
Byan merasa geli di bagian ketiak nya, hingga membuat dirinya terbangun dari tidur lelap nya.
"Yang, kamu ini bangun tidur langsung mengendus ketiak aku, memang nya ngga bau apa." ucap Byan sambil mengerjap kan kedua matanya.
"Ini lebih wangi sayang, kamu jangan pakai deodoran ya." ucap Putri.
"Tapi Yang, masa aku ngga pakai deodoran, aku ngga pede lo Yang." ucap Byan.
"Pokok nya awas aja kalau pakai deodoran." ucap Putri.
"Ya sudah aku ngga pakai deodoran, tapi sekarang biarkan aku bangun, aku mau mandi." ucap Byan.
"Ya sudah kalau mau mandi, mandi saja, tapi aku ikut ya." ucap Putri sambil tersenyum.
"Yang aku itu mau mandi, bukan mau shoping." ucap Byan yang heran dengan istri nya.
"Pokok nya aku ikut, ayo kalau mau mandi." ucap Putri sambil bangun dari tidur nya.
Byan hanya pasrah dan mengikuti kemauan istri nya itu.
Sebenar nya Byan sangat senang dan sangat mengharapkan sekali kalau Putri ikut mandi bareng, tapi setelah ingat akan kondisi Putri Byan hanya bisa menghembuskan nafas kasar nya.
"Mas, katanya mau mandi, ayo dong." ucap Putri.
"Iya sayang ini juga mau kok." ucap Byan sambil berdiri lalu pergi ke kamar mandi.
Putri mengikuti dari belakang dan melihat Byan membuka piyama bagian atas nya hingga Putri pun menelan ludah nya sendiri ketika melihat ketiak yang penuh bulu itu diangkat ke atas.
Putri merasa tergoda dengan ketiak Byan, karena menurut Putri Byan kelihatan lebih macho dengan bulu di ketiak nya.
Putri langsung memeluk dan mencium ketiak Byan hingga puas.
Byan hanya memejamkan mata nya merasakan geli bercampur nikmat.
Putri pun terus mencium ketiak Byan dengan tangan nya yang terus mengelus dada dan tubuh lain nya milik Byan hingga membangkitkan gairah Byan.
Tapi Byan dengan sekuat tenaga menahan nya, lalu Byan pun menyalakan shower untuk menghilangkan rasa panas di tubuh nya.
Tangan Putri tidak diam di situ saja, dia terus menyentuh dan mengelus apa yang dia ingin sentuh.
"Sayang kok udah keras sih?" tanya Putri sambil terus mengelus si kucrit yang masih sembunyi di balik underware nya.
"Dari semalam juga udah begini Yang." jawab Byan.
"Tumben kamu bisa menahan nya?" tanya Putri dengan tangan yang masih menyentuh si kucrit.
__ADS_1
"Karena aku ngga mau terjadi sesuatu pada istri dan anakku." jawab Byan sambil mengelus rambut panjang Putri.
Putri pun hanya tersenyum sambil membuka sarang nya si kucrit.
Tidak berapa lama tubuh Byan pun sudah tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh nya.
Si kucrit pun sudah terlihat, seakan-akan dia sedang menyapa Putri dari bawah sana.
Putri yang melihat si kucrit pun langsung merasa tubuh nya terkena aliran listrik.
Putri melakukan apa yang ia ketahui dan yang ia ingin coba, hingga membuat Byan kalang kabut di buat nya, tapi Byan tetap berusaha untuk menahan nya, karena Byan ngga mau menyakiti kandungan Putri.
Putri semakin agresif hingga membuat Byan pun terlena dan mulai membalas nya.
"Kok seperti yang ragu-ragu mas?" tanya Putri.
"Aku takut menyakiti anak kita sayang." jawab Byan sambil mengelus perut Putri yang masih datar.
"Pelan-pelan saja mas." ucap Putri.
"Tapi kalau kamu merasakan sakit atau kram di perut, kamu harus bilang dan harus menghentikan nya ya sayang." ucap Byan.
"Oke." jawab Putri lalu kembali melakukan apa yang ingin dia lakukan.
*
*
Hari demi hari berlalu dengan seiring nya waktu, tanpa terasa hari pernikahan Farel dan Fani pun tiba waktu nya.
Di kediaman Fani sudah ramai dengan orag-orang yang sedang mempersiapkan semua nya.
"Maaf tante saya terlambat, soalnya anak saya lagi rewel tadi." ucap Dhea yang baru datang dengan Nura dan Nuri.
Dhea membawa Nura dan Nuri saat ini, karena banyak yang harus di make up.
"Ngga apa-apa nak, masih banyak waktu kok, ini kembar juga ya?" tanya dokter Mery.
"Iya tan, dia ini adik nya kak Alina." jawab Dhea.
"Ya ampun pantes saja wajah nya ada mirip-mirip Alina, pada cantik semua." ucap dokter Mery.
"Mereka ini ikut kerja dengan saya semenjak mereka lulus, jadi kemahiran mereka pun ngga usah di ragukan lagi." ucap Dhea.
"Pokok nya tante percayakan semua nya kepada kamu." ucap dokter Mery.
"Makasih tante sudah mempercayakan semua nya kepada saya." ucap Dhea.
__ADS_1
"Karena kamu yang terbaik, ya sudah kamu langsung saja ke kamar nya Fani." ucap dokter Mery.
"Baik tan, ayo double Nur kita ke kamar nya calon pengantin" ajak Dhea.
"Lo kok manggil nya double Nur?" tanya dokter Mery penasaran.
"Karena kan nama nya Nura dan Nuri, dari pada saya ribet manggilnya, jadi saya satuin aja." jawab Dhea sambil tersenyum.
"Kamu ini nak, ada-ada saja buat orang lain tersenyum." ucap dokter Mery.
"Kan buat orang lain tersenyum ibadah tan." ucap Dhea.
"Oh iya keluarga kamu pada datang kan nanti?" tanya dokter Mery.
"Insya Allah datang semua nya tan, cuma pak satpam dan bibi yang ngga datang." jawab Dhea.
"Kamu ini nak, semakin kesini semakin lucu aja." ucap dokter Mery sambil tersenyum.
"Ya sudah tan, saya ke kamar nya Fani dulu, kalau ngobrol terus yang ada pernikahan nya di pending lagi." ucap Dhea.
"Iya nak silahkan." jawab dokter Mery.
Dokter Mery ngga habis pikir dengan kelakuan Dhea sekarang, dia selalu membuat nya tersenyum ngga jauh beda dengan ibu nya.
Dhea pun berjalan menuju kamar Fani di ikuti Nura dan Nuri di belakang nya.
"Permisi, boleh saya masuk." teriak Dhea sambil mengetuk pintu kamar Fani.
"Eh kak Dhea, ayo kak masuk." ajak Fani.
"Maaf ya Fan kakak telat, biasa ada drama dulu sama di kecil." ucap Dhea.
"Ngga apa-apa kok kak, kan masih banyak waktu." ucap Fani.
"Double Nur tolong persiapkan semua nya, dan yang mau di make up silahkan minta di make up sama double Nur ini." ucap Dhea sambil menyiapkan peralatan make up yang akan di gunakan.
Semua yang ada di kamar Fani pun tersenyum mendengar ucapan dari Dhea.
"Pas acara lamaran kamu terlihat cantik sampai-sampai calon suami nya melongo tidak kedip, dan hari ini akan kakak buat lebih cantik lagi biar suami nya ngga bisa kedip lagi." ucap Dhea.
"Jangan lah kak, kalau ngga kedip lagi gimana nanti." protes Fani.
"Cie, yang sudah mulai perhatian." goda Dhea.
__ADS_1
Fani pun cuma tersenyum malu di goda Dhea.