Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Gagal lagi


__ADS_3

Kini Farel dan Fani pun sudah sah menjadi sepasang suami istri yang langsung di saksikan oleh pihak keluarga dan para kerabat.



Acara pernikahan Farel dan Fani pun lumayan meriah apalagi sebagian orang memanfaatkan acara ini seperti ajang reuni.



"Tidak ku sangka kita bertemu di sini pak Raka, ini suatu keberuntungan bagi saya kembali bisa berbincang santai bersama bapak." ucap Gilang.



Gilang hadir bersama Alina dan juga seluruh keluarga nya. Gilang ini baru melakukan kerjasama dengan perusahaan Raka.



"Iya, ternyata pak Gilang juga turut hadir di acara pernikahan mereka." ucap Raka.



"Saya kenal dengan dokter Mery karena mamah saya sahabat beliau, dan juga waktu istri saya melahirkan anak ke tiga, pasca kelahiran nya di bantu oleh dokter Mery." ucap Gilang, Raka pun hanya mengangguk.



"Oh iya pak Gilang, istri nya mana?" tanya Raka.



"Itu di sana pak, lagi sama yang lain nya." jawab Gilang.



"Wah ternyata kita di pertemukan di sini, bagaimana kabar anda pak Gilang?" tanya Anggar sambil mengulurkan tangan nya.



"Hai pak Anggar, ternyata anda juga ada di sini." ucap Gilang.



"Iya pak, oh ya kenalkan ini istri saya." ucap Anggar sambil mengenalkan Ara kepada Gilang.



Ara dan Gilang pun berjabat tangan sambil mengenalkan nama mereka masing-masing.



"Pah, mamah kesana dulu ya." ucap Ara yang ngga mau mengganggu perbincangan suami nya dengan para rekan kerja nya.



"Iya mah." ucap Anggar.



"Ternyata pak Anggar juga sudah kerja sama dengan perusahaan pak Raka ya?" tanya Gilang setelah Ara meninggalkan mereka.



"Iya pak, siapa sih yang ngga mau bekerja sama dengan perusahaan ternama milik pak Raka." jawab Anggar sambil melirik ke arah Raka.



"Iya benar pak, saya saja susah banget ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan pak Raka ini, apalagi bertemu sama orang nya, makanya saya sangat beruntung sekali bisa bertemu di acara ini sekarang." ucap Gilang.


__ADS_1


"Ah kalian berdua ini sangat berlebihan sekali, oh ya pak Gilang nanti hadir juga di acara pernikahan anak saya." ucap Raka.



"Wah saya merasa orang yang paling beruntung di dunia sudah di undang secara langsung oleh pak Raka, ternyata bapak juga sudah mau menikahkan anak nya ya pak." ucap Gilang.



"Sebenar nya sih mereka sudah menikah pak, tapi belum mengadakan resepsi, mungkin bulan depan setelah wisuda baru akan melaksanakan resepsi nya, dan setelah itu mungkin di lanjut dengan pernikahan anak saya yang ke dua." ucap Raka.



"Wah sekaligus dua-dua nya ya pak, betapa beruntung nya orang yang mendapatkan anak bapak." ucap Gilang.



"Benar pak Gilang, bukan beruntung lagi, tapi sangat lebih dari kata beruntung." ucap Anggar sambil tersenyum.



"Jangan begitu lah, saya juga sama kok dengan kalian." ucap Raka yang selalu merendah.



"Siapa ya orang yang sudah beruntung menjadikan pak Raka menjadi besan nya." gumam Gilang yang sempat terdengar oleh Raka.



"Yang akan menjadi besan saya nanti pak Anggar pak Gilang." ucap Raka sambil tersenyum.



"Apa! saya kira di sini hanya saya saja yang beruntung, ternyata anda jauh lebih beruntung lagi." ucap Gilang sambil menatap Anggar.



"Ya pak Gilang, saya ini sangat beruntung sekali bisa besanan dengan orang seperti pak Raka ini." ucap Anggar dengan wajah bahagia nya.




"Andre, kapan lo balik?" tanya Raka.



"Semalam, karena gue merasa ngga enak kalau sampai ngga datang, makanya di sempetin datang." jawab Andre sambil menjabat tangan semua nya.



Kini para bapak-bapak yang masih kelihatan tampan dan gagah itu berbincang-bincang, memanfaatkan waktu untuk membicarakan dari masalah bisnis dan juga masalah-masalah lain nya.



Para istri-istri mereka pun bergabung seperti hal nya para suami mereka, tapi pembahasan yang mereka bicarakan tentu nya sangat jauh berbeda dengan apa yang suami mereka bicarakan.



"Selamat ya Mer, sekarang kamu sudah punya menantu yang kamu harapkan." ucap bu Dewi ibunya Gilang.



"Makasih lo Wi, sudah mau hadir, aku kira kamu ngga bakalan bisa hadir lo." ucap dokter Mery.



"Pasti lah, lagian juga sekarang aku ngga terlalu sibuk, paling nemenin papah nya Raka." ucap bu Dewi.

__ADS_1



"Makasih ya Sur, udah selalu menyayangi dan menjaga sahabat aku ini." ucap dokter Mery sambil tersenyum kepada Surya.



"Pasti lah aku akan selalu menjaga dan menyayangi nya, oh ya Mer, kamu ngga ada niatan untuk punya pendamping lagi?" tanya pak Surya.



"Ngga lah Sur, sekarang bukan saat nya aku untuk mencari pendamping, apalagi anakku sudah menikah, yang aku tunggu dan aku harapkan sekarang hanya seorang cucu." jawab dokter Mery.



"Begitulah perempuan pah, perempuan itu akan memilih hidup dengan kesendirian daripada harus mempunyai pendamping lagi, tapi laki-laki, belum tentu ada yang sekuat perempuan, walaupun itu tidak semua nya." ucap bu Dewi.


"Tapi papah orang yang setia lo mah." ucap pak Surya.


"Iya lah papah setia." ucap bu Dewi.



"Sudah, kalian kalau mau bahas masalah setia nanti saja pas kalian berdua ya, kalian lupa kalau disini masih ada aku." ucap dokter Mery.



Pak Surya dan bu Dewi pun tersenyum mendengar celotehan dari dokter Mery.



"Syukur lah ibu sudah bisa tersenyum lagi, tidak seperti tadi yang terlihat sangat sedih sekali." ucap Fani sambil menatap ibu nya yang lagi berbincang dengan sahabat nya.



"Ibu saja sudah bisa tersenyum, sekarang kamu juga tersenyum ya sayang, ayah kamu juga ikut bahagia melihat kamu sudah ada pendamping, kalau kamu sedih begini pasti mendiang ayah kamu juga ikut sedih." ucap Farel yang kini sudah menjadi suami nya.



Fani sempat menangis di kala izab kabul berlangsung, dirinya mengingat almarhum ayah nya yang sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lama nya.



Fani pun memaksakan untuk tersenyum di depan Farel.



"Nah gitu dong senyum, kalau kamu senyum itu semut suka sirik lo sama aku." ucap Farel.



"Kok semut bisa sirik mas?" tanya Fani.



"Karena hanya aku yang mampu mengisap manis nya kamu." jawab Farel sambil tersenyum.



"Kamu ini mas, bisa saja deh." ucap Fani sambil menatap Farel.



Farel pun menatap istri nya dengan penuh damba, perlahan Farel mendekatkan wajah nya hendak mencium bibir Fani yang selama ini selalu ada gangguan untuk menyentuh nya.



Farel melupakan mereka sedang berada di mana, hingga Farel terus mendekat kan bibir nya hingga menyentuh bibir Fani.

__ADS_1



"Sabar dikit dong, nanti malam kan masih ada waktu." teriak seorang pria yang sudah berdiri di depan pengantin baru itu.


__ADS_2