Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Satu Bulan


__ADS_3

"Bagaimana dengan wasiat itu bu? Apa masih berlaku untuk anak saya?" tanya Fadil.



Mereka semua kini sudah berkumpul di ruang keluarga yang berukuran besar yng berada di rumah dokter Mery.



"Masih dong pak, saya ngga mau membuat almarhum suami saya kecewa di sana." jawab dokter Mery.



"Bagaimana menurut kamu nak?" tanya Fadil sama Farel anak pertama nya.



"Kalau Farel gimana Fani dan ibu dokter saja pak." jawab Farel.



"Gimana nak? Apa kamu mau menerima Farel untuk menjaga dan mendampingi kamu seumur hidup kamu?" tanya Fadil pada Fani.



"Maaf pak, bukan saya menolak nya, tapi kita kan baru kenal, bagaimana kalau kita jalani saja dulu, ke depan nya mau seperti apa kita lihat saja nanti, kalau memang pak Farel adalah jodoh saya, maka saya akan menerima nya dengan hati yang tulus." jawab Fani sambil tersenyum.



"Nah pak, ternyata jawaban anak saya seperti itu, bagaimana nak Farel? Apa nak Farel mau menjalani penjajakan dahulu dengan Fani? Ibu jamin kalau Fani ini memng belum punya psangan." ucap dokter Fani.



"Ya bu, sama saya juga belum ada pasangan, untuk permintaan Fani yang ingin kita saling kenal dulu, saya terima, tapi saya hanya minta waktu satu bulan untuk kita saling mengenal, selama satu bulan itu kalau diantara kita cocok saya ingin kita langsung menikah, tapi kalau kita ngga cocok dan memang bukan jodoh nya kita akan menjadi sahabat saja." ucap Farel.



"Baik pak, saya terima persyaratan dari bapak, dan kita akan jalani satu bulan kedepan." jawab Fani.



"Alhamdulilah akhir nya kita semua berbahagia, oh ya bu, kami ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih, ibu sudah menolong anak kami dan juga menerima anak sahabat saya ini sebagai calon menantu ibu, saya akui Farel ini adalah anak yang baik, semoga satu bulan ke depan ada kabar baik dari kalian berdua, dan jika kalian berdua berjodoh dan di persatukan, saya akan kasih hadiah pernikahan mereka tiket bulan madu ke Paris selama satu minggu." ucap Raka.



"Atas nama anak saya, saya mengucapkan terima kasih, mudah-mudahan saja mereka berdua berjodoh." jawab dokter Mery.



"Papah kok curang." ucap Byan yang membuat semua orang menatap dirinya.



"Curang? Papah curang apa?" tanya Raka sambil mengerutkan keningnya.



"Kak Farel di kasih hadiah pernikahan nya tiket bulan madu ke Paris, sedangkan aku ngga di kasih apa-apa." jawab Byan.



"Lo, memang nya kamu sudah menikah nak?"tanya dokter Mery.



"Sudah bu, dan Putri ini sekarang istri saya, kita baru tiga hari menikah." jawab Byan.



"Apa! Jadi kak Putri sama kak Byan beneran sudah nikah?" teriak Glen dan Galih.



"Gue tunggu penjelasan tentang pernikahan mereka nanti di rumah." ucap Andre sambil menatap Raka.



"Iya nanti gue jelasin." jawab Raka.

__ADS_1



"Kan pernikahan kalian masih di sembunyikan, lagian kalian juga kan harus ke kampus." jawab Raka.



"Selamat ya nak, semoga kalian selalu berbahagia, kamu harus selalu jaga istri kamu ini, apalagi istri kamu ini cantik, pasti banyak laki-laki yang mau mendekati nya."ucap dokter Mery.



"Baik bu, saya akan selalu menjaga nya." ucap Byan.



"Menjaga nya apa, kemarin saja kak Putri dan kak Dira menghilang, berarti kak Byan ngga bisa menjaga nya." ucap Glen.



"Diam kamu anak kecil." ucap Byan sambil menatap tajam Glen.



"Sudah-sudah, kalian ini ngga dimana-mana selalu saja ribut." ucap Ayu.



"Baiklah bu, karena hari sudah sore, ibu juga butuh istirahat, kami semua pamit, terima kasih atas pertolongan dan jamuan nya sampai jumpa bulan depan di acara pernikahan anak kita." ucap Fadil.



"Sama-sama pak, Insya Allah ya kita jadi besanan." jawab dokter Mery.



Mereka semua pun saling berjabat tangan lalu pergi meninggalkan rumah dokter Mery, tapi Farel seakan ngga rela meninggalkan rumah Fani.



"Pak, Farel pulang nya nanti saja ya." ucap Farel.




"Ya sudah, kalau gitu aku permisi ya? Nanti aku telepon kalau sudah selesai masalah ini." ucap Farel sambil menatap wajah cantik Fani.



"Iya pak." jawab Fani sambil menunduk.



"Jangan panggil pak dong, aku kan bukan bapak kamu." Farel pun protes dengan panggilan yang di lontarkan Fani kepada dirinya.



"Terus panggil apa dong?" tanya Fani.



"Panggil sayang juga boleh." jawab Farel sambil tersenyum.



"Kak Farel oi buruan, pacaran nya nanti saja." teriak Galih.



"Ganggu saja tuh bocah." gumam Farel.



"Ya sudah kamu pulang dulu saja mas." ucap Fani dengan senyum mali-malu nya.



"Apa? Kamu panggil aku apa barusan?" tanya Farel.

__ADS_1



"Nak, cepetan biar masalah nya cepat selesai." teriak Fadil



"Iya pak iya, mereka ini ngga mau menlihat aku senang sedikit saja." gumam Farel.



"Ya sudah aku pulang ya." ucap Farel.



"Iya mas hati-hati." jawab Fani sambil tersenyum.



Akhir nya Farel pun naik ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan Fani yang sedang menatap kepergian mereka semua.



Setelah rombongan mobil yang mengunjungi rumah nya tidak terlihat Fani pun masuk ke dalam rumah nya kembali.



Sepi, hening kembali yang ia rasakan, kini kembali kepada semula.



Sedangkan di dalam mobil Anggar, Nathan sedang di interogasi oleh kedua orang tua nya.



"Jadi kamu benar menyukai anak nya pak Raka?" tanya Anggar.



"Iya pah, kakak sangat menyukai dan mencinta Dira." jawab Nathan.



"Mamah hanya berpesan sama kamu nak, kamu jangan mempermainkan hatinya, kamu harus bersikap lembut pada wanita, hargai pasangan kamu nanti nya seperti kamu menghargai mamah, sayangi dan cintai pasangan kamu seperti kamu menyayangi mamah, ratu kan dia di dalam hidup kamu seperti papah yang meratukan mamah di dalam hidup nya papah." ucap Ara sambil tersenyum.



"Baik mah, semua yang selalu mamah ucapkan Nathan akan selalu mengingat nya, makasih pah, mah, kalian mau merestui hubungan kakak sama Dira." ucap Nathan.



"Papah dan mamah akan selalu bahagia jika anak-anak nya pada bahagia." ucap Ara.



Suara ponsel Ara pun berdering, ternyata telepon dari Zila anak sambung nya.



"Ya nak, kenapa?" tanya Ara.



"Mah, kata Nia Nathan menghilang ya?" Zila pun balik bertanya karena khawatir dengan adik nya itu.



"Sudah ketemu kok nak, ini kita lagi di jalan pulang." jawab Ara.



"Syukur lah, kalau gitu kakak tunggu di rumah ya mah." ucap Zila.



"Iya nak, sebentar lagi juga sampai kok." ucap Ara lalu memutuskan panggilan nya.


__ADS_1


"Terima kasih ya Allah, walaupun mereka bukan adik kandung, tapi mereka selalu saling perhatian dan saling menyayangi." gumam bathin Ara.


__ADS_2