
Shaka menurunkan laju kendaraannya saat akan membelokkannya memasuki pekarangan rumah mereka. Setelah memarkirkannya dengan sempurna, Shaka langsung keluar tanpa menegur Annisa sama sekali.
"Shaka!" panggil Annisa menyusul Shaka keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah. Namun pria yang memasang wajah datar itu menulikan telinganya dan mempercepat langkahnya menaiki anak tangga rumah itu.
Entah apa yang salah dalam diri pria itu, sehingga membuat pria itu dari tadi saat mereka di restoran menjadi pendiam?.
"Shaka!" panggil Annisa lagi mengejar langkah Shaka, karena pria itu diam tidak mendengarnya.
"Shaka, kamu kenapa? Dari tadi kamu diam aja?." Annisa menarik tangan Shaka sehingga langkah pria itu terhenti dan langsung menoleh ke arahnya.
"Gak kenapa kenapa" jawab Shaka dengan wajah tanpa ekspresi.
"Saat di restoran tadi kamu tiba tiba menjadi pendiam, sepanjang perjalanan pulang pun kamu mendiamkan ku. Kamu gak biasanya seperti itu.Kalau kamu diam, aku gak akan tau dimana letak kesalahan ku" Annisa menatap teduh ke wajah Shaka.
Shaka menghela napasnya dengan kasar tidak tega melihat wajah sedih Annisa. Annisa tidak melakukan kesalahan padanya, tapi Shaka lah yang merasa bersalah dengan pernikahan mereka. Shaka baru menyadari sekarang, dengan menikahi Annisa di usia dini, ternyata sudah merenggut masa depan gadis itu, merenggut kebebasan gadis itu, merenggut semua mimpi mimpi dan cita cita Annisa.
"Kamu gak punya salah Annisa" jawab Shaka.
"Lalu kenapa kamu diam aja dari tadi?" tanya Annisa.
Shaka tidak langsung menjawab, ia terus memandangi wajah cantik Annisa. Annisa, gadis yang disukai nya sejak pertama kali melihatnya saat mereka masih sekolah SD.
"Katakan aja apa kesalahan ku" ucap Annisa lagi melihat Shaka diam memperhatikannya.
Shaka menghela napasnya lagi lantas bertanya pada Annisa."Apa kamu menyesal dengan pernikahan kita?."
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?. Apa aku pernah mengatakan kalau aku menyesal?. Atau sikap ku terlihat seperti menyesal?" tanya balik Annisa dengan kening yang semakin mengerut.
"Ya, kamu mengatakan sebuah penyesalan" jawab Shaka.
"Kapan aku mengatakannya?."
"Kamu tadi bilang, mimpi mimpi dan cita cita mu terkubur di dalam pernikahan kita" jawab Shaka.
__ADS_1
Annisa pun terdiam. Rupanya suaminya itu tersinggung dengan kata katanya saat tadi di restoran. Pantas aja suaminya itu diam saja sejak tadi. Shaka hanya berbicara kalau perlu saja.
Shaka pun mendudukkan tubuhnya di anak tangga rumah itu tanpa melepas pegangan tangan Annisa di tangannya.
"Annisa, aku mencintaimu, bahkan lebih mencintaimu dari pada diriku sendiri. Jika aku tidak berhasil membuatmu bahagia, itu adalah kegagalan terbesar dalam hidupku" ucap Shaka menatap intens wajah Annisa yang juga menatapnya." Gapai lah cita cita dan mimpi mimpi mu, asal tidak meninggalkan ku, aku tidak masalah. Salah aku sendiri, menikahi mu di saat kita masih ingin hidup bebas. Biar aku yang menanggung resiko itu, kamu tidak boleh" Shaka menatap Annisa dengan mata berkaca kaca.
"Shaka" panggil Annisa dengan lembut. Setelah mendudukkan tubuhnya di samping Shaka, Annisa mengelus lembut pipi Shaka lalu mengecupnya." Aku minta maaf soal perkataan ku tadi. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Aku juga gak tau, kenapa kata kata itu bisa keluar begitu aja dari bibirku. Aku juga mencintai mu."
Annisa mengambil kedua tangan Shaka lalu melingkarkan nya ke tubuh nya supaya Shaka memeluknya. Kemudian Annisa menyandarkan kepalanya ke dada Shaka.
"Cita citaku itu ingin melanjutkan pendidikan ke Arab, aku ingin bisa berbahasa Arab persis seperti orang orang Arab" ucap Annisa sambil tangannya memainkan kancing baju kemeja Shaka." Dan aku punya mimpi ingin...." Setelah berhasil membuka kancing kemeja baju Shaka, Annisa menelusup kan tangannya masuk ke dalam baju itu, meraba lembut dada Shaka.
"Sayang" Shaka mendecis merasakan nikmat di dadanya."Aaah! jangan menggodaku Annisa" teriak Shaka melepas kasar tangan Annisa dari dadanya.
Annisa mengulas senyumnya lalu tertawa kecil.
"Jahil banget sih kamu sayang" ucap Shaka, tadi dia sudah serius mendengarkan Annisa bicara, tapi ternyata istrinya itu mengajak bercanda.
"Aku gak suka melihat wajah datar mu tadi" ujar Annisa.
Annisa kembali memeluk tubuh Shaka yang sempat di lepasnya." Kita menikah atas kemauan kita berdua, Shaka. Jadi jangan pernah merasa bersalah. Dan lupakan masalah cita cita dan mimpi mimpi ku tadi. Karena semenjak kita menikah, kamulah yang menjadi cita cita dan mimpiku. Kita memiliki anak anak dan rumah tangga yang samawa selamanya."
Shaka pun mengusap kepala Annisa lalu mengecup kening wanita itu, kedua pipinya, hidungnya dan terakhir bibirnya. Berhasil membuat Annisa tersenyum.
**
Pagi hari, Shaka sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Pagi ini ia akan menemani sang Papa bertemu rekan bisnis mereka untuk pertama kalinya. Dan sepertinya Shaka mulai saat ini akan aktif di Dunia kerja, demi mendapatkan uang yang lebih banyak lagi, supaya bisa menunjang kebutuhan rumah tangganya dan Annisa.
"Shaka, nanti malam jadi kan kita menginap di rumah ku?" tanya Annisa yang baru masuk ke dal kamar.
"Iya" jawab Shaka sambil sibuk dengan benda pipih di tangannya tanpa melihat Annisa sedikit pun.
Annisa berdecak, kalau lagi sibuk Shaka sering kali mengabaikannya.
__ADS_1
"Shaka!" panggil Annisa lagi tidak terima di abaikan begitu.
Shaka langsung menoleh ke arah Annisa."Iya sayang" ulang Shaka, kembali sibuk dengan handphon di tangannya.
"Sibuk apa sih?" Annisa mendekati Shaka, dan Shaka langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Gak ada" jawab Shaka.
Annisa pun memicingkan matanya, menatap Shaka penuh curiga.
"Papa menyuruhku menjemput berkas ke perusahaan, kemudian menjemput Papa ke rumah. Papa lagi malas bawa mobil sendiri, sayang" jelas Shaka menarik hidung mancung Annisa yang curiga padanya.
"Kenapa aku gak percaya ya?" Annisa masih menatap Shaka penuh curiga.
"Gak usah curiga gitu, ayo antar aku ke depan." Shaka melingkarkan lengannya ke pinggang Annisa, lalu mengiringnya keluar dari dalam kamar mereka.
"Bisa aja kan di perusahaan kamu naksir sama cewek lain" ujar Annisa yang melangkah sejajar dengan langkah Shaka. Entah kenapa tiba tiba perasaan Annisa tidak tenang melepas Shaka untuk pergi bekerja.
"Di perusahaan ceweknya udah tua tua semua dan kebanyakan sudah berstatus istri, mana mungkin aku naksir" balas Shaka tersenyum, lalu mengecup pelipis Annisa dari samping." Punya istri cantik dan manis begini, udah itu bahenol pula, buat apa lagi aku naksir sama cewek lain?."
"Ya...mana tau karena kamu terikat sebuah janji dengan Ayah. Dan kamu gak tahan lagi" jawab Annisa. Serius jantung Annisa berdetak tidak karuan saat ini. Annisa sendiri juga bingung kenapa dia merasa waswas tiba tiba.
Tiba tiba bunyi telephon pun terdengar dari dalam saku celana Shaka. Shaka langsung mengeluarkannya dan menerima telephon itu di depan Annisa.
" Halo, assalamu alaikum" ucap Shaka setelah mendial tombol hijau di layar handphonnya.
"Walaikum salam" balas seorang gadis dari balik telephon.
Shaka pun diam menunggu gadis itu berbicara.
"Shaka, bantu aku" ucap gadis itu sambil menangis.
Shaka pun menghela napasnya.
__ADS_1
*Bersambung