
Semenjak pertemuan kedua nya dengan Fani, Farel terus kepikiran dengan Fani, bahkan wajah cantik Fani selalu melintas di pikiran nya.
"Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?" gumam Farel sambil melihat langit-langit kamar nya.
Farel memang belum pernah pacaran karena dirinya di sibuk kan dengan tugas-tugas nya di kepolisian, walau ngga di pungkiri waktu zaman nya sekolah zaman nya cinta monyet dia pernah pacaran, tapi untuk pacaran versi dewasa dan serius Farel belum pernah.
"Gimana caranya bertemu dengan nya lagi ya? Apa aku harus terluka dulu baru bisa bertemu, ah kenapa sih bayangan nya selalu datang dan muncul di pikiranku." gumam Farel sambil mencoba memejamkan kedua mata nya.
Apa yang dirasakan Farel ternyata dirasakan juga oleh Fani, sepulang dari kantor polisi dan mengobati luka di tangan nya Farel, Fani terus kepikiran dengan Farel hingga dirinya ngga konsen untuk mengerjakan skripsi nya.
Ya, Fani adalah mahasiswa kedokteran yang lagi mengerjakan skripsi nya, sebentar lagi dia akan menyelesaikan kuliah nya dan bekerja di salah satu rumah sakit besar yang ada di kota itu.
"Tampan, apa dia sudah punya kekasih atau istri ya?" gumam Fani.
"Ah sudah lah kapan tugasku selesai kalau memikirkan pak Farel terus." gumam Fani sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
Fani ini adalah anak dokter Mery, dia anak satu-satu nya di keluarga mereka dan sekarang mengikuti jejak ibu nya menjadi dokter.
*
*
Sandi semalaman tidak bisa tidur karena ini pertama kali nya dia tidur di ruangan kecil dan hanya beralaskan tikar yang tipis.
"Ini semua gara-gara lo Byan, gue jadi hidup menderita seperti ini, tunggu pembalasan dari gue." teriak Sandi dengan tatapan penuh amarah.
"Berisik, bisa diam ngga lo, kalau lo ngga bisa diam gue hajar sampai lo diam dan tidak bisa bangun lagi." teriak narapida lain nya yang merasa terusik dengan Sandi.
"Sudah, kalian jangan ribut ini sudah malam, sekarang kalian tidur." teriak penjaga sel sambil memukul jeruji besi dengan tongkat nya.
Sandi pun terdiam lalu duduk di sudut ruangan sambil meratapi nasib nya.
"Pah, tolong cepat bebaskan Sandi, Sandi sudah ngga tahan di sini Sandi ingin pulang." gumam bathin Sandi sambil memeluk kedua kaki nya.
Sementara di rumah pak Bagas, bu Rina sedang menangisi anak nya yang malam ini tidur di dalam penjara.
"Sudah lah mah, besok papah akan bebaskan Sandi, tadi papah sudah menghubungi pengacara papah." ucap pak Bagas menenangkan istri nya.
"Tapi Sandi ngga biasa tidur di ruang sempit dan dingin pah." ucap bu Rina sambil menangis.
"Sudah lah mah, biar Sandi juga belajar jangan terlalu gegabah dalam melakukan segala hal." ucap pak Bagas.
Bu Rina pun terus menangis hingga dirinya lelah dan capek dan akhir nya tertidur dengan pulas.
__ADS_1
*
*
"Kak, aku tunggu di luar ya." ucap Dira sambil membuka pintu mobil, Putri pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kak, aku masuk duluan ya." ucap Putri sambil mengulurkan tangan nya.
"Jaga mata dan hati ya." ucap Byan sambil meraih uluran tangan Putri lalu mencium kening dan bibir Putri dengan sekilas.
"Kak, ih nanti di lihat kak Dira." ucap Putri sambil melihat ke arah luar.
"Ucapan selamat pagi sayang." ucap Byan sambil tersenyum.
"Udah ah aku keluar lama-lama kita malah ngga masuk kuliah." ucap Putri sambil membuka pintu mobil.
Byan yang mendengar ocehan istri nya hanya tersenyum.
"Sudah pamitan nya? Aku kira mau lama." tanya Dira sambil tersenyum penuh arti.
"Apa sih kak, udah ah ayo kita masuk." ucap Putri sambil menarik tangan Dira.
"Akhir nya mereka masuk juga, lihat saja pembalasan aku, kemarin kamu sudah membuat Sandi babak belur." gumam Dela.
"Kamu lihat dua anak junior itu, mereka datang ke kampus bareng Byan." ucap Caca sambil melihat ke arah Putri dan Dira.
"Apa! Jadi mereka semakin dekat dengan Byan?" tanya Caca.
"Ya kamu pikir aja sendiri, kalau sudah berangkat dan pulang bareng, aku mau buat perhitungan sama tuh anak." ucap Dela.
"Emang dia sudah berbuat apa sampai kamu marah gitu, kan seharusnya aku yang marah karena mereka sudah mendekati Byan." tanya Caca sambil menatap Dela.
"Dia sudah membuat kak Sandi babak belur hingga hari ini dia ngga masuk." jawab Dela yang belum tahu kabar Sandi saat ini.
"Seriously?" tanya Caca setengah kaget.
"Ya." jawab Dela sambil mengangguk.
"Ya sudah sekarang kita masuk saja dulu, nanti kita bahas lagi soal ini sama yang lain nya." ajak Caca sambil menarik tangan Dela.
Bukan Caca ngga marah melihat Byan di dekati Putri dan Dira, tapi dia sedang menahan nya dan akan dia balaskan bersama teman-teman nya nanti.
__ADS_1
"Dira." gumam Nathan sambil turun dari motor nya.
"Dir tunggu." teriak Nathan sambil berlari menghampiri Dira.
Dira dan Putri yang sedang berjalan pun langsung menghentikan langkah nya.
"Kak Nathan? Ya ampun kak maaf aku lupa membawa jaket nya." ucap Dira sambil menepuk pelan jidat nya.
"Aku ngga nanyain jaket kok." jawab Nathan datar.
"Mulai kambuh so cool nya." gumam bathin Dira.
"Kalau gitu aku duluan ya kak." ucap Putri sambil berlalu secepat mungkin dari Dira, Putri tahu kalau Nathan menyukai Dira jadi dia memberikan kesempatan mereka untuk berdua.
"Put, tunggu." teriak Dira, namun Putri pura-pura tidak mendengar nya dan terus berlalu meninggalkan Dira dan Nathan.
"Pulang jam berapa?" tanya Nathan, sebenar nya Nathan ingin sekali bilang kalau dia kangen sama Dira tapi gengsi mengalahkan segala nya.
"Jam dua siang, memang nya kenapa?" tanya Dira.
"Kita pulang bareng ya." ajakan dari Nathan membuat Dira kaget dan tanpa sengaja kaki nya tersandung sudut dinding ruangan.
Dira pun terhuyung ke depan Nathan dan hampir saja terjatuh ke lantai kalau saja tangan Nathan tidak meraih tubuh nya Dira.
"Hati-hati dong Dir." ucap Nathan sambil menatap mata Dira.
Dira pun menatap ke arah Nathan dengan kedua tangan nya di atas dada Nathan.
Dua pasang mata saling menatap dengan penuh damba, sejenak mereka saling menyelami dalam nya perasaan masing-masing.
Sejenak mereka berdua melupakan dimana mereka sekarang berada.
"Cantik nya." gumam bathin Nathan.
"Tampan nya kak Nathan." gumam bathin Dira.
Jantung mereka pun berdetak kencang, menggambarkan kalau mereka sedang di landa asmara.
__ADS_1
Nyaman dan hangat, itulah yang dirasakan mereka berdua saat ini hingga mereka tidak mau saling melepaskan.