
"Pak Rizal, kenapa sih selalu datang disaat yang tidak tepat." ucap Farel dengan wajah kesal nya.
"Tapi kalau menurut saya justru ini adalah waktu yang tepat, karena sekarang bukan waktu nya untuk bermesraan." ucap Rizal sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Bu, tolong saya nitip sentilan buat pak Rizal ya, soalnya dia selalu mengganggu saya." ucap Farel kepada istri Rizal.
"Nanti saya sentil, tenang saja, selamat ya pak Farel, bu Fani." ucap Riri istri Rizal.
"Panggil saya Fani saja bu." ucap Fani.
"Ngga bisa bu, anda sekarang sudah termasuk anggota ibu Bhayangkari." ucap Riri sambil tersenyum.
"Ya sudah lah Yang, ngga apa-apa, nanti juga terbiasa." ucap Farel.
"Nanti malam jangan langsung di gas ya, kasihan masih rapet jadi harus pelan-pelan." bisik Rizal.
"Pak, jangan suka menggoda pengantin baru." ucap Riri yang sudah hapal dengan kelakuan suami nya.
"Ngga kok bu, cuma mengingatkan pak Farel, kalau dia harus segera mengumpulkan persyaratan ke kantor." ucap pak Rizal berbohong.
"Ya sudah kalau begitu kami kesana dulu ya." ucap Riri.
"Iya bu, silahkan menikmati hidangan nya." ucap Fani sambil tersenyum.
Semua yang hadir ikut bahagia, selain bisa menikmati semua hidangan yang sudah di sediakan, mereka juga bisa bertemu dengan teman, kerabat, klien bahkan ada juga yang bertemu dengan mantan nya.
Waktu terus bergulir, tamu pun satu per satu sudah kembali ke rumah nya, hingga kini menyisakan keluarga inti saja.
"Sayang aku capek, kita pulang yuk?" ajak Putri sambil bersandar di bahu Byan.
"Kamu capek Yang, ya sudah kita pulang sekarang." ucap Byan lalu pamit kepada keluarga dokter Mery.
"Kak kita juga pulang yuk." ajak Dira.
"Ayo." ucap Nathan.
Suasana yang tadi ramai dan banyak sekali orang-orang dari berbagai kalangan, kini kembali ke setelan awal, sepi.
Sanak saudara dokter Mery pun sudah pada pulang kembali ke rumah nya masing-masing, kini yang ada hanya dokter Mery, pasangan pengantin dan para pelayan yang masih setia membereskan bekas pesta.
"Bi, untuk hari ini cukup dulu, biarkan seperti ini, kalian juga capek, jadi sekarang pada istirahat saja, dan besok baru lanjutkan beres-beres nya." ucap dokter Mery.
__ADS_1
"Baik bu."
Para pelayan pun memutuskan untuk pergi beristirahat karena sudah dapat izin dari dokter Mery.
"Nak, kalau begitu ibu istirahat duluan ya." ucap dokter Mery.
"Iya bu, kita juga mau istirahat." ucap Fani.
Dokter Mery pun pergi ke kamar nya untuk beristirahat.
Setelah sepeninggal dokter Mery, Farel langsung menggendong Fani secara bridal style.
"Saat nya kita istirahat." ucap Farel sambil mengangkat tubuh Fani.
"Aw, mas, kamu ini ngagetin aku saja." teriak Fani sambil mengalungkan kedua tangan nya ke leher Farel.
"Jangan teriak dong sayang, nanti ibu ngira aku ngapa-ngapain kamu lagi." ucap Farel.
"Kamu juga sih, ngga bilang-bilang dulu, kan aku jadi kaget mas." ucap Fani.
"Oh jadi harus bilang dulu ya? Kalau langsung kaget ya, ya sudah nanti pas di kamar, aku ngga akan buat kamu kaget, takut penghuni rumah ini pada bangun semua dan menggagalkan semua nya." ucap Farel sambil terus berjalan membawa Fani dalam gendongan nya.
Dengan susah payah Farel membuka pintu kamar Fani, sampai akhir nya pintu pun terbuka dan memperlihat kan sebuah kamar yang indah, yang sudah di desain seindah mungkin dan banyak taburan bunga di dalam nya.
Dengan perlahan Farel menurunkan Fani dalam gendongan nya.
"Mas, aku mau mandi dulu, ngga enak ini badan lengket." ucap Fani.
"Kita mandi bareng aja yuk Yang." ucap Farel.
"Mas, aku malu kalau mandi harus bareng sama kamu."
"Kenapa harus malu, kamu kan sekarang sudah sah menjadi milik aku seutuh nya, jadi apa yang ada pada diri kamu adalah milik ku, dan apa yang ada pada diriku milik kamu.
"Tapi mas,"
"Ngga ada tapi-tapi an, sekarang ayo kita mandi." ucap Farel sambil menarik tangan Fani.
Fani pun penuh keraguan untuk membuka baju pengantin nya, dia terdiam sambil menatap Farel yang sedang membuka seluruh baju yang melekat pada tubuh nya.
Farel pun membuka kemeja yang dia pakai hingga memperlihatkan dada bidang dan otot yang kekar.
__ADS_1
Fani menelan ludah nya melihat dada bidang Farel yang sangat menggoda untuk di sentuh itu.
"Sayang, kenapa diam saja, katanya mau mandi." ucap Farel mengagetkan Fani.
"I\_Iya mas, tapi mas jangan melihat ku ya." ucap Fani sambil berusaha membuka gaun pengantin nya.
"Aduh kok susah banget sih ini resleting." gumam Fani sambil terus berusaha membuka gaun nya.
"Kenapa Yang? Susah ya? Sini aku bantu." ucap Farel sambil menghampiri Fani dan berdiri di belakang Fani.
Perlahan Farel membuka resleting gaun yang di pakai Fani, sedikit demi sedikit terlihat kulit putih nan mulus milik Fani membuat Farel ingin menyentuh dan membuat tanda kepemilikan di sana.
"Bisa kan mas?" tanya Fani sambil melirik ke arah belakang.
"Bisa kok sayang." jawab Farel dengan sedikit kaget.
Farel terus membuka resleting nya hingga gaun Fani terjatuh ke bawah dan menyisakan bra dan underware saja di tubuh Fani yang membuat Fani merasa malu.
Fani terdiam karena bingung apa yang harus dia lakukan selanjut nya, kalau langsung mandi, otomatis Farel akan melihat bagian yang selama ini dia jaga.
Farel pun menyentuh dan mengelus lembut punggung Fani hingga membuat sang empu nya merinding bagaikan tersengat aliran listrik.
Merasa Fani yang tidak berontak, Farel pun melancarkan aksi nya, Farel dengan penuh kelembutan dan penuh dengan perasaan menyentuh pundak mulus Fani dengan bibir nya.
Fani sekuat tenaga menahan agar tidak mengeluarkan suara laknat na.
Farel terus mencium pundak dan punggung Fani dan menyisakan beberapa tanda kepemilikan di sana.
"Mas," panggil Fani dengan suara yang membuat Farel sangat bergairah.
"Iya sayang." jawab Farel sambil menyentuh dua bukit milik Fani yang masih padat dan berukuran sedang itu.
"Aku mau mandi." ucap Fani sambil menggelinjang karena sentuhan dari Farel.
"Sambil mandi aja sayang, biar ngga berasa dingin." jawab Farel.
Farel sudah ngga bisa menahan nya lagi, karena adik kecil nya yang di bawah sana sudah meronta-ronta ingin keluar.
Farel terus membuat Fani terbuai lewat sentuhan dan ciuman nya.
Akhir nya Farel bisa mencium bibir Fani dengan tenang, ngga ada gangguan dari siap pun.
__ADS_1
Awal nya Fani menolak dan terasa malu, tapi entah dorongan dari mana, dia malah membalas semua perlakuan Farel kepada dirinya.