
Selagi mereka berkumpul suara dering ponsel Farel pun berdering, Farel meminta izin untuk menerima panggilan.
"Halo calon makmum ku." ucap Farel sambil tersenyum.
"Halo pak, maaf chat nya baru ku buka, aku sekarang lagi di klinik." ucap Fani.
"Maaf anda salah sambung, saya bukan bapak kamu." ucap Farel lalu memutuskan panggilan nya.
Farel kesal dengan Fani yang selalu manggil dirinya dengan panggilan Pak.
Farel pun hendak masuk kembali ke dalam ruangan dengan wajah kesal nya, tapi ponsel nya kembali berdering.
Farel pun kembali menerima panggilan dari Fani tapi dia hanya diam tidak bicara satu kata pun.
"Halo pak, eh halo mas." ucap Fani, tapi Farel tetap diam seribu bahasa.
"Sayang nya aku ngambek ya?" Fani pun memberanikan dirinya untuk memanggil sayang kepada Farel.
"Kamu panggil apa barusan? Coba diulang?" tanya Farel sambil tersenyum.
"Yang mana ya?" goda Fani, Fani memang meminta waktu untuk melaju ke pernikahan satu bulan ke depan, jadi Fani harus bisa lebih dekat dengan Farel agar dia tahu apa dia akan merasa nyaman dan cocok dengan Farel atau tidak.
"Yang barusan, ayolah pertanyaan nya diulang kembali, kalau tidak aku matikan panggilan nya." ancam Farel.
"Ya sudah, ya sudah, kalau gitu aku ulang lagi pertanyaan nya, masa seorang polisi ambekan." ucap Fani.
"Biar saja, yang penting tetap masih tampan." jawab Farel narsis.
"Idih narsis nya pak polisi yang satu ini." ucap Fani.
"Ya sudah ulang dong sayang pertanyaan yang tad." pinta Farel memaksa.
"Aku cuma nanya Sayang nya aku ngambek?" ucap Fani mengulang lagi kata-kata nya.
__ADS_1
"Nah gitu dong kalau lagi berdua, kalau kamu panggil pak, aku merasa jadi bapak kamu." ucap Farel sambil tersenyum.
"Ya sudah ya kalau gitu aku kerja lagi, awas tugas yang bener, matanya jangan jelalatan kemana-mana." ucap Fani.
"Sebentar amat." protes Farel yang merasa masih kangen dengan Fani.
"Kan aku lagi kerja sayang, barusan aku menghubungi kamu karena belum ada pasien, sekarang sudah ada pasien nya." ucap Fani yang mulai membiasakan memanggil Farel dengan panggilan Sayang.
"Ya sudah, tapi nanti malam aku ke rumah ya?" ucap Farel.
"Iya." jawab Fani singkat.
"Ya sudah bye sayang, kerja yang rajin ya? Awas jangan salah suntik." ucap Farel.
Farel pun menyimpan kembali ponsel nya kedalam saku celana nya lalu masuk kembali ke dalam ruangan.
"Jadi bapak masih akan berkeras hati? Kalau bapak masih dengan pendirian papah terserah," ucap Nisa.
"Tapi dia sudah membuat anak kita terluka sayang, lihat bahkan sampai hari ini pun luka nya belum hilang." ucap Fadil.
"Maaf kalau saya lancang, ini memang termasuk kasus penganiayaan dan kami menerima laporan dari keluarga bapak, tapi kalau korban sudah memaafkan nya berarti kami akan menutup berkas kasus ini dan berlanjut ke cara kekeluargaan, dan keputusan ini ada pada bapak seorang." ucap pak Rizal.
Fadil pun terdiam, dia terus bolak balik berpikir tentang apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Bagaimana pak? Apa bapak masih dengan pendirian bapak?" tanya Nisa dengan tatapan tajam nya.
Fadil tahu kalau istri nya sedang marah pada dirinya lewat tatapan nya itu.
"Bu, sudah lah, ngga usah di paksa, kami tidak mau kalau pak Fadil memaafkan kami secara terpaksa, kalau memang anak saya harus di penjara kita berdua ikhlas." ucap pak Darwis.
Bu Lasmi yang mendengar semua itu kembali pingsan, dalam keadaan tubuh yang lelah dan belum makan apa-apa dari sejak mendengar kabar Cintya tubuh nya menjadi lemah.
"Bu, bangun bu, maafkan Cintya, ini semua memang salah Cintya, Cintya siap menjalani hukuman nya asal ibu harus kuat dan sehat." teriak Cintya sambil memeluk tubuh bu Lasmi yang pingsan kembali.
__ADS_1
"Apa kita bawa saja ke rumah sakit pak?" tanya Raka yang merasa iba melihat semua ini.
"Ngga perlu pak, istri saya hanya kecapean dan belum sempat makan apa-apa semenjak mendengar kabar Cintya yang di tahan di kantor polisi." jawab pak Darwis.
"Pak, Putri mohon pak, luluhkan sedikit saja hati bapak, Putri tahu apa yang dilakukan kak Cintya memang salah, tapi bapak lihat juga ibu nya yang seperti itu, Putri ikhlas kok memaafkan semua kesalahan kak Cintya, dan untuk luka ini, luka ini memang belum hilang, tapi Putri anggap ini hanya lukisan saja, andai saja yang pingsan itu ibu, apa bapak juga akan tetap dengan pendirian bapak?" ucap Putri sambil memohon-mohon sama Fadil.
"Pak, maaf saya lancang, apa yang di bilang Putri memang benar, dan saya sebagai suami nya akan menerima Putri apa ada nya, luka yang ada di wajah dan tubuh Putri akan saya terima, dan nanti saya akan berusaha untuk menghilangkan nya dari tubuh Putri, saya akan mencari dokter ahli untuk itu." ucap Byan yang membantu membujuk Fadil mertua nya.
"Sudah lah Dil, kamu jangan keras kepala seperti itu, aku saja sudah memaafkan mereka, memang yang di lakukan Caca adalah suatu kesalahan dan termasuk dalam pidana, tapi kamu lihat kan dia juga sudah sangat menyesali nya dan dia sudah bersumpah tidak akan melakukan nya lagi kepada siapa pun." ucap Raka sambil menepuk bahu Fadil.
Fadil pun hanya terdiam dan sesekali melirik ke arah istri nya.
"Ya sudah terserah bapak, ibu capek." ucap Nisa sambil berdiri.
"Mau kemana mah?' tanya Fadil sambil menarik tangan istri nya.
"Mau cari suami yang baik hati dan tidak keras kepala." jawab Nisa ketus.
"Kok bilang nya seperti itu?" tanya Fadil.
"Lagian keras kepala banget jadi orang, sudah lah maaf kan mereka dan tutup kasus ini sebelum kasus nya sampai ke meja pengadilan, anak bapak saja yang jadi korban nya mau dengan ikhlas memaafkan nya kok." ucap Nisa.
"Ya sudah bapak mau memaafkan mereka asal kamu jangan marah ya." ucap Fadil sambil mencium tangan istri nya.
"Maafkan mereka dengan ikhlas bukan karena ibu." ucap Nisa.
"Iya bapak ikhlas kok, apalagi ada bayaran nya, pasti lebih ikhlas." ucap Fadil.
"Itu bukan ikhlas nama nya." ucap Nisa.
"Iya sayang iya, bapak kan hanya bercanda, tapi nanti malam dua ronde ya?" bisik Fadil yang masih sempat-sempat nya mengingat adegan ranjang.
Nisa hanya diam dan menatap tajam pada Fadil.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita cabut laporan nya dan tutup kasus nya, dan saya memaafkan perbuatan mereka." ucap Fadil.
Mereka pun semua tersenyum bahagia, dan Cintya langsung mencium tangan Fadil berkali-kali.