
"Ya sudah Nis, gimana kalau sekarang kita ke mall saja beli hantaran buat lamaran nanti malam." ucap Ayu.
"Tapi beli apa Yu?" tanya Nisa.
"Ya ampun NIs, kayak yang belum pernah saja, ya beli tas, sandal, sepatu, kue, dan jangan sampai lupa perhiasan nya." jawab Ayu.
"Kalau perhiasan sih Farel yang beli katanya." ucap Nisa.
"Ya sudah kalau gitu kita beli buat hantaran nya saja, masa kita melamar anak orang ngga bawa apa-apa." ucap Ayu.
"Ya sudah ayo kalau gitu." ucap Nisa sambil berdiri.
"Naik mobil siapa?" tanya Ayu.
"Mobil kamu aja ya? Mobil kamu kan besar jadi muat nanti kalau kita belanja banyak." jawab Nisa.
"Pakai mobil aku ya? Terus yang setir aku juga gitu?" tanya Ayu.
"Ya iya lah, kan aku ngga mau pakai mobil kamu, takut lecet, mobil kamu kan lecet dikit aja aku benerin nya harus jual motor dulu." jawab Nisa sambil tertawa.
"Ngga gitu juga kali Nis, ya sudah lah ayo kita berangkat, ntar keburu siang macet lagi." ucap Ayu.
Akhir nya mereka pergi berdua tanpa di dampingi seorang sopir.
Sedangkan Farel dan Fani baru saja sampai di mall dan langsung menuju toko perhiasan langganan ibu nya.
"KIta ke toko perhiasan nya tante Nia saja, toko itu langganan ibu." ucap Farel sambil menggandeng tangan Fani.
"Terserah mas saja, aku ngikut saja." ucap Fani sambil tersenyum.
"Halo tante." sapa Farel begitu masuk ke dalam toko perhiasan tante Nia.
"Halo sayang, sudah lama kita ngga jumpa, tumben kesini, tante mencium bau-bau pernikahan rasa nya." ucap tante Nia sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan pipi kanan Farel.
"Tante bisa saja, oh iya tan kenalkan ini calon istri aku." ucap Farel sambil mengenalkan Fani.
"Halo tante saya Fani." ucap Fani sambil mencium tangan tante Nia.
"Halo sayang, cantik nya? Pintar juga kamu mencari calon istri nak." ucap Farel sambil memeluk Fani.
__ADS_1
"Tante juga sangat cantik." ucap Fani.
"Ayo sayang duduk, kita berbincang di sana biar enak ngobrol nya." ajak tante Nia.
"Jadi kapan kalian menikah nya?" tanya tante Nia setelah mereka duduk di sofa yang di sediakan di ruangan itu.
"Belum tahu tan, kan nanti malam baru lamaran nya juga." jawab Farel.
"Oh, jadi baru mau lamaran, tante kira mau langsung menikah." ucap tante Nia.
"Mana bisa tan, kita aja baru kenal tiga mingguan." ucap Farel.
"What! Baru kenal tiga minggu?" teriak tante Nia dengan wajah kaget nya.
"Iya tan, tapi kita sudah merasa cocok dan nyaman, hingga kita memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi, kita juga bukan anak abg lagi tan, kita sudah matang ingin hidup berumah tangga." jawab Farel.
"Benar juga sih, kalian hebat ya, udah mau melanjutkan ke pernikahan dalam jangka pertemuan yang baru tiga minggu, tante do\*a kan semoga acara nya lancar, dan kalian hidup bahagia sampai kalian tua dan maut yang memisahkan." ucap tante Nia sambil tersenyum.
"Aamiin, makasih tante do\*a nya." ucap Fani.
"Jadi sekarang kalian kesini butuh cincin buat acara lamaran nanti ya?" tanya tante Nia.
"Ada nak, baru kemarin datang, barang nya limited edition lagi, kamu beruntung mendapatkan nya." ucap tante Nia.
"Mas, yang biasa aja, ngga usah yang mahal-mahal." ucap Fani.
"Ngga apa-apa sayang, ini kan sekali seumur hidup, aku ingin kamu menemaniku sampai rambut aku memutih dan sampai aku menghembuskan nafas ini." ucap Farel yang langsung di bekap oleh Fani.
"Mas, jangan bicara seperti itu, aku ngga suka, walaupun aku tahu itu akan terjadi." ucap Fani.
"Ah soswit sekali kalian berdua, ya sudah kalau begitu tante ambilkan dulu perhiasan nya ya." ucap tante Nia.
"Iya tante." jawab Farel dan Fani secara serempak.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya." ucap Farel.
"Jangan lama-lama, terus jaga tuh pandangan, di sini banyak cewek cantik dan seksi." ucap Fani sambil melihat ke arah sekitar.
"Tenang sayang, di hati dan pikiranku hanya ada wajah dan nama mu saja." ucap Farel sambil mencubit hidung Fani yang sedikit mancung itu, lalu pergi ke toilet mall.
__ADS_1
Sambil menunggu tante Nia dan Farel, Fani pun duduk sambil melihat-lihat chat yang masuk di ponsel nya.
"Kamu Fani kan?" tanya seseorang yang baru masuk ke toko perhiasan itu.
"Iya benar, siapa ya? Jawab Fani sambil mengangkat wajah nya.
"Kamu." teriak Fani sambil tangan nya menunjuk ke arah pria masa lalu nya yang sedang di gandeng oleh sahabat nya sendiri, ralat mantan sahabat.
Dulu Fani sahabatan dengan Mawar, tapi semenjak Mawar merebut Satria dari nya, mereka pun memutuskan untuk tidak sahabatan lagi.
"Kamu kerja di sini? Bukan nya kamu kuliah di kesehatan?" tanya Mawar sambil memandang remeh kearah Fani.
Fani memang mengganti seragam nya dulu tadi sebelum keluar dari rumah sakit, jadi ngga bakalan ada yang tahu kalau dia seorang suster.
"Ya pasti dia sedang kerja di sini sayang, mana sanggup dia bayar kuliah, dulu saja aku cuma minta dibelikan rokok dia ngga mampu." ejek Satria.
Ya, dulu selagi pacaran Satria selalu minta di belikan ini dan itu kepada Fani, tapi Fani bukan anak bodoh yang bisa di manfaatkan oleh seorang pria.
Fani pun pura-pura ngga punya uang dan ngga sanggup untuk membeli sebungkus rokok.
"Memang nya kamu ngga mampu juga sayang untuk beli sebungkus rokok?" tanya Mawar.
"Ya kan kamu tahu, dulu aku masih kuliah, mana ada uang aku, tapi sekarang kamu lihat kan? aku akan membelikan kamu seperangkat perhiasan, karena aku sudah sukses sekarang, itu semua berkat semangat dari kamu sayang." ucap Satria.
"Ya dan pilihan kamu sudah memilih aku daripada dia sudah tepat sayang, coba kalau kamu masih sama dia." ucap Mawar dengan tatapan sinis nya.
"Kalau aku masih sama dia, aku pasti masih jadi gembel." jawab Satria.
Fani hanya diam saja mendengar segala ocehan pasangan gila di depan nya.
"Aku malah bersyukur kamu rebut dia dari aku, kalau aku masih bersama dia, sudah aku pastikan hidup ku menderita." ucap Fani dengan suara lantang nya.
"Apa kamu bilang, berani-berani nya kamu, kamu ngga lihat pakaian dia? semua yang di pakai barang branded," ucap Mawar.
"Sampah cocok nya sama pemulung." ucap Fani.
"Brengsek kamu bilang aku pemulung." teriak Mawar sambil melayangkan tangan nya ke atas dan hampir mengenai pipi mulus nya Fani.
Sebelum tangan itu nempel di pipi mulus nya Fani, ada sebuah tangan yang menahan nya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan coba-coba menyentuh kulit calon istriku." teriak seorang pria dengan suara barithon nya.