
Shaka mengantar Annisa kembali ke dalam kelas dan langsung pergi. Tak lama kemudian Salwa dan Hasna datang.
"Annisa, kamu kenapa?" tanya Salwa melihat wajah Annisa sembab.
"Gak apa apa" jawab Annisa menghapus sisa air matanya.
"Kamu dan Shaka baik kan?" Salwa khawatir kalau Shaka dan Annisa bertengkar lagi.
"Iya Annisa. kenapa kamu menangis?" sambung Hasna mendudukkan tubuhnya di bangku yang berada di samping Annisa.
"Kami baik baik aja. Tapi Kak Yasmin masih marah sama aku." Annisa menghapus air matanya yang mengalir kembali.
Salwa pun memeluk tubuh Annisa dan mengusap usap punggungnya."Sabar ya, percaya deh, Kak Yasmin marahnya hanya sebentar aja."
"Iya Annisa. Kak Yasmin hanya butuh waktu. Kak Yasmin sangat menyayangi kamu, tidak mungkin Kak Yasmin marah lama lama sama kamu" sambung Hasna lagi ikut menenangkan sahabatnya itu.
"Rasanya sakit banget, kalau Kak Yasmin menganggap ku menghianati nya" ucap Annisa dari dalam pelukan Salwa.
"Kami mengerti perasaan mu, Annisa. Tapi Annisa, kamu juga harus mengerti di posisi Kak Yasmin" balas Salwa.
"Iya Annisa. Wajar Kak Yasmin sakit hati atau curiga sama kamu dan Ustadz Furqon. Sebelumnya kalian kan pernah saling menaruh hati" sambung Hasna lagi.
"Jadi kalian membela Kak Yasmin?."Annisa tidak terima kedua sahabatnya itu memintanya mengerti di posisi Yasmin, Kakaknya. Apa sahabatnya itu tidak mengerti berada di posisinya.
Salwa pun melepas pelukannya dari tubuh Annisa."Bukan begitu maksud kami, Annisa. maksud kami, beri Kak Yasmin waktu untuk berpikir. Dan kamu juga harus berusaha membuktikan kalau kamu tidak bersalah."
"Assalamu alaikum"
"Walaikum salam Ustadz!." Semua siswi di kelas itu berseru dengan semangat melihat seorang Ustadz tampan masuk ke dalam kelas.
Hasna dan Salwa langsung memperbaiki posisi duduk mereka ke bangku masing masing. Sedangkan Annisa menghapus air matanya sembari menunduk tanpa berani melihat pria yang pernah disukainya itu.
"Buka bukunya, kita lanjut pelajaran kalian" ucap guru laki laki itu tanpa melepas netranya dari Annisa, tak lain guru itu adalah Furqon.
'Apa Yasmin benar benar marah dengan kejadian itu. Ya Allah, lembutkan lah hati Yasmin untuk tidak berburuk sangka kepadaku dan Annisa ya Allah' batin Furqon.
Jangan sampai untuk yang kesekian kalinya ia gagal menjadi menantu dari Ustadz Bilal. Dan lagi lagi lamarannya di tolak kembali, dan gagal menikah lagi.
'Aku harus segera menemui Yasmin. Aku harus meluruskan kesalah pahaman ini' batin Furqon lagi.
'Pak Ustadz! ada apa? Kenapa Ustadz bengong?" seru Hasna melihat Furqon melamun sambil memperhatikan Annisa.
"Ehem!" Furqon berdehem dan langsung mengalihkan pandangannya dari Annisa saat tersadar dari lamunannya."Mari kita lanjut pelajarannya."
__ADS_1
**
"Salwa, aku ikut pulang ke rumah kamu ya. Malas kalau di rumah sendirian" ujar Annisa saat mereka pulang sekolah.
"Shaka kerja ya?" tanya Hasna.
Annisa menganggukkan kepalanya." Iya, katanya dia akan kerja lembur sampai malam hari ini."
"Mumpung kita lagi bareng, bagaimana kalau kita jalan ke mall. Aku ingin beli sesuatu buat Papa" usul Salwa.
"Ayok! aku juga ingin beli sesuatu" sambung Hasna.
"Tapi aku gak punya uang buat beli beli" Annisa mengerucutkan bibirnya. Nasib menjadi istri dari pria miskin. Boro boro buat beli beli yang gak penting. Buat makan aja susah.
"Tenang aja, aku yang bayarin" ucap Salwa. Annisa adalah Kakak iparnya, tentu Salwa bersedia buat ngebayarin belanja Annisa.
"Kalau begitu, Ayok!" Annisa mengulas senyumnya, bersemangat menarik Salwa dan Hasna ke arah mobil jemputan Salwa.
"Tunggu dulu, aku pamitan dulu sama supirku." Hasna menahan langkahnya, supaya Annisa berhenti menarik lengannya.
"Sana cepat" Annisa pun melepas lengan Hasna dan langsung masuk ke dalam mobil jemputan Salwa.
Tak lama kemudian Hasna pun datang menyusul masuk. Dan kini ketiga gadis remaja itu sudah sampai di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.
"Kamu lapar terus, baru tadi saat jam istirahat kita makan bakso" ujar Hasna.
"Kamu masih heran dengan perutku" balas Annisa.
"Kamu aja yang makan ya, kami nemanin aja" ujar Salwa menarik Annisa ke salah satu tempat makan di dalam mall.
Setelah Annisa selesai mengisi perutnya. Ketiga gadis remaja itu pun melanjutkan petualang mereka untuk mengelilingi seluk beluk gedung yang menyediakan berbagai macam kebutuhan itu. Mulai dari melihat lihat baju, sepatu, tas dan lain-lain.
"Salwa, aku pake duitmu dulu boleh. Nanti ku bayar" ujar Annisa.
"Untuk apa? Aku sudah membayar semua belanjaan mu" tanya Salwa.
"Belanja bahan masakan. Stok bahan masakan di rumah sudah habis sama sekali" jawab Annisa.
"Emang Shaka gak ngasih uang sama kamu?" tanya Hasna.
"Ngasih, tapi uang jajan aja. Aku gak berani memakai uang tabungan di ATM nya. Itu kan uang jerih payahnya selama ini" jawab Annisa menunduk.
" Ya udah. Yuk! kami temani kamu belanja." Salwa menarik Annisa masuk ke dalam super market yang menjual bahan makanan di mall itu. Salwa mengerti, setelah menikah uang jajan Shaka di stop Papa Ansel. Supaya Shaka lebih belajar bertanggung jawab untuk rumah tangganya. Tidak ketergantungan lagi dengan uang orang tua.
__ADS_1
Namun saat menarik salah satu troli belanja, Annisa menghentikan langkahnya melihat seseorang yang sangat di kenalnya berjalan dengan seorang wanita hamil yang masih sangat muda.
'Shaka' batin Annisa.
Seketika tubuh Annisa bergetar kedinginan, sampai buliran keringat dingin menghiasi keningnya.
"Annisa, ayo" ajak Salwa heran melihat Annisa membeku dan terbengong.
Melihat Annisa masih terdiam, Salwa dan Hasna pun mengikuti arah pandangan Annisa.
'Shaka, Inara' batin Salwa.
'Siapa wanita hamil itu? Kenapa bisa bersama Shaka?' batin Hasna terus memperhatikan pasangan yang masih nampak sangat muda itu.
Tak terasa Annisa pun menangis dan perlahan melepas tangannya dari genggaman troli di depannya. Annisa berlari sekuat tenaga keluar dari dalam pusat perbelanjaan itu.
"Annisa!" seru Salwa dan Hasna bersamaan dan langsung mengejar Annisa keluar dari dalam mall.
Shaka yang mendengar nama Annisa di panggil langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Namun Shaka tidak melihat satu pun orang yang di kenalnya sama sekali.
'Perasaan aku seperti mendengar suara Salwa dan Hasna memanggil Annisa. Tapi mereka dimana? Kenapa gak ada?.'
Shaka membatin sambil mendorong troli belanja di depannya.
"Shaka, mencari siapa?" tanya wanita di samping Shaka.
"Aku seperti mendengar suara Salwa" jawab Shaka. Gadis bernama Inara itu pun ikut mencari orang yang di sebut Shaka, namun Inara juga tidak melihat Salwa di sekitaran mall.
"Ayo kita bayar, aku harus segera kembali ke kantor." Shaka pun mendorong troli belanjaan di depannya ke arah kasir. Selesai melakuka. transaksi pembayaran, Shaka langsung mengantar Inara ke rumah kontrakannya dan langsung kembali ke kantor.
Sedangkan Annisa yang sudah berada di dalam taxi, terus menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Non, kita sudah sampai di bandara" ucap supir taxi yang membawa Annisa ke bandara itu.
"Trimakasih, Pak" balas Annisa dan segera turun dari dalam taxi. Annisa langsung di sambut dua orang pria berpakaian sapari dan mengiringnya berjalan masuk ke dalam bandara.
"Annisa!"
Annisa langsung membalik badannya sebelum sempat masuk ke ruang tunggu keberangkatan mendengar Salwa memanggilnya dari kejauhan.
"Annisa, kamu mau kemana?" tanya Salwa sambil berlari ke arah Annisa.
*Bersambung
__ADS_1
#Hayo tebak, siapakah Inara?. Yang sudah membaca karya karya otor pasti tau siapa itu Inara.