
"Pak polisi itu tampan sekali, aku deketin ah." gumam bathin Mia sambil menatap Farel yang sedang menunggu Fani di lobi rumah sakit.
Farel tidak terlalu melihat ke arah sekitar, dia fokus dengan ponsel nya.
"Aduh maaf pak, saya ngga sengaja." ucap Mia yang dengan sengaja menyenggol tubuh Farel.
Fani yang memang sudah selesai dengan tugas nya dan dia juga sudah minta izin untuk tidak kembali lagi ke rumah sakit pun sedang menatap Mia yang sedang menggoda calon suami nya.
Fani dengan sengaja tidak langsung menghampiri Farel, dia ingin melihat apa yang akan di lakukan calon suami nya itu di kala jauh dari diri nya.
"Ngga apa-apa sus, saya juga salah karena sudah berdiri menghalangi jalan." ucap Farel.
"Panggil saja Mia pak Farel." ucap Mia sambil mengulurkan tangan nya.
Fani yang melihat kelakuan Mia pun hanya menggelengkan kepala nya, Mia itu gadis cantik dan supel, tapi sayang dia genit, apalagi kalau ada pria tampan di hadapan nya, segala jurus dia keluarkan.
"Itu anda sudah tahu nama saya." ucap Farel.
"Kan saya lihat name tag nya bapak, oh iya siapa yang sakit pak? Biar saya yang bantu." ucap Mia.
"Ngga, saya di sini lagi nunggu calon istri saya." jawab Farel.
"Apa! Jadi bapak sudah mempunyai calon istri?" ucap Mia sedikit berteriak.
"Iya," jawab Farel sambil melihat kearah sekitar lobi rumah sakit.
Terlihat lah wanita pujaan nya sedang berdiri sambil menatap kearah dirinya.
"Sayang, kenapa diam di situ." ucap Farel sambil tersenyum.
Mendengar ucapan yang dilontarkan Farel, Mia pun ikut melihat ke arah yang di tatap oleh Farel.
"Suster Fani, jadi pak Farel ini calon suami suster Fani?" gumam Mia sambil menatap tidak percaya.
"Aku ngga mau ganggu kalian." jawab Fani sambil menghampiri Farel dan Mia.
"Suster Fani, jadi pak Farel ini calon suami nya suster?" tanya Mia.
"Iya suster Mia, dia adalah calon suami saya, dan sebentar lagi kita akan menikah."jawab Fani sambil tersenyum.
"Oh, kamu sangat beruntung sekali suster Fani." ucap Mia.
__ADS_1
"Alhamdulilah, mungkin kita berdua sudah di takdirkan untuk bersatu." jawab Fani.
"Kalau begitu pak Farel punya teman yang masih jomblo ngga? Kalau ada kenalkan sama saya ya?" tanya Mia.
"Baik, nanti kalau ada jomblo yang nyari pasangan, akan saya kenalkan." jawab Farel yang tidak ingin mengecewakan Mia.
"Makasih lo pak." ucap Mia.
"Tapi kan kak Farel belum mengenalkan nya lo Mi." ucap Fani.
"Ngga apa-apa , sudah di jawab pun sudah senang.kok." ucap Mia.
"Ya sudah kalau begitu kita pergi dulu ya MI." pamit Fani.
"Oh iya silahkan, semoga langgeng ya." ucap MIa.
"Aamiin, makasih ya Mi, ayo kak kita berangkat." ajak Fani sambil menggandeng tangan Farel.
"Ah, mesra sekali sih mereka, dan kayak nya pak Farel tipe orang yang setia, buktinya pas aku dekati wajah nya datar dan langsung mengakui kalau dirinya sudah punya calon istri, coba kalau pria lain pasti sudah modus sin aku." gumam Mia sambil menatap punggung Fani dan Farel.
*
*
"Kayak nya dia selalu bermasalah deh, jadi pindah-pindah terus kuliah nya." ucap Yuli.
"Bagus lah kalau si Indra itu keluar lagi dari kampus ini, hidup saya akan jadi aman." ucap Putri yang mendengar pembicaraan Suci dan Yuli.
"Kok bagus Put? seperti nya dari awal lo ngga suka sama si Indra?" tanya Suci.
"Ya, dari awal masuk dia sudah kelihatan ngga bener." jawab Putri.
"Lo jangan menilai orang secepat itu Put, belum tentu juga dia orang yang ngga benar, kita kan belum mengenal dia." ucap Yuli.
"Iya benar tuh yang di bilang Yuli." ucap Suci.
"Eh, kalian dengar ya, kemarin Putri di gangguin sama si Indra anak baru itu sampai mau dilecehkan, untung ketahuan sama kak Byan." ucap Dira dengan serius.
"Serius lo Dir?" teriak Yuli dan Suci.
"Kapan gue bohong sama kalian, si Indra habis di hajar sama kak Byan." ucap Dira.
"Brengsek juga ya tuh anak baru, bagus deh kalau kak Byan sudah menghabisi nya." ucap Suci.
__ADS_1
"Maaf pin kita ya Put, kita sudah membela Indra." ucap Yuli.
"Ngga apa-apa its oke." ucap Putri sambil tersenyum.
Semenjak dirinya di hajar habis-habisan oleh Byan dan Nathan, Indra pun keluar lagi dari kampus setelah tahu kalau yang berhadapan nya adalah anak-anak dari orang ternama dan terkaya di kota itu.
"Sekali lagi kamu melakukan hal yang bodoh, ayah ngga mau ngurusin kamu lagi." ucap pak Dandi kepada Indra.
"Maaf kan Indra Yah, Indra ngga tahu kalau mereka adalah anak-anak nya pak Raka." jawab Indra sambil menunduk.
"Mau ke siapa pun jangan kamu melakukan nya, untung kamu bilang ke ayah coba kalau ngga bilang dulu, kita bisa-bisa jadi gembel saat ini." ucap pak Dandi.
"Memang nya pak Raka itu siapa sih Yah?" tanya Indra.
"Pak Raka itu adalah orang terkaya di kota ini, perusahaan nya banyak, dan perusahaan ayah ada di bawah naungan beliau, jadi kalau kamu mengusik keluarga mereka, saat ini juga kita hancur dan jadi gembel." jawab pak Dandi.
Indra pun terdiam, dia sungguh tidak menyangka akan berhubungan dengan keluarga terkaya.
"Sudah lah mulai sekarang kamu jangan kuliah di kampus itu lagi, atau bila perlu kamu ngga usah kuliah, tapi kamu bantu ayah di kantor." ucap pak Dandi yang sudah kesal dengan kelakuan anak nya.
"Baik Yah." jawab Indra.
"Ada apa lagi? Kamu buat masalah lagi? Sekali lagi kamu buat masalah, kamu pergi dari rumah ini." teriak bu Tina.
"Maaf kan Indra bu." ucap Indra.
"Mau jadi apa kamu, kalau terus-terus san begini." ucap bu Tina.
"Sudah bu, mulai sekarang Indra juga ngga akan kuliah lagi, dia akan bantu ayah di perusahaan." ucap pak Dandi.
"Bagus lah kalau begitu, tapi awas ya kalau nanti di perusahaan ayah malah kamu buat kacau." ucap bu Tina.
"Iya bu, Indra janji ngga bakalan buat masalah lagi." jawab Indra.
"Sudah sana, sekarang kamu persiapkan semua nya untuk besok." ucap pak Dandi.
"Iya Yah." ucap Indra lalu pergi ke kamar nya.
"Anak itu, selalu saja buat masalah, kapan akan sadar nya." omelbu Tina.
__ADS_1
"Sudah lah bu, dia juga sudah berjanji akan merubah nya." ucap pak Dandi.