Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Sang bidadari surga yang masih suci


__ADS_3

"Ini acara apa sebenarnya? kenapa musiknya seperti di acara keagamaan?."


"Sepertinya Tahun ini Pak Chandra dan istrinya merayakan hari jadi mereka dengan tema yang berbeda."


"Tapi lihatlah pakaian kita, tidak cocok ke acara seperti ini. Saya jadi merasa seperti salah kostum." Wanita itu memperhatikan pakaiannya yang bermodel terbuka dari atas, dan bagian bawahnya sangat pendek.


"Iya, lihat itu" tunjuk seorang wanita ke arah para anak anak yang duduk di kursi bagian paling depan ruangan itu kepada temannya."Mereka mengundang anak anak dari Panti asuhan sepertinya."


"Sepertinya begitu, ada apa dengan Pak Chandra dan Nyonya Hajar?."


"Sepertinya mereka sudah bertaubat."


"Aku rasa acara seperti ini sangat membosankan. Setelah mengucapkan selamat, lebih baik kita langsung pergi."


"Kamu benar, ayo kita samperin Pak Chandra dan Nyonya Hajar."


"Iya, ayok."


Begitulah sekelompok undangan pria dan wanita itu membicarakan acara pesta ulang Tahun pernikahan Pak Chandra dan Nyonya Hajar.


mereka pun mengucapkan selamat kepada Pak Chandra dan Nyonya Hajar, dan langsung berpamitan untuk pulang.


"Maaf Pak Chandra, Nyonya Hajar. Kami gak bisa berlama lama, kami harus memenuhi undangan acara lain lagi" pamit wanita yang terlihat masih seusia Nyonya Hajar itu.


"Gak apa apa, dan Trimakasih sudah menyempatkan hadir" balas Nyonya Hajar mengulas senyumnya ramah.


"Nyonya Hajar, penampilanmu sangat terlihat aneh hari ini" ucap wanita yang barusan mengucapkan selamat kepada Nyonya Hajar.


"Aneh bagaimana? saya membeli baju ini dari desainer ternama. Bahannya bagus, harganya juga sangat mahal, setara dengan harga kalung yang kamu pakai" cetus Nyonya Hajar tak suka.


'Ini semua gara gara Calix, dasar anak durhaka, sudah membuat Ibunya di permalukan seperti ini. Masa dia menyuruhku berpakaian tertutup seperti ini, sampai yang kelihatan hanya wajah dan telapak tanganku' batin Nyonya Hajar.


"Maksudku bukan masalah bahan dan harganya Nyonya. Tapi penampilannya aneh, sangat tidak cocok untuk Nyonya Hajar sendiri."

__ADS_1


"Tidak cocok bagaimana?."


Refleks Nyonya Hajar, Pak Chandra dan sekelompok tamu undangan itu menoleh ke arah seorang gadis cantik dan manis yang memakai jilbab, tidak lain adalah Annisa.


"Pakaian menutup aurat itu adalah, pakaian untuk wanita muslim.Tidak ada yang terlihat aneh dengan pakaian tertutup, justru terlihat bagus, anggun dan sopan dibandingkan dengan pakaian kurang bahan dan belum siap di jahit" tutur Annisa dengan suara lembut dan sopan.


"Jika kalian tidak ingin menutup aurat kalian. Atau menutup aurat itu bukan suatu perintah di keyakinan kalian. Tapi janganlah mempengaruhi orang lain untuk melanggar aturan Agamanya. Cukup kita saling menghargai saja" ujar Annisa lagi.


"Hei, siapa Anda sudah berani bicara di depan kami." Wanita yang berdiri di depan Nyonya Hajar itu menatap marah ke arah Annisa.


"Saya lihat dari penampilan kamu, kamu itu berasal dari keluarga sederhana. Tapi berani beraninya bicara pada kami. Umur masih kecil juga, sok menasehati."


"Dia Adik saya."


Refleks Annisa menoleh ke arah pria berwajah bule yang berjalan ke arahnya, begitu juga dengan yang lainnya.


"Abang Boy" gumam Annisa dengan wajah sumiringah dan langsung memeluk tubuh pria berusia hampir empat puluh Tahun itu.


"Kenapa kamu sampai di sini?" tanya pria yang tak lagi muda itu kepada Annisa, sambil mengusap kepalanya.


"Anak Om Chandra dan Tante Hajar adalah sahabat Shaka" jawab Annisa.


Mr Boy pun mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang berani memarahi Adik sepupunya itu.


"Patrick, kenali wanita ini, dan cari tau nama perusahaannya. Jika perusahaan kita memiliki kerja sama, batalkan kerja sama itu" perintah Mr Boy kepada pria yang selalu mengikutinya kemana mana.


"Baik, Tuan" patuh Patrick, langsung mengeluarkan benda pipih canggih dari dalam saku jasnya, dan dengan lihai jarinya langsung berselancar di atas layar datar itu.


Berhasil membuat wajah wanita itu memucat dan menelan air ludahnya bersusah payah. Perusahaannya masih perusahaan kecil, tentu itu tidak sulit bagi seorang Mr Boy untuk menghancurkannya.


"Pergi kalian dari sini" usir Pak Chandra yang diam dari tadi.


Sekelompok wanita dan pria itu pun langsung pergi meninggalkan acara. Mereka sudah tidak punya nyali berhadapan dengan kedua pebisnis besar itu. Apa lagi melihat tatapa Pak Chandra yang begitu tajam menusuk langsung ke jantung bisnis mereka.

__ADS_1


"Saya minta maaf, Mr Boy. Menyesalkan perbuatan mereka yang sudah merendahkan nak Annisa." Pak Chandra menghela napasnya kasar.


"Hanya dari penampilan dan pakaian mereka langsung menilai rendah orang lain." Mr Boy pun ikut menghela napasnya.


"Huh! lihatlah, hampir semua tamu undangan yang hadir, tidak betah berlama lama di sini" desah Nyonya Hajar menghembuskan napasnya kasar.


"Biarkan saja, aku rasa pesta seperti ini lebih baik. Lihatlah anak anak itu, wajah mereka terlihat sangat bahagia menikmati pesta ini" Pak Chandra mengarahkan pandangannya ke arah anak anak yang kurang beruntung yang di undang Calix ke acara itu." Dan Annisa benar, kamu terlihat lebih cantik dan anggun memakai pakaian seperti ini."


"Kalau itu benar, setiap malam aku akan tidur dengan pakaian tertutup seperti ini. Tolong jangan melepasnya dari tubuhku" balas Nyonya Hajar.


"Ehem!" Mr Boy berdehem mendengar apa yang di bicarakan Nyonya Hajar barusan."Kalau begitu, selamat untuk kalian berdua, kami ke sana dulu. Para tamu undangan sudah banyak yang ingin mengucapkan selamat pada kalian.


"Trimakasih, dan selamat menikmati pestanya" balas Pak Chandra.


"Pasti."


Di atas panggung, Dari tadi pandangan Shaka terus mencari keberadaan Annisa yang sempat menghilang dari pandangannya. Kemana istri cantik dan seksinya itu pergi, kenapa gak kelihatan?. Membuat hati Shaka tidak tenang aja. Shaka khawatir di tenga tengah pesta itu Annisa sudah di rayu sama pria tampan dan matang.


'Kemana dia pergi?, Salwa dan Hasna juga gak kelihatan' batin Shaka, menjadi tidak bisa fokus bernyanyi melantunkan salawat nariyah dari atas panggung.


"Dzaki, gantiin dulu, istriku menghilang, aku harus mencarinya" ucap Shaka sembari memberikan microphon di tangannya ke tangan Dzaki, dan langsung turun dari atas panggung.


"Ya elah, dia pergi, aku kan gak bisa nyayi" ujar Dzaki berbicara sendiri.


"Sini, biar aku yang nyayi." Ferel mengambil microphon dari tangan Dzaki, setelah mendudukkan tubuhnya di kursi yang di sediakan di atas panggung, Ferel meraih gitar yang tidak jauh dari jangkauannya dan langsung memetik talinya. Berhasil mencuri perhatian para tamu undangan ke atas panggung.


"Saya persembahkan lagu ini khusus untung Om Chandra dan Tante Hajar" ucap Ferel dengan wajah tersenyum."Selamat ulang Tahun pernikahan Om, Tante. Semoga pernikahan Om dan Tante selalu sakinah mawadah dan warohmah sampai ke Jannah Nya Allah, amin!."


Ferel pun mulai bernyanyi dengan suara merdunya di iringi petikan gitar di pangkuannya.


Di bawah panggung, Shaka terus melangkahkan kakinya kesana kemari mencari Annisa sang bidadari surganya yang masih suci itu. Jangan sampai pandangan bidadari nya itu ternoda karena tak bisa menjaga pandangannya dari pria tampan yang bertebaran di ruangan itu. Awas aja kalau sang bidadari tebar pesona. Shaka merapatkan gigi giginya, gemas sendiri dengan istrinya yang di khawatrikannya itu.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2