
"Brengsek, ternyata apa yang dibilang Caca benar, awas kamu ya, gue akan buat kamu pergi menjauhi Nathan." gumam Cintya sambil mengepalkan tangan nya.
"Kamu belum masuk kelas Cin?" tanya Caca yang melhat Cintya berdiam diri.
"Ternyata apa yang lo bilang bener Ca, kalau gitu aku akan membuat perhitungan sama tuh anak." ucap Cintia sambil mau melangkah kan kaki nya.
"Kamu mau kemana Cin?" tanya Caca sambil menarik tangan nya Cintya.
"Aku mau membuat perhitungan sama tuh anak, enak saja main peluk cowok orang." ucap Cintya.
"Sabar, nanti siang kita beraksi." ucap Caca,
"Kenapa ngga sekarang aja sih." ucap Cintya yang sudah diliputi amarah yang memuncak.
"Kamu harus pakai pikiran kamu dong Cin, lihat di sana ada Nathan, yang ada kita yang akan habis sama Nathan, mending sekarang kita masuk kelas dulu, nanti kita bicarakan lagi bareng Dela." ucap Caca.
Akhirnya Cintya pun menuruti Caca dan masuk ke dalam kelas dengan hati yang sangat panas membara yang penuh amarah.
"Kalian?" tanya Byan yang melihat meraka sedang saling menatap.
"Byan."
"Kakak."
Ucap Nathan dan Dira secara bersamaan sambil melepaskan pegangan nya.
"Apa yang kalian lakukan barusan? Ini kampus, kamu juga ya dek, kakak bilang sama papah dan mamah biar kamu di nikahkan." ucap Byan.
"Yan, ini semua salah paham, gue hanya menolong adik lo yang mau jatuh tadi." ucap Nathan.
"Iya kak, adek tadi mau jatuh tapi kak Nathan menolong adek." ucap Dira.
"Kalian ngga bohong kan?" Tanya Byan.
"Ngga kak, adek berani bersumpah kalau tadi adek memang mau jatuh." jawab Dira.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu kamu masuk kelas sana." ucap Byan.
"Iya kak, makasih ya kak Nathan, mari kak." ucap Dira yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua masuk ke kelas nya.
"Jangan macam-macam sama adik gue lo." ucap Byan sambil menatap tajam Nathan.
"Mana berani aku macam-macam, paling cuma satu macam saja kok." jawab Nathan sambil tersenyum lalu pergi menuju kelas.
Nathan kalau sudah sama sahabat nya apalagi sama Byan pasti selalu tersenyum dan bercanda, beda dengan para wanita.
"Brengsek lo." ucap Byan sambil mengikuti Nathan dari belakang.
*
*
Pagi ini pak Bagas mendapatkan kabar kalau perusahaan Raka memutuskan kerja sama dengan perusahaan nya.
"Hancur sudah." gumam pak Bagas yang langsung merasakan tubuh nya lemas setelah mendengar kabar dari anak buah nya di kantor.
"Ada apa pah? Apa yang hancur?" tanya bu Rina yang melihat wajah suami nya yang seperti sedang banyak pikiran.
"Perusahaan pak Raka memutuskan kerja sama nya dengan perusahaan papah, kalau semua itu benar, perusahaan kita pasti akan bangkrut mah." jawab pak Bagas.
Benar juga kata mamah, kalau begitu papah akan langsung menemui pak Raka di kantor nya, kenapa masalah datang secara bersamaan, belum juga selesai masalah Sandi sekarang datang lagi masalah perusahaan." ucap pak Bagas sambil mengusap kasar wajah nya.
"Oh iya pah, papah sudah menghubungi pengacara papah kan? Sandi bisa bebas kan pah hari ini?" tanya bu Rina.
"Sudah mah, ya kita serahkan semua nya kepada pengacara saja, ya sudah papah berangkat dulu, soalnya papah mau langsung ke kantor nya pak Raka." ucap pak Bagas sambil berdiri lalu pergi meninggalkan istri nya di rumah.
*
*
"Bagaimana, apa kamu sudah menghubungi perusahaan xxxx milik nya pak Bagas?" tanya Raka pada sekertaris nya.
"Sudah pak." jawab sekertaris Raka.
"Bagus, sekarang kamu kembali ke ruangan kamu." ucap Raka.
"Baik pak." jawab sang sekertaris lalu pergi dari hadapan Raka.
"Masih saja ada orang yang suka menggunakan jabatan untuk menindas orang lain, sungguh aneh dengan orang-orang zaman sekarang, padahal harta tidak lah di bawa mati." gumam Raka.
__ADS_1
"Permisi pak." ucap seseorang dari luar sambil mengetuk pintu.
"Masuk." teriak Raka yang sudah hapal dengan suara sekertaris nya.
"Maaf pak saya mengganggu, ada pak Bagas ingin bertemu dengan bapak." ucap sekertaris dengan sopan.
"Pak Bagas? Ya sudah suruh masuk saja." ucap Raka.
"Baik pak." jawab sekertaris lalu membalikan tubuh nya dan menyuruh pak Bagas untuk masuk ke ruangan Raka.
"Silahkan masuk pak, pak Raka sudah menunggu di dalam." ucap sekertaris Raka.
"Terima kasih bu." ucap pak Bagas lalu masuk ke ruangan nya Raka.
"Selamat pagi pak Raka, maaf saya mengganggu waktu kerja bapak." ucap pak Bagas sambil mengulurkan tangan nya.
"Pagi juga pak Bagas, silahkan duduk, ada apa gerangan sampai pagi-pagi gini bapak sudah berkunjung ke perusahaan saya." Raka pun basa basi padahal dirinya sudah bisa menebak akan kedatangan pak Bagas ke kantor nya.
"Maaf sekali pak, kedatangan saya kesini untuk menanyakan perihal kerja sama yang telah kita sepakati, kenapa tiba-tiba bapak memutuskan kerja sama tanpa membicarakan nya dulu dengan saya." ucap pak Bagas.
"Memang saya akui saya memutuskan kerja sama antara kita ini sebelah pihak, kenapa? apa bapak tidak terima?" tanya Raka.
"Ya jelas saya tidak terima, karena dari awal kita melakukan kerja sama ini atas kesepakatan bersama, tapi kenapa sekarang anda memutuskan nya sebelah pihak, saya bisa menuntut bapak ke jalur hukum." ancam pak Bagas, karena menurut dirinya dia sudah melakukan hal yang benar.
"Dan saya pun bisa menuntut anak bapak yang sudah melaporkan anak saya dengan tuduhan yang tidak benar." jawab Raka yang membuat pak Bagas kaget.
"Memang nya anak saya sudah melaporkan anak bapak kemana? Anak saya ngga kenal dengan anak bapak begitu pun sebalik nya, jadi bapak jangan asal menuduh nya." ucap pak Bagas yang sudah terpancing emosi nya.
"Saudara Sandi sudah membuat laporan palsu di kantor polisi kalau anak saya sudah menganiaya dirinya, tapi yang sebenar nya yang mau berbuat jahat itu adalah anak bapak sendiri, dan anak saya hanya menolong sahabat nya yang sedang dalam pengaruh obat pe rang sang yang di campurkan ke minuman nya oleh anak bapak, bagaimana? Sudah ingat siapa anak saya?" tanya Raka.
"Jadi, Byan itu adalah anak pak Raka?" tanya pak Bagas dengan tatapan tidak percaya nya.
"Ya, dia adalah anak saya yang sebentar lagi meneruskan perusahaan ini dan dia juga adalah pewaris keluarga." jawab Raka.
Pak Bagas pun terdiam mendengar ucapan dari Raka yang mengatakan kalau Byan adalah anak nya Raka sekaligus pewaris harta keluarga nya.
__ADS_1