Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Fani Pingsan


__ADS_3

"Tampan sekali keponakan aunty ini, siapa nama nya dek?' tanya Fani


Mereka pagi ini sudah berkumpul di ruang rawat Putri, Raka mengambil ruang vvic agar Putri dan bayi nya merasa nyaman.


"Calvin Byan Pratama." jawab Putri.


""Wah nama yang bagu." ucap Fani sambil menggendong Calvin.


"Sini omah gendong." ucap Ayu.


"Terus nenek nya kapan menggendong nya ini." ucap Nisa sambil pura-pura ngambek.


"Ya ampun, mamah, ibu, jangan rebutan dong, sabar gantian." ucap Putri.


"Iya bu, sabar, gantian saja." ucap Fadil.


"Makanya kak, buruan hamil deh, biar ngga merebutkan Calvin." ucap Putri.


Fani pun seketika terdiam, dirinya pun sangat mengharap kan sekali kehadiran seorang bayi, tapi yang maha kuasa belum memberikan nya.


"Sabar saja nak, jangan terlalu di pikirkan." ucap Nisa sambil mengelus punggung Fani.


Sebagai seorang istri dia juga merasakan apa yang di rasakan Fani menantu nya.


"Maaf kan aku ya kak, jika kata-kata ku menyakiti hati kakak." ucap Putri.


"Ngga apa-apa dek, kamu ngga salah kok, mungkin tuhan saja belum memberikan kepercayaan nya sama kakak." ucap Fani.


"Pagi semua, mana keponakan om." teriak Farel yang masih lengkap dengan seragam kepolisian nya.


Semalam dia habis jaga malam, jadi baru sempat mengunjungi ke rumah sakit.


"Pagi mas." ucap Fani lalau mencium telapak tangan Farel, dan Farel pun tidak lupa mencium kening Fani dengan lembut.


"Kamu langsung kesini nak?" tanya Nisa.


"Iya bu, makanya masih pakai seragam, oh ya sayang ini bubur ayam kesukaan kamu, mas sengaja beli banyak sekalian buat semua nya sarapan." ucap Farel sambil memberikan bubur ayam yang dia tenteng dari tadi.


"Aku tata di meja ya mas." ucap Fani lalu menghampiri sofa dan menata bubur ayam per kotak nya di atas meja.


"Wah tampan ya keponakan om, mirip om nya kalau ini." ucap Farel.


"Mirip kakak dari mana nya, Calvin mirip sekali dengan ayah nya, sebel aku." ucap Putri.


"Kok sebel nak?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Ya lagian ya mah, kan aku yang mengandung selama sembilan bulan, aku juga yang melahirkan, tapi begitu dia lahir, malah mirip mas Byan," ucap Putri sambil cemberut.


Byan yang sedang berada di samping nya pun mengelus lembut rambut Putri, "Nanti kita buat lagi, siapa tahu yang kedua perempuan dan mirip kamu." ucap Byan sambil tersenyum.


"Mas, Calvin aja baru lahir dan masih terasa, ini malah mikir mau buat lagi." ucap Putri.


Semua yang berada di ruangan pun tertawa mendengar ucapan dari Putri.


"Yang pasti nya kalau kakak ipar nanti punya anak yang kedua, pasti akan mirip sama aku." ucap Dira.


"Mirip darimana nya, kan yang buat kakak sama kakak ipar." ucap Byan.


"Sudah-sudah, selalu saja berdebat, sekarang kita sarapan bubur nya nanti dingin lagi." ucap Nisa.


Mereka pun langsung ngambil bubur yang sudah tersedia di atas meja.


"Yang, sini aku suapin." ucap Farel, yang memang sudah tradisi Farel kalau lagi makan sama Fani harus Farel yang menyuapi.


"Biar aku sendiri saja mas, malu banyak orang." ucap Fani pelan.


"Ngga usah malu sayang, kita kan sudah sah." ucap Farel sambil memberikan suapan pertama nya.


Fani bukan nya menyantap bubur yang di berikan Farel, tapi dia malah berlari ke toilet.


"Sayang, kamu kenapa." teriak Farel sambil berlari mengejar Fani ke toilet.


"Ngga tahu, lagi berdebat kali sama Farel." jawab Nisa.


"Sudah biarkan mereka berdua yang menyelesaikan nya, kita cuma mantau saja." ucap Raka.


"Iya benar, selagi masalah mereka berdua masih bisa mereka hadapi, kita ngga boleh ikut campur." ucap Ayu.


Mereka pun melanjutkan sarapan nya, sedangkan baby Calvin dia sedang tertidur di dalam box bayi.


Byan dengan telaten menyuapi Putri, walaupun Putri sudah meminta nya agar makan sendiri, tapi Byan bersikeras ingin merawat Putri pasca melahirkan.


"Mas, biar aku sendiri, kalau seperti ini aku sudah seperti orang sakit aja." ucap Putri.


"Ngga apa-apa, pokok nya semua nya biar mas yang lakukan, kamu diam saja." ucap Byan.


"Nak, Nathan ngga kesini?"tanya Raka.


"Tadi sih bilang nya mau kesini pah, mungkin masih dalam perjalanan." jawab Dira.


"Terus bagaimana, kakak kamu sudah melahirkan, apa sekarang kamu siap untuk menikah dengan Nathan?" tanya Raka.

__ADS_1


"Aku sih terserah sama kak Nathan nya aja pah, kalau kak Nathan siap aku juga siap." jawab Dira.


"Berarti kalian akan mengadakan resepsi lagi dong." ucap Fadil.


"Ya, biar hidup ku semakin tenang, karena anak perempuanku yang cantik ini sudah ada yang menjaga nya." ucap Raka sambil mengelus rambut Dira.


"Pah, walaupun aku sudah nikah, aku tetap boleh seperti ini kan?" tanya Dira sambil memeluk erat papah nya dari samping.


"Ngga boleh, karena yang boleh kamu peluk cuma aku seorang." ucap Nathan yang sudah berdiri di depan pintu.


Saking asik nya mereka berbincang dan bercanda, mereka sampai tidak mendengar pintu ruangan ada yang membuka nya.


"Kak Nathan, ya sudah kalau gitu aku ngga mau nikah sama kakak." ucap Dira yang masih memeluk ayah nya.


"Kok gitu sayang, om, tante apa kabar?" tanya Nathan lalu mencium telapak tangan mereka satu per satu, begitu mau ber tos ria dengan Byan, Byan malah mengulurkan tangan kanan nya.


"Kan elo bakalan jadi adik ipar gue, jadi lo harus mencium telapak tangan gue." ucap Byan sambil mengulurkan tangan nya.


"Jangan cari kesempatan deh lo." ucap Nathan.


"Sungkem ngga? kalau ngga, gue ngga bakalan merestui kalian berdua." ucap Byan sambil menahan senyum nya.


Nathan pun dengan pasrah mencium telapak tangan Byan.


"Seandainya lo bukan kakak nya Dira, sudah ku jorokin lo ke jurang." bisik Nathan.


"Memang nya lo berani?" tanya Byan dengan penuh kemenangan.


"Mas sudah, kalian ini selalu saja ribut." ucap Putri.


"Nak, orang tua kamu sehat?" tanya Raka setelah Nathan duduk di depan nya.


"Alhamdulilah om sehat." jawab Nathan.


"Bagaimana rencana kalian berdua, apa masih mau di lanjut?" tanya Raka.


"Mau om, nanti saya bicarakan lagi sama papah dan mamah." jawab Nathan.


"Sayang, kamu jangan manggil om sama tante lagi dong, mulai biasakan manggil papah dan mamah dari sekarang." ucap Ayu.


"Baik tan, eh mah." jawab Nathan yang masih kaku untuk mengganti panggilan kepada calon mertua ya.


"Dir, tolong panggilkan dokter." teriak Fadil dengan Fani yang ada di gendongan nya yang sedang tidak sadar kan diri.


"Fani kenapa nak?" tanya Nisa khawatir.

__ADS_1


"Ngga tahu mah, tadi muntah-muntah terus pingsan." jawab Fadil sambil membaringkan Fani diatas sofa panjang.


__ADS_2