Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Kamu apa kabar


__ADS_3

"Aaaa!" Mr Boy berteriak kesakitan.


"Perasaan dari Nenek moyang kita gak ada yang jadi dukun. Tapi kenapa Abang Boy suka nyembur?." Annisa berbicara dengan bibir mengerucut.


"Ais! sakit banget" Mr Boy berdecih sambil mengibas ibaskan tangannya."Itu turunan kera sakti, nurun dari mana?" balas Mr Boy bertanya.


"Gak tau" jawab Annisa.


Tok tok tok!


"Masuk!" seru Mr Boy saat mendengar pintu ruang perawatan itu di ketok dari luar. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita berpakaian serba putih.


"Selamat malam Mr Boy" sapa wanita berprofesi sebagai Dokter itu.


"Selamat malam juga" balas Mr Boy tanpa berniat sedikit pun untuk berpindah dari pinggir brankar.


"Ehem! saya akan memeriksa pasien, Mr" ucap Dokter itu.


"Silahkan" balas Mr Boy.


Dokter wanita itu pun segera memeriksa kondisi kesehatan Annisa.


"Abang Boy, kenapa aku harus di rawat di rumah sakit?. Emang aku sakit parah?." Annisa memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan serba putih itu. Dia baru menyadari kalau dia ternyata berada di rumah sakit.


"Kamu demam saat di pesawat. Makanya Abang langsung membawa mu ke sini" jawab Mr Boy, menempelkan punggung tangannya di kening Annisa, untuk memastikan apakah Adiknya itu masih demam atau tidak.


"Pasien masih mengalami demam, Mr Boy. Tapi secara keseluruhan, semuanya sudah normal" jelas Dokter itu setelah selesai memeriksa kesehatan Annisa.


"Trimakasih. Berikan obat penurun demam yang paling ampuh untuk Adik ku ini" ujar Mr Boy.


"Baik, Mr. Kalau begitu saya permisi." Dokter wanita itu langsung melangkahkan kakinya setelah berpamitan.


"Cepatlah sembuh, biar Abang membawa mu jalan jalan mengelilingi kota ini" ujar Mr Boy.


"Aku hanya demam biasa. Abang Boy aja yang berlebihan membawaku ke rumah sakit" balas Annisa berusaha untuk mendudukkan tubuhnya namun kepalanya tiba tiba terasa pusing.


"Demam biasa bagaimana?. Lihatlah, untuk duduk aja kamu gak bisa. Ayo baring lagi." Mar Boy membantu Annisa untuk berbaring kembali.

__ADS_1


Annisa menghela napasnya saat pikirannya teringat pada Shaka. Perlahan air mata Annisa menetes begitu saja dari sudut matanya.


"Ada apa? Hm!" Mr Boy mengusap ujung kepala Annisa dengan lembut.


"Aku mau pulang" lirih Annisa. Hampir dua hari tidak melihat Shaka, membuatnya merindukan cowok miliknya itu.


"Apa kamu yakin ingin langsung pulang?" tanya Mr Boy dengan lembut.


Ditanya seperti itu Annisa menjadi bingung. Annisa ingin pulang dan ingin tidur di pelukan Shaka. Namun mengingat Shaka memiliki wanita lain, Annisa menjadi ragu untuk kembali. Annisa menjadi dilema saat ini.


"Andaikan Abang Boy berada di posisiku. Apa yang akan Abang lalukan?." Sungguh saat ini Annisa tidak bisa berfikir dengan baik. Hati dan pikirannya tidak sejalan lagi. Jika hatinya ingin pulang, namun pikirannya menahannya untuk tetap di sini.


"Menenangkan diri dengan cara bermunajat kepada Allah" jawab Mr Boy.


Annisa pun terdiam sambil berpikir.


**


Shaka yang terbaring di atas kasur dengan posisi terlentang, terus menghubungi Annisa. Baik via telepon, juga via WA. Namun sudah dua hari ini gadis miliknya itu tak kunjung bisa di hubungi.


"Annisa, aku gak bermaksud sama sekali untuk menghianati mu atau pun membohongi mu. Sebenarnya aku juga ingin memberitahumu tentang Inara. Tapi Inara memohon padaku untuk tidak memberitahu keberadaannya dulu sama siapa pun, sekali pun itu kepada keluarga ku. Inara memiliki masalah yang besar, sampai ia malu dan tidak siap untuk bertemu keluarga ku, Annisa. Inara teman masa kecil ku, dia lebih dekat denganku dari pada Salwa. Sehingga dia lebih nyaman meminta bantuan ku dari pada Salwa." Shaka berbicara sendiri, berharap Annisa mendengarnya dan memahami posisinya.


"Annisa, aku minta maaf. Pulanglah. Aku tidak punya siapa siapa lagi sekarang. Mama, Papa, semua mengucilkan ku" gumam Shaka merasa putus asa.


Karena Annisa tak kunjung bisa di hubungi, Shaka pun mengirim pesan pada Annisa. Meminta maaf pada Annisa. Shaka juga meminta alamat dimana Annisa sekarang, supaya dia menjemput Annis dan membawanya pulang.


**


Satu Tahun berlalu


"Kamu sudah siap?" tanya Mr Boy pada Annisa.


Annisa menganggukkan kepalanya lalu menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan dari mulut untuk mengusir kegugupannya. Setelah setahun tinggal di luar Negri, kini Annisa akan kembali ke Negara tercintanya.


"Tenanglah, kamu tidak perlu gugub seperti itu" ujar Mr Boy sambil tangannya mengacak acak ujung kepala Annisa.


"Ikh! Abang Boy. Rusak tau jilbabku" keluh Annisa. Pasti jilbab pasmina nya sudah miring kiri miring kanan karena di acak acak.

__ADS_1


"Ayo kita pergi, pesawat kita sebentar lagi akan berangkat." Mr Boy menarik lengan Annisa, membawanya keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka.


"Jangan melamun terus" tegur Mr Boy melihat pandangan Annisa kosong.


Annisa tersenyum hambar, entah, perasaannya begitu tidak enak untuk kembali ke Negaranya setelah setahun meninggalkan suaminya.


'Shaka, kamu apa kabar. Maafkan aku pergi tanpa pamit dan ijin mu. Setelah aku pulang, aku berharap hubungan kita akan kembali baik. Aku sangat merindukan mu, Shaka.'


Mr Boy menghela napasnya melihat Annisa yang duduk di sampingnya terus melamun dari tadi.


Tiba di bandara, Annisa dan Mr Boy langsung masuk ke dalam pesawat yang akan menerbangkan mereka. Butuh waktu yang lama untuk sampai di Indonesia. Annisa yang merasakan ngantuk, tetap tidak bisa tidur. Pikirannya terus memikirkan hubungannya dengan Shaka. Bagaimana nasib pernikahan mereka?. Apa Shaka masih sah suaminya?. Masih kah Shaka mencintainya?, atau Shaka sudah berpaling ke wanita lain. Selama setahun ini, Annisa tidak tau bagaimana kabar Shaka. Meski sering berkomunikasi dengan Salwa dan kedua mertuanya. Mereka tidak mau membahas tentang Shaka.


**


"Shaka!"


Shaka yang di panggil langsung menoleh ke arah seorang gadis yang berlari ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Shaka dengan raut wajah datar dan menatap tajam gadis cantik yang selalu membuntutinya itu selama di kampus.


Gadis berwajah manis dan imut itu berdecak, melihat Shaka sepertinya tidak tau bagaimana caranya tersenyum pada cewek.


"Aku punya permen untuk mu." Gadis yang hoby mengepang rambut itu menyodorkan permen tangkai ke arah Shaka. Dan Shaka langsung mengambil permen itu dan membuangnya jauh.


"Berhenti mengikuti ku, atau aku akan memperkosa mu di sini" ancam Shaka tak suka di dekati siapa pun. Tak suka berteman dengan siapa pun.


Gadis itu terdiam tanpa melepas netranya dari wajah Shaka. Wajah yang selalu terlihat dingin, penuh dengan amarah dan kesedihan.


"Aku bisa melihat kalau kamu itu sebenarnya orang baik" ucap gadis itu.


Shaka malah menatap gadis di depannya itu marah dengan mata merahnya. Perlahan Shaka mengulurkan tangannya ke dada gadis itu tanpa aba aba menarik sebelah kemejanya dengan kuat sampai kancing baju kemeja gadis itu lepas.


Gadis polos itu langsung memegangi dadanya dan seketika ketakutan melihat Shaka.


"Aku sudah sering mengingatkan mu, tapi kamu masih berani menggangguku." Shaka menarik sedikit sudut bibirnya kesamping lantas pergi dari tempat itu dan meninggalkan kampus.


'Aku yakin dia pria yang baik, tapi apa yang membuatnya seperti orang jahat' batin gadis itu. Memperhatikan punggung Shaka yang semakin menjauh.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2