Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Kembalikan dia


__ADS_3

Malam hari, Shaka baru pulang ke rumah. Saat memarkirkan mobilnya, Shaka melihat kenderaan Ustadz Bilal terparkir di halaman rumah. Itu artinya mertuanya datang. Shaka menghela napas beratnya, ia belum siap jika harus membicarakan masalahnya dengan Annisa lagi. Tapi keluarga istrinya itu sepertinya tak ingin memberinya waktu lebih lama lagi untuk berpikir.


"Assalamu alaikum" ucap Shaka saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Dan benar, di ruang tamu rumah itu, Ustadz Bilal seperti menunggunya seorang diri. Tadi, Umi Hani dan Yasmin sudah pulang duluan, Karena baby Han ditinggal di rumah.


"Walaikum salam" balas Ustadz Bilal mengulas sedikit senyumnya arah Shaka.


"Ayah, ada apa?" tanya Shaka, meski sebenarnya sudah tau tujuan Ayah mertuanya itu datang ke rumahnya.


"Tidak ada, Ayah hanya menunggu mu pulang" jawab Ustadz Bilal." Sinilah Nak,duduk di samping Ayah." Ustadz Bilal menepuk sofa di sampingnya.


Shaka pun mendudukkan tubuhnya di samping Ustadz Bilal. Dan Ustadz Bilal langsung menepuk pelan bahu Shaka.


"Ayah minta maaf atas kesalahan putri Ayah" ucap Ustadz Bilal. Shaka langsung menoleh ke Ayah mertuanya itu." Ayah mengerti di posisi mu, Nak. Ayah paham perasaan mu. Ayah juga laki laki" lanjut Ustadz Bilal.


Shaka hanya diam saja menunggu kelanjutan apa yang akan di ucapkan pria paru baya itu.


"Tapi, Nak. Masih bisakah kamu menerima putri Ayah dengan lapang dada?." Mata Ustadz Bilal mulai terlihat berkaca kaca. Ustadz Bilal tidak ingin membela Annisa di depan Shaka. Ingin menjelaskan pun, tapi mereka belum menemukan bukti kalau Annisa dan Furqon di jebak. Biarlah Ustadz Bilal mengakui kalau putrinya itu melakukan kesalahan, dan waktu yang menjawab semuanya.


Melihat tangis Annisa tadi, Ustadz Bilal bisa menebak jika Shaka sudah menyakiti hati Annisa dengan kata kata atau mungkin dengan sikap. Kalau tidak, gak mungkin tadi Annisa menangis pilu dan meraung Raung sampai cigukan.


Shaka terdiam dengan kening mengerut. Berpikir kalau Annisa sudah mengadu kepada orang tuanya. Sampai mertuanya itu bertanya seperti itu.


"Belum pernah terlintas di pikiran ku untuk menceraikan Annisa, Yah" jawab Shaka. Bukan masalah di kamar mandi saja yang dipermasalahkan Shaka. Tapi yang paling menjadi masalah buat Shaka adalah, Annisa dan Furqon yang masih saling mencintai.


Ustadz Bilal mengulas senyumnya, lalu mengusap lembut bahu Shaka." Trimakasih, Nak."


"Shaka juga minta maaf, Yah. Mungkin Shaka belum menjadi suami yang sempurna buat Annisa" ucap Shaka.


"Tidak akan ada pria yang mampu menjadi suami yang sempurna, Nak. Ayah hanya meminta, jika tidak mencintai putri Ayah lagi, atau tidak bisa menerima keburukannya. Ayah mohon, jangan menyakitinya, Nak. Kembalikan dia dengan cara baik baik, bagaimana Ayah memberikannya kepada mu dengan cara baik baik juga. Hanya itu permintaan Ayah, Nak" balas Ustadz Bilal, kali ini tidak bisa menahan air matanya lagi.

__ADS_1


Shaka pun terdiam.


"Ya sudah, Ayah pulang dulu. Annisa di dalam kamar. Dia belum makan, katanya menunggu kamu pulang." Ustadz Bilal pun berdiri dari tempat duduknya sembari menghapus air matanya yang sempat keluar dari sudut matanya.


Ayah mana yang tidak sedih melihat hati putrinya hancur karena mendapat sikap tidak baik dari suaminya. Mungkin hati Ustadz Bilal lebih sedih lagi, jika mengetahui jika putrinya sampai berlutut memohon maaf dari menantunya itu.


"Hati hati Yah." Shaka mengikuti langkah Ustadz Bilal ke arah pintu, untuk mengantar mertuanya itu ke depan pintu.


Setelah Ustadz Bilal pergi, baru Shaka menutup pintu rumah itu dan tidak lupa menguncinya rapat rapat. Shaka melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah itu menuju kamarnya dan Annisa. Sampai di depan pintu kamar mereka, Shaka menarik dalam napasnya dan mengeluarkannya perlahan sebelum membuka pintu di depannya.


Ceklek!


Refleks Annisa yang duduk di atas kasur menoleh ke arah pintu yang terbuka. Saat melihat Shaka masuk, Annisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Shaka menutup pintu di belakangnya kembali, lalu melangkah ke arah Annisa yang duduk di atas kasur.


"Bilang apa sama Ayah?" tanya Shaka.


"Annisa, apa yang kamu katakan sama Ayah?" tanya ulang Shaka karena Annisa tidak menjawab.


Namun Annisa masih menutup rapat mulutnya. Sepertinya hati istri dari Murtado Shaka Budiman itu mulai mengeras.


Shaka takut Annisa meminta orang tuanya untuk membawanya dari rumah itu, atau mungkin Annisa meminta bantuan Ayahnya untuk mengurus perceraian mereka. Apa lagi tadi Ustadz Bilal sempat mengatakan, meminta mengembalikan putrinya jika saja Shaka tak mencintainya lagi. Tentu itu membuat Shaka ketakutan setengah mati.


"Annisa?" panggil Shaka.


Annisa tak mendengar, ia pun membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi Shaka.


'Rasain, aku juga bisa diam membisu' batin Annisa. Makmum akan mengikuti imamnya, bukan?.


Shaka menghela napasnya melihat Annisa mengabaikannya. Kemudian Shaka pun mendudukkan tubuhnya ke atas kasur, mencoba menyentuh lengan Annisa, yang langsung di tepis anak gadis berwajah cantik dan manis itu.

__ADS_1


"Kata Ayah kamu belum makan, ayo makan malam dulu, aku membeli makanan kesukaan mu" ujar Shaka, menyentuh kembali lengan Annisa. Dan Annisa menepis kembali tangannya.


"Sayang" panggil Shaka.


Andaikan saja Shaka mampu mengangkat tubuh istrinya itu. Shaka sudah mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya turun dari atas kasur tanpa perlu membujuknya. Namun apalah daya, semenjak menikah bukannya istrinya tambah langsing, ini malah tambah berisi.


Melihat Annisa bergeming, Shaka pun turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya keluar kamar. Annisa langsung memutar tubuhnya mendengar Shaka keluar pintu. Annisa menatap pintu itu dengan pandangan meneduh.


Namun tak lama kemudian, pintu itu terdengar di buka dari luar. Annisa langsung membalik tubuhnya kembali membelakangi Shaka yang masuk kembali ke dalam kamar.


"Ayo duduklah, aku sudah membawa makanannya ke sini" ujar Shaka meletakkan kotak makanan yang di bawanya di atas meja nakas.


Annisa malah menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Meski sebenarnya perutnya lapar, tapi Annisa sudah sakit hati pada Shaka.


Melihat itu, Shaka naik ke atas tempat tirus, membaringkan tubuhnya di samping Annisa dan memeluk tubuh gadisnya itu.


"Aku minta maaf" ucap Shaka menarik selimut yang menutup kepala Annisa. Annisa pun menahan selimut itu."Aku terlalu mencintaimu, Annisa. Sampai aku sangat takut kehilangan mu. Maafkan aku."


Tadi Shaka memang marah, kecewa, sakit hati, merasa terhina dan di khianati. Meski sudah mencoba menenangkan diri sendiri di dalam kamar, tapi itu tidak berhasil mengobati hatinya. Sehingga Shaka memilih pergi ke luar untuk mencari udara segar. Setelah melewati perenungan panjang, akhirnya Shaka mendapatkan setitik cahaya terang di hatinya, setelah mendapat satu bisikan kalimat dari hati paling kecilnya.


' Bayangkan jika kamu kehilangannya, apakah kamu siap?.'


Setelah membayangkan jika Annisa pergi dari hidupnya. Ternyata Shaka tidak rela jika gadis manisnya itu menjadi milik pria lain. Annisa miliknya, hanya miliknya.


Di dalam selimut, Annisa menangis kembali mendengar Shaka sangat mencintainya. Bukan itu yang ingin Annisa dengar. Annisa ingin Shaka percaya padanya, Shaka berada di pihaknya, Shaka mendukungnya, Shaka membelanya. Bukan malah ikut memojokkannya dan menyakiti hatinya.


Ada yang Shaka lupakan. Bukankah dulu dia tidak peduli jika Annisa tidak mencintainya. Yang penting baginya, Annisa menjadi miliknya. Cinta itu akan menyusul belakangan. Tapi kenapa setelah ia mendapatkan cinta dari seorang Annisa, malah dia tidak percaya dengan cinta dari gadis itu?.


"Maafkan kemarahanku tadi, aku cemburu" jujur Shaka.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2