudahlah kalau kalian semua pada lupa sama janji nya, lebih baik aku pulang sama ayah dan ibu saja." ucap Putri sambil membalik kan tubuh nya.
"Sayang tunggu." teriak Byan.
"Kak tunggu." teriak Dira.
"Sebenar nya aku sudah menjjanjikan apa sih, kakak ingat ngga?" tanya Dira sambil memegang tangan Byan.
"Metik mangga di rumah nya Nathan." bisik Byan lalu berlari mengejar istri nya.
"Ya ampun sayang, aku melupakan nya, pasti kakak ipar nangis." ucap Dira sambil menepuk jidat nya sendiri.
"Melupakan apa sih Yang?" tanya Nathan dengan wajah bingung nya.
"Aku kan sudah janji sepulang dari rumah kak Fani akan ajak kakak ipar ke rumah kamu untuk minta mangga muda yang langsung dari pohon nya." jawab Dira.
"Ya sudah kita langsung ke rumah saja, nanti aku suruh mamang yang metik." ucap Nathan.
"Masalah nya kakak ipar mau nya kak Byan yang metik langsung." ucap Dira.
"What! Byan kan ngga bisa manjat." teriak Nathan sambil menahan tertawa nya.
"Nah itu dia, ya sudah ayo kita samperin." ucap Dira sambil menarik tangan Nathan.
Sedangkan yang sedang di bicarakan Dira dan Nathan lagi menangis sambil memeluk tubuh ibu nya.
"Kenapa kamu menangis? Seperti anak kecil saja, kamu kan sudah jadi seorang istri, malu sama bu dokter." ucap Fadil.
"Pak, harap di maklum saja, soalnya Putri lagi ngidam." jawab Nisa.
__ADS_1
"Ngga apa-apa pak, karena saya juga sudah tahu kondisi nya Putri." ucap dokter Mery sambil tersenyum.
"Apa! Jadi kita bakalan punya cucu." teriak Fadil dengan wajah bahagia nya.
Nisa dan Ayu pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kita akan menjadi seorang kakek." ucap Raka sambil memeluk Fadil dengan bibir tersenyum bahagia.
"Terus Putri mau apa sampai nangis seperti itu?' tanya Raka.
"Kak Byan sama kak Dira melupakan janji nya." jawab Putri sambil mengusap air mata nya.
Byan, Dira dan Nathan yang sudah berada di sana pun hanya saling menatap.
"Kalian kenapa melupakan janji kalian sama Putri?" tanya Raka.
"Maaf pah, tadi kita memang benar-benar lupa, tapi sekarang sudah ingat kok." jawab Dira.
"Benar?" tanya Putri sambil menatap ke arah Dira.
"Kakak ipar mau mangga yang langsung dari pohon nya kan? Ayo kita ke rumah kak Nathan, di sana mangga nya lebat sekali." ucap Dira.
"Jadi cuma karena mau mangga yang langsung di petik dari pohon nya kamu nangis." ucap Fadil.
"Kamu ngga usah seperti itu juga wajah nya Dil, kamu lupa waktu istri mu ngidam sampai nagis ingin apa?" tanya Raka mengingatkan.
"Stop Ka, jangan ungkit yang sudah berlalu." ucap Fadil yang ngga mau semua orang tahu akan kejadian waktu istri nya hamil.
"Ah, om Fadil ngga asik, ceritain dong om." ucap Dira.
"No, sudah lah sekarang kita pulang saja, bu dokter maaf kan atas keributan yang sudah terjadi barusan, karena sudah malam kami mohon undur diri." ucap Fadil.
"Pak, Fadil ngga ikut pulang ya." ucap Farel.
"Kakak, kakak itu baru lamaran belum sah menjadi seorang suami, jadi jangan yang macam-macam." ucap Nisa.
"Kakak ngga macam-macam kok bu, cuma satu macam saja." ucap Farel.
"Yang satu macam itu apa kak?" tanya Dira.
"Rahasia." jawab Farel sambil tersenyum.
"Ah ngga ayah nya ngga anak nya semua nya pada ngga asik." ucap Dira sambil memberenggut.
"Ya sudah kalau begitu kita semua pamit." ucap Nisa sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan dokter Mery lalu beralih ke Fani.
"Kakak ipar, kalau kak Farel nakal sentil aja ya telinga nya yang kenceng." ucap Putri menggoda Farel, lalu pergi mengikuti langkah orang tua nya.
__ADS_1
Fani, dokter Mery dan Dhea pun tersneyum melihat kelakuan adik nya Farel.
Semua nya sudah pergi meninggalkan rumah dokter Mery.
Raka, Ayu, Fadil dan Nisa, langsung pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Byan, Putri, Nathan dan Dira pergi ke rumah Nathan dulu.
"Tante, terima kasih sudah mengikut sertakan saya di acara nya tante, kalau begitu saya juga permisi, karena sudah malam." ucap Dhea.
"Terima kasih ya nak, sudah mau membantu tante untuk merias wajah putri tante satu-satu nya ini, dan jangan lupa nanti semua nya harus datang, titip salam sama semua nya." ucap dokter Mery.
"Insya Allah tante, semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat." ucap Dhea.
"Bu, aku mau pas hari pernikahan nanti, kak Dhea lagi yang merias nya." ucap Fani.
"Bagaimana nak Dhea, apa bersedia?" tanya dokter Mery.
"Insya Allah bisa."jawab Dhea sambil tersenyum.
"Terima kasih kak." ucap Fani.
"Kalau begitu saya permisi." ucap Dhea lalu pergi meninggalkan rumah dokter Mery setelah pamitan dan berjabat tangan.
"Nak, ibu mau menemani om sama tante kamu di ruang keluarga ya."ucap dokter Mery.
"Iya bu." jawab Fani sambil tersenyum.
"Akhir nya, tinggal selangkah lagi kita akan hidup bersama." ucap Farel sambil memeluk tubuh Fani dari belakang.
"Mas jangan begini, nanti ibu membalik kan tubuh nya lalu melihat kita lagi." ucap Fani sambil terus menatap punggung ibu nya.
"Ngga bakalan, karena ibu kan sudah tahu kalau aku adalah calon suami kamu." ucap Farel lalu mencium pipi Fani.
"Mas, kamu sudah berani ya sekarang." ucap Fani sambil berusaha melepaskan tangan yang melingkar di pinggang nya.
"Ini baru perkenalan saja sayang, tunggu nanti dua minggu lagi." ucap Farel.
"Memang nya dua minggu lagi mau apa mas?" tanya Fani pura-pura polos.
"Mau memiliki kamu seutuh nya." jawab Farel sambil membalikan tubuh Fani hingga menghadap dirinya.
Dua mata bertemu, ada sinaran cinta di sana hingga mendorong Farel untuk mendekatkan bibir nya ke bibir Fani.
Satu centi lagi bibir mereka bertemu, tapi sayang harus gagal kembali karena mendengar suara ponsel nya yang berdering sangat nyaring.
"\*\*\*\*, selalu berakhir seperti ini." ucap Farel sambil mengambil ponsel nya dari saku celana.
Fani hanya tersenyum melihat wajah kesal calon suami nya itu.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, tunggu dua minggu lagi." bisik Fani.