
Sepeninggal keluarga mereka, Shaka membawa masuk Annisa ke dalam rumah kontrakannya. Rumah berlantai satu, memiliki dua kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu.
Shaka menarik Annisa untuk masuk ke dalam kamar yang biasa di tempatnya. Setelah menutup pintunya, Shaka memeluk tubuh Annisa dari belakang, dan menjatuhkan dagunya di bahu Annisa.
"Aku kangen banget sama kamu, Annisa" ucap Shaka dengan suara lembutnya. Setahun tak bersua tanpa ada komunikasi, jelas pria itu kangen dengan istrinya. Mengingat dulu mereka sudah sempat terbiasa bersama.
Annisa menyentuh lengan Shaka yang melingkar di perutnya.
"Aku memang sempat untuk tidak kembali lagi. Karena merasa tak pantas untuk mu." Annisa menjeda kalimatnya sebentar."Aku khawatir tidak bisa memberi mu keturunan" lanjut Annisa.
Setelah menghilangkan sebelah indung telurnya. Annisa memang sempat kehilangan kepercayaan dirinya. Annisa sangat takut, Shaka tidak bisa menerima kekurangannya. Annisa khawatir tidak bisa memberi Shaka keturunan nantinya.
"Apa kamu pikir, kalau kamu tidak kembali, aku akan bisa memiliki keturunan?. Kamu salah, Sayang. Malah kamu akan membuat hidupku akan semakin hancur karena terlalu gila merindukan mu." Shaka semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Annisa." Aku gak peduli, kita punya anak atau tidak. Yang penting bagiku, kamu tetap berada di sisiku, Annisa. Hanya kamu yang ku inginkan dalam hidup ini, sayang. Aku sangat mencintai mu Annisa. Sangat mencintai mu."
Shaka kembali meneteskan air matanya saat mengakui betapa besar cintanya pada Annisa. Mungkin jika setahun lagi Annisa tak juga kembali, bisa bisa Shaka benar benar gila.
"Terkadang rasanya aku ingin bunuh diri karena terlalu merindukan mu, Annisa. Cinta ini sangat besar untuk mu, sayang." Begitulah Shaka mencintai Annisa, cintanya sangat besar melebihi luasnya langit dan bumi.
Mendengar Shaka menangis, Annisa memutar tubuhnya tanpa melepas tangan Shaka dari pinggangnya. Annisa mengulurkan tangannya untuk menghapus lelehan bening di pipi suaminya itu.
"Aku juga sangat mencintai mu, suamiku. Aku juga hampir gila merindukan mu. Hampir gila memikir...."
Annisa langsung terdiam dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Saat tiba tiba sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya. Shaka mengecup bibirnya. Bukan hanya mengecupnya, tapi menciumnya dengan mesra. Membuat Annisa tak bisa untuk tidak membalas ciuman itu.
Rindu, tentu Annisa sangat merindukan ciuman pria itu. Apa lagi kali ini Shaka menciumnya sangat berbeda, sangat dalam dan lama. Sampai rasanya Annisa kehabisan napas.
Bukh bukh bukh!
Annisa memukul mukul dada Shaka supaya Shaka menyudahi ciuman mereka.
"Apa kamu ingin membunuhku?" kesal Annisa sambil bernapas ngos ngosan.
__ADS_1
"Aku terlalu bersemangat, Annisa." Shaka memeluk erat kembali tubuh Annisa. Mendengar kata cinta dari bibir Annisa tadi, membuat Shaka terlalu bersemangat mencium bibir manis istrinya itu. Sampai lupa jika berciuman bisa membuat gagal napas.
"Tapi aku bisa gagal napas kalau menciumku seperti itu" ucap Annisa manjan.
Shaka pun mengulas senyumnya lantas mencoba untuk menggendong tubuh Annisa dan membawanya ke atas kasur.
"Kamu pasti lelah, istirahatlah" ujar Shaka meletakkan tubuh Annisa dengan sangat hati hati. Tanpa permisi, Shaka menyibak gamis Annisa ke atas sampai menampakkan permukaan perut gadis itu yang terdapat ada bekas jahitan operasi."Apa ini masih sakit?." Shaka menyentuh lembut bekas jahitan itu tanpa melepas netranya dari wajah Annisa.
Annisa menggelengkan kepalanya, karena memang luka bekas operasi itu tidak sakit lagi.
"Kamu pasti sangat kesakitan." Shaka membungkukkan tubuhnya untuk mengecup bekas jahitan itu. Shaka berdoa dalam hati, semoga Allah segera memberi Meraka keturunan.
Setelah melepas kecupannya, Shaka merapikan kembali baju Annisa. Kemudian membersihkan tubuhnya di samping Annisa dan memeluknya.
Tiba tiba suara hape berbunyi dari saku celana Shaka. Terpaksa Shaka mengurai pelukannya dan mengeluarkan benda pipi itu dari saku celananya untuk menerima panggilan telephon dari seseorang itu.
"Halo"ucap Shaka langsung saat benda pipih itu menempel di telinganya.
"Bos, dimana?. Kenapa belum datang?" tanya seorang pria dari balik telephon.
"Tapi bos, ini pasiennya perempuan. Dia ingi. bos nya melukisnya" ujar pria itu.
Shaka pun terdiam dan matanya melirik Annisa yang terus memperhatikannya. Shaka khawatir Annisa mendengar apa yang dikatakan pria dari dalam telephon.
"Aku gak bisa, suruh aja dia pulang" tolak Shaka. Dia belum pernah menangani pasien perempuan, dan juga selama ini baru kali ini ada perempuan yang minta di tato ke tempat usahanya.
"Aku sudah menyuruhnya, bos. Tapi dia ngotot minta di tato sama bos."
"Sebentar sayang" pamit Shaka langsung keluar dari kamar itu dan keluar rumah, supaya Annisa tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Katakan sama dia kalau kita gak menerima pasien wanita" ucap Shaka berbisik lalu menghembuskan napasnya kasar."Aku gak bisa melakukan itu."
__ADS_1
"Katanya dia akan membayarnya mahal. Dia masih sangat muda, anak orang kaya. Sayang bos, lumayan uangnya."
"Emang wanita itu minta di tato di bagian mananya?." Shaka berpikir kalau di bagian tangan atau kaki, okelah. Dia akan mencoba untuk menyanggupinya.
"Di bagian bawah pusar bos."
"Uhuk uhuk uhuk!" Shaka langsung terbatuk batung mendengar jawaban teman bisnisnya itu.
"Gak, aku gak sanggup" tolak Shaka. gak bisa ngebayangin melukis tubuh wanita di bagian bawah pusar."Kamu aja."
"Tapi, dia maunya bos. Kalau aku sih mau mau aja. Mayan, ceweknya bueh! cantik, putih kulitnya mulus."
"Otak kau!" ketus Shaka langsung mematikan sambungan telephonnya dan langsung berbalik badan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya urung, melihat Annisa berdiri di ambang pintu menatapnya dengan tatapan meneduh.
"Annisa, aku...."
"Kamu membuka usaha bisnis tato" potong Annisa, berhasil membungkam bibir Shaka. Annisa sedih, mengetahui jika Shaka menjalankan bisnis haram saat ini. Apa yang ada di pikiran Shaka? Bukankah Shaka sudah tau jelas hukum dari mentato tubuh?.
Shaka terdiam, ia tidak menyangka Annisa mengikutinya keluar dan mendengar pembicaraannya.
Annisa tidak menyangka jika Shaka mencari rezeky dari usaha yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Yang jelas jelas hukumnya haram. Allah akan melaknat orang orang yang di tato tubuhnya atau yang mentato.
"Istiqfarlah, Shaka. Allah itu maha pengampun." Betapa jauhnya suaminya itu tersesat semenjak dia tinggalkan. Tapi Annisa tidak bisa menyalahkan Shaka, karena dirinya lah penyebab tersesatnya suaminya itu. Ya, meski sebenarnya itu semua karena Shaka yang kurang keimanan. Tapi tetap saja, semua karena kepergian Annisa.
Melihat Shaka masih membeku di tempatnya berdiri, Annisa pun melangkahkan kakinya untuk mendekati Shaka. Annisa meraih lengan Shaka dan menariknya masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam rumah, Annisa mengambil kedua tangan Shaka, lalu mengecup kedua punggung tangan itu bergantian.
"Carilah rezeky yang halal dan Toyib. Karena rezeky yang tidak berkah, bisa berpengaruh terhadap keberkahan hidup kita dan rumah tangga kita dan anak anak kita nanti" ucap Annisa dengan suara lembutnya. Berharap Shaka meninggalkan bisnis haramnya itu.
"Iya" patuh Shaka menundukkan pandangannya tak berani menatap Annisa.
__ADS_1
Annisa mengulas senyum karena Shaka mendengarkannya. Seolah olah dia adalah pawang dari pria tampan itu.
*Bersambung