
"Annisa!"
Refleks Annisa menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing baginya itu.
'Ustadz Furqon' batin Annisa melapas tangannya perlahan dari rambut lawannya.
"Astaqfirullohal 'azim! apa apaan Kalian." Ustadz Furqon memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napasnya. Melihat Annisa dan lawannya sudah tidak memakai tutup kepala, bahkan leher kedua anak gadis itu kelihatan.
Annisa yang baru menyadari kepalanya terbuka, langsung menundukkan kepalanya. Hasna dengan sigap memasang jilbab Annisa yang sempat terjatuh ke lantai.
"Ikut saya ke kantor guru!" tegas Furqon, langsung memutar tubuhnya keluar dari kantin.
Tadi Furqo baru dari musolla, saat melintas di depan kantin, tak sengaja Furqon mendengar suara ribut ribut dari dalam kantin, mengharuskannya membelok masuk ke dalam kantin.Sampai di dalam kantin, Furqon tidak menyangka melihat Annisa berantem bersama temannya.
Setelah Furqon pergi, Annisa baru mengangkat kepalanya. Kemudian mengarahkannya ke arah cewek yang masih belum memakai jilbabnya kembali. Sepertinya cewek itu masih ingin memamerkan rambut panjangnya yang berwarna pirang.
"Aku tidak akan terima penghinaan ini" geram Annisa lalu melangkahkan kakinya keluar dari kantin sekolah.
Cewek itu mendengus, lalu merapi rapikan rambutnya dengan tangan. Setelah mengikatnya rapi, baru mamakai jilbabnya kembali.
Sampai di ruang guru, Annisa melangkahkan kakinya dengan kepala menunduk ke arah Furqon yang duduk di kursi mejanya. Pakaian Annisa sangat berantakan, jilbabnya pun terlihat miring miring.
"Apa begitu caramu menyelesaikan masalah Annisa?" tanya Furqon melihat sekilas wajah Annisa.
Annisa menggigit bibir bawahnya, tidak bisa menjawab pertanyaan Furqon.
Tak lama kemudian, cewek lawan Annisa itu pun datang menyusul, dan berdiri di samping Annisa dengan tatapan begitu menantang ke arah Furqon.
"Apa permasalahan kalian, sampai kalian berantem saling menyakiti, bahkan sampai jilbab kalian terlepas?" tanya Furqon.
"Annisa yang duluan Ustadz" jawab cewek itu.
"Benarkah itu Annisa?" tanya Furqon kepada Annisa.
"Monica yang duluan Ustadz. Dia sengaja menyiramku dengan bakso dan minumannya" jawab Annisa tanpa berani melihat ke arah Furqon.
__ADS_1
"Aku gak sengaja Ustadz, dan aku juga sudah minta maaf dengan baik baik. Tapi Annisa masih marah marah,dan bahkan membalas menyiram ku dengan kuah bakso" jelas siswi yang bernama Monica itu membela diri.
"Annisa, sekarang silahkan kamu berdiri di depan bendera sampai pulang" perintah Furqon langsung dengan tegas, tanpa berniat menanyakan siapa yang salah duluan lagi di antara kedua siswi itu.
Annisa langsung mengangkat kepalanya, menatap Furqon tajam dengan pandangan berkaca kaca. Dan tanpa permisi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Dan kamu Monika, silahkan bersihkan Musola sekolah sampai bersih" suruh Furqon lagi.
"Tapi Ustadz...."
Monica tidak melanjutkan kalimatnya melihat Furqon berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Annisa yang sudah berdiri di depan bendera, menengadahkan wajahnya ke arah langit, mencoba menantang silaunya pancaran sinar matahari. Namun siapa yang menduga, sinar yang cerah itu perlahan di tutupi awan hitam, dan hujan pun turun tiba tiba membasahi Annisa. Perlahan Annisa memejamkan matanya, menikmati sejuknya air hujan yang menetes berjatuhan ke wajahnya.
'Tuhan, kata orang jatuh cinta itu indah, tapi kenapa yang kurasakan semenyakitkan ini?' batin Annisa tidak peduli dengan tubuhnya yang basah di guyur hujan lebat. Bahkan Annisa tidak peduli dengan kilat dan petir yang menyambar nyambar.
"Kenapa kamu bodoh?."
Suara pria yang menarik lengannya itu, berhasil membuat Annisa membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah pria yang membawanya memakai payung . Annisa langsung mengnarik tangannya sampai terlepas dari genggaman pria yang ternyata adalah Furqon.
Furqon pun langsung membalik badannya ke arah Annisa.
"Tapi lagi hujan Annisa, dan juga ada petir dan kilat. Itu bisa berbahaya untukmu" ucap Furqon memandangi wajah Annisa. Meski wajah Annisa di guyur hujan, Furqon tau kalau Annisa sedang menangis.
"Jika aku mati di sambar petir, mungkin itu sudah takdirku" balas Annisa. Wajahnya sangat terlihat jelas berputus asa.
Furqon kembali meraih lengan Annisa yang di lapisi kain, menariknya ke arah tempat yang terlindung hujan.
"Jangan merugikan dirimu sendiri" ucap Furqon dan langsung meninggalkan Annisa setelah mereka sampai di teras gedung sekolah.
Annisa yang di tinggal hanya bisa diam dan memandangi punggung Furqon yang semakin menjauh.
'Ustad Furqon, kenapa harus Kakakku yang di jodohkan denganmu?. Apa yang harus aku lakukan jika aku tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini dari hatiku?. Apa aku harus merebutmu dari Kak Yasmin?. Tapi aku tidak Setega itu. Ustadz Furqon, adakah sedikit cinta di hatimu untukku?.'
Annisa menghapus air matanya yang mengalir semenjak hujan turun membasahinya, lalu melangkahkan kakinya ke arah ruang tata usaha sekolah itu untuk meminta seragam yang baru, karena tak mungkin ia memakai bajunya yang basah sampai pulang sekolah.
__ADS_1
**
Pulang sekolah, Annisa langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat rapat. Selesai mengganti pakaiannya, Annisa menyusun barang barangnya ke dalam koper. Besok ia akan berangkat ke kota dimana Ibu kandungnya tinggal. Annisa akan bersekolah di sana, karena tidak ingin melihat Ustadz Furqon setiap hari di sekolah.
" Annisa!"
"Iya Ayah, masuk aja!" balas Annisa berseru mendengar suara Ayahnya dari luar kamar.
Ustadz Bilal yang berdiri di depan pintu kamar Annisa, langsung membuka pintu di depannya dan melangkah masuk.
"Ada apa Ayah?" tanya Annisa mengulas senyumnya ke arah Ustadz Bilal.
"Mama kamu tadi menghubungi Ayah, katanya suaminya akan pindah tugas ke luar Negri, dan Mama kamu harus ikut ke sana" jawab Ustadz Bilal.
Annisa langsung menghentikan gerakan tangannya menyusun buku bukunya ke dalam koper."Kapan?, kenapa Mama gak memberitahuku?" tanya Annisa bernada kecewa.
"Suaminya juga baru mendapat informasi itu dari atasannya. Seminggu lagi, suaminya akan berangkat ke luar Negri. Dan sebelum Mama kamu menyusul suaminya, katanya dia akan datang ke sini untuk menghabiskan waktu denganmu" jawab Ustadz Bilal mengulas senyumnya.
"Kenapa Abang tersenyum?. Abang senang mantan istrinya akan datang ke sini?."
Senyum Ustadz Bilal langsung luntur mendengar suara ketus di sampingnya." Aqeela akan tinggal di rumahnya, sayang. Jangan cemburu, kamu kelihatan tambah imut" gombal Ustadz Bilal di akhir kalimatnya sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah sang istri tercinta.
Umi Hani pun mengerucutkan bibirnya, sok imut dan cantik sambil tersenyum senyum, padahal sudah tua.
'Orang lagi galau tingkat Dewi, malah Ayah sama Umi, main kode kodean. Pasti nanti malam mereka melakukan urusan pribadi.'
Annisa memicingkan matanya ke arah Ustadz Bilal dan Umi Hani.
"Ehem!"
Deheman Annisa berhasil menyadarkan pasangan suami istri yang lagi kasmaran itu. Ustadz Bilal dan Umi Hani langsung menoleh ke arah Annisa yang kesal sendirian.
"Mending Ayah sama Umi keluar dari kamar Annisa deh!" usir Annisa menatap malas kedua orang tuanya itu.
"Ayo sayang, kita pergi. Mumpung Hanif lagi tidur" ajak Ustadz Bilal menarik Umi Hani keluar dari kamar Annisa.
__ADS_1
"Beginih nih, kalau orang puberitasnya datang terlambat. Udah tua masih aja suka genit genit" cibir Annisa bergumam sambil berkacak pinggang.
*Bersambung