Jodohku Sahabatku

Jodohku Sahabatku
Wasiat


__ADS_3

Nathan begitu perhatian sama Dira dia terus menyuapi Dira makanan yang ada di piring sudah hampir mau habis.



"Sudah kak, aku sudah kenyang." ucap Dira.



"Sekali lagi ya?" ucap Nathan sambil kembali memberikan suapan nya.



Mereka pada asik dengan pasangan nya masing-masing, hingga mereka tidak menyadari kehadiran orang tua mereka.



Raka, Ayu, Fadil dan Nisa melihat interaksi anak-anak nya dari pintu kamar.



"Pah, rupanya kita sebentar lagi akan punya mantu lagi." bisik Ayu.



"Iya mah, dia pasti putra nya pak Anggar." ucap Raka.



"Seperti nya kalian akan mendapatkan menantu lagi." ucap Fadil pelan.



"Seperti nya sih iya." jawab Raka lalu masuk ke dalam kamar.



"Ehem." Raka pun cuma berdehem, mereka berempat langsung menatap ke arah pintu.



"Papah, mamah." teriak Dira dan Byan.



"Bapak, ibu." teriak Putri.



Ayu pun langsung memeluk Dira dengan air mata yang sudah turun melalui pipi nya, begitu pun Nisa yang langsung memeluk Putri sambil menangis.



Sedangkan Nathan langsung berdiri dan menepi di pinggir tempat tidur memberikan ruang buat keluarga nya Dira.



"Siapa yang sudah melakukan semua ini pada kalian?" tanya Raka dengan wajah yang penuh amarah.



"Pah, nanti saja bertanya nya, sekarang kita urus dulu mereka sampai benar-benar pulih." ucap Byan.



"Iya Ka, nanti saja kita urus, sekarang biar kan mereka menyembuhkan semua luka yang ada pada tubuh dan hati mereka dulu." ucap Fadil yang ikut menenangkan Raka.



"Pasti ini sakit sayang." ucap Ayu sambil menyentuh lembut pipi nya Dira.



"Ini sudah ngga terlalu sakit kok mah." ucap Dira sambil berusaha tersenyum.



"Kenapa kalian tidak menghubungi kami nak?" tanya Nisa.



"Ponsel kita berdua mati bu, jadi kami ngga bisa menghubungi kalian semua nya." jawab Putri.



"Oh ya kamu anak nya pak Anggar bukan?" tanya Raka sambil menatap Nathan.


__ADS_1


"Iya om." jawab Nathan yang sedikit heran karena ayah nya Dira mengenali ayah nya.



"Mereka mencari kamu nak, dan sekarang mereka ada di ruang tamu di depan." ucap Raka.



"Apa! Jadi papah sama mamah ada di sini juga." ucap Nathan.



"Iya nak, dan sekarang mereka ada di ruang tamu." ucap Raka.



"Dir, sebentar ya, aku menemui orang tua ku dulu." Nathan pun izin kepada Dira.



"Jadi cuma ke Dira aja nih pamit nya?" goda Byan.



"Kan aku belum selesai pamit nya." ucap Nathan dengan menahan malu akibat godaan dari Byan.



"Sudah lah kak jangan godain lagi kak Nathan, kasihan tahu." ucap Dira.



"Cie ada yang belain." ucap Putri.



"Sudah-sudah kalian ini dalam kondisi seperti ini saja masih pada bercanda." ucap Raka.



"Kalau begitu saya ke ruang depan dulu ya om, tante." ucap Nathan.



"Iya nak." jawab orang tua Putri dan orang tua Dira.


*


*


"Ibu sudah bangun, kenalkan mereka ini keluarga nya Putri dan Dira." ucap Fani.



"Maaf ibu kami sudah mengganggu waktu istirahat ibu." ucap Anggar.



"Ngga apa-apa pak, lagian saya juga sudah dari tadi istirahat nya." ucap dokter Mery sambil menjabat tangan satu persatu.



"Nyonya, makan siang nya sudah siap." ucap bibi pelayan.



"Bibi masak banyak ngga siang ini?" tanya dokter Mery.



"Banyak kok nyonya, tadi non Fani yang nyuruh." jawab bibi pelayan.



"Ya sudah kalau begitu mari kita makan siang dulu." ajak dokter Mery.



"Papah, mamah." teriak Nathan sambil menghampiri mereka.



"Nathan sayang, mamah mencari kamu dari pagi, kenapa kamu ngga kasih kabar sama papah dan mamah nak, mamah sangat khawatir." ucap Ara sambil memeluk Nathan.



"Nathan lupa mah, karena semalam Nathan sama Byan mencari Putri dan Dira terus pas sudah sampai di sini, Nathan ngga sempat pegang ponsel, karena habis sarapan langsung istirahat karena semalaman kita ngga ada yang tidur dan ini baru bangun kita." jawab Nathan sambil melepaskan pelukan nya.

__ADS_1



"Ya sudah yang penting kamu dalam keadaan baik-baik saja, tapi lain kali kalau kamu ada apa-apa langsung hubungi papah atau orang rumah biar mamah kamu ngga khawatir." ucap Raka.



"Iya pah, maafkan Nathan." ucap Nathan.



Tanpa sengaja pandangan Nathan tertuju pada Glen.



"Ngapain sih tuh anak ada di sini, apa mau ketemu sama Dira juga, tidak ini tidak akan kubiarkan, lo tidak akan aku biarkan mendekati Dira lagi." gumam bathin Nathan sambil menatap tajam ke arah Glen.



"Glen, ada masalah apa lo sama dia?" bisik Galih.



"Perasaan gue ngga ada masalah sama orang deh, tapi tatapan nya itu seperti nya dia lagi marah ya sama gue deh." jawab Glen dengan sangat pelan.



"Nah makanya gue tanya lo." ucap Galih.



Glen pun terus berpikir dimana dia bertemu dengan Nathan, karena menurut Glen wajah nya ngga asing.



"Ya ampun, sekarang gue baru ingat." ucap Glen setelah mengingat nya.



"Ingat apa?" tanya Galih.



"Cowok itu kak Nathan yang sering di bicarakan sama kak Dira, dan waktu itu aku pura-pura jadi pacar nya kak Dira, berarti da ada rasa sama kak Dira kelihatan dari cara dia menatap gue." ucap Glen.



"Iya dia seperti yang lagi cemburu." jawab Galih.



"Ya ampun nak, kamu kelihatan sangat tampan pakai baju itu, ternyata ada juga yang cocok sama tubuh kamu." ucap dokter Mery ketika melihat Farel yang memakai baju bekas suami nya.



"Iya bu, maaf lo saya sudah lancang memakai baju ini." ucap Farel.



"Maaf ya bu, tadi aku yang kasih pinjam Farel baju itu, mau izin sama ibu tapi takut mengganggu waktu istirahat ibu." ucap Fani.



"Ngga apa-apa nak, tapi sebenar nya baju itu masih baru dan ayah kamu memberikan satu wasiat untuk baju itu." jawab dokter Mery.



"Wasiat?" ucap mereka yang mendengar perkataan dari dokter Mery.



"Wasiat apa bu?" tanya Fani yang penasaran.



"Dulu sebelum ayah kamu pergi dia sempat membeli baju dan celana yang sekarang sedang di pakai oleh nak Farel, dan khusus di simpan oleh kamu, makanya ibu menyuruh kamu menyimpan nya bukan untuk kenang-kenang ngan sebenar nya, tapi ada wasiat dari ayah kamu di baju itu." jawab dokter Mery.



"Pantas ibu kekeh aku harus menyimpan itu baju, terus wasiat nya apa bu?" tanya Fani kembali.



"Ayah kamu memberikan wasiat atau pesan terakhir nya, seandai nya ada seseorang yang datang ke rumah dan memakai baju ini, maka yang memakai baju ini harus menikahi Fani." jawab dokter Mery.



"Apa! Siapa yang akan menikah?" teriak seseorang.

__ADS_1


__ADS_2