
"Ya Allah, jadikan ustadz Furqon menjadi milikku. Hanya dia laki laki yang ku mau dalam hidupku, titik gak pake koma ya Allah. Amiiiin Ya Allah" ucap Annisa di penghujung doa di sepertiga malamnya.
Melihat jam sudah menunjukkan hampir jam tiga dini hari. Ternyata Annisa sudah lebih dari dua jam berada di atas sajadahnya, bermunajat, memohon ampun, meminta, berzikir dan mengaji, tidak lupa berdoa semoga keinginannya terkabul.
**
Pagi hari di sekolah, Annisa yang sudah duduk di bangkunya, menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja dan memejamkan matanya yang masih terasa ngantuk karena kurang tidur.
Salwa dan Hasna yang melihatnya, sama sama mengedikkan bahu tak ingin bertanya kenapa sahabat mereka itu mengantuk, padahal hari masih pagi. Karna mereka sudah tau jawabannya adalah ustadz Furqon alasannya.
Kelas sudah ramai memenuhi bangku di dalam kelas itu. Tak lama kemudian, bel pertanda masuk sudah berbunyi, menandakan proses belajar mengajar hari ini akan segera di mulai. Tak lama kemudian seorang guru laki laki yang usianya masih sangat muda masuk ke dalam kelas sembari mengucap salam.
"Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam, Ustadz!" balas semua siswi di kelas itu.
Furqon yang berjalan di depan kelas, menoleh sekilas ke arah Annisa yang sudah membuka mata, dan memperhatikannya tanpa terputus. Melihat itu, Furqon menghela napasnya. Sudah sering kali ia menasehati Annisa supaya menundukkan pandangannya, namun gadis itu tidak mendengarkannya sama sekali.
"Annisa, silahkan kumpulkan PR kalian. Dan kamu Salwa, silahkan catat rangkuman di buku ini ke papan tulis" perintah Furqon kepada Annisa dan Salwa sebagai sekretaris di kelas itu.
"Siap, Ustadz" jawab Annisa dan Salwa bersamaan.
Selesai mengumpulkan PR teman temannya. Annisa baru mengumpul buku PR nya, menaruhnya di bagian paling atas, lalu mengantarnya ke meja guru.
"Trimakasih" ucap Furqon saat Annisa meletakkan tumpukan buku itu depannya.
"Sama sama Ustadz sayang!" balas Annisa tersenyum manis, dan langsung kembali ke bangkunya.
'Astaqfirulloah' ucap Furqon dalam hati, langsung mengambil buku yang berada di bagian atas tumpukan buku itu dan langsung membukanya.
# Ustadz, semalaman ini aku hampir gak bisa tidur memikirkan, Ustadz. Apa yang harus ku lakukan ustad?#
Annisa senyum senyum dari bangkunya, melihat Furqon membaca surat kecil yang sengaja di selipkannya di dalam buku miliknya. Melihat Furqon menulis sesuatu di dalam bukunya, Annisa semakin senyum senyum tidak jelas, membuat ngantuknya menghilang begitu saja sangking senangnya.
__ADS_1
"Annisa!" panggil Furqon, menutup buku Annisa di tangannya.
"Iya Ustadz" balas Annisa.
"Silahkan berdiri di depan kelas sampai pelajaran saya selesai" ujar Furqon.
"Kenapa ustadz?, perasaan PR saya benar semua deh ustadz." Annisa tidak terima di suruh berdiri di depan kelas. Mengingat selama ini dia tidak pernah di hukum sama sekali. Annisa adalah murid yang pintar, dan selalu mendapat peringkat satu. Dan dia selalu mengerjakan tugas dengan benar, karena ada sang Ayah dan Uminya yang selalu mengajarinya di rumah.
"Aku tau kamu mengantuk, jadi saya ingin membantu supaya ngantuk mu hilang" jawab Furqon melihat wajah Annisa sekilas.
"Aku sudah gak ngantuk lagi ustadz" ucap Annisa. Dia gak mau berdiri di depan kelas. Kalau Ayahnya tau, pasti dia kena hukuman di rumah.
"Annisa, saya tidak suka orang yang membantah" ucap Furqon.
Annisa langsung berdiri dari tempat duduknya."Baiklah ustadz, demi ustadz aku akan melakukan apa pun" ucap Annisa kemudian melangkah ke depan kelas, berdiri tidak jauh dari samping Furqon.
Furqon yang melihat Annisa patuh, mengulum senyumnya.
"Ehem" Furqon berdehem kemudian menoleh ke arah Annisa yang berdiri di sampingnya." Bagaimana? apa kamu sudah mengatakan kepada keluargamu kalau kamu mencintaiku?" tanya Furqon.
"Belum Ustadz" jawab Annisa tersenyum masam. Mana berani dia mengatakan itu kepada orang tuanya.
"kalau begitu, berhenti memikirkan ku. Apa lagi sampai membuatmu tidak bisa tidur" ucap Furqon.
"Aku gak bisa Ustadz, sungguh!" balas Annisa cepat.
Furqon pun mengembalikan buku Annisa, kemudian menyuruh gadis berusia tujuh belas Tahun itu untuk kembali duduk. Furqon tidak sungguh sungguh untuk menyuruh Annisa berdiri di depan kelas, dia hanya ingin mengerjainya saja.
"Silahkan kembali duduk" suruh Furqon.
"Trimakasih Ustadz sayang" balas Annisa, langsung kembali duduk ke bangkunya. Annisa langsung membuka bukunya, penasaran dengan apa yang di tulis Furqon tadi di dalam bukunya.
#Perbanyaklah berzikir. Jika kamu sukar untuk tidur malam. Itu artinya Allah menginginkanmu berzikir kepadanya lebih panjang lagi#
__ADS_1
Furqon melirik Annisa yang membaca tulisan di buku gadis itu. Annisa memanyunkan bibirnya, nampak kecewa dengan jawabannya. Namun saat Annisa membuka bukunya di lembar berikutnya, senyum Annisa mengembang sampai gigi giginya yang berbaris rapi kelihatan.
# Trimaksih tasbihnya. Aku akan memakainya#
"Ehem!"
Deheman Furqon berhasil menyadarkan Annisa. Annisa langsung mengarahkan pandangannya ke arah Furqon yang berdiri dari kursinya. Annisa tersenyum ke arah Furqon yang mulai menjelaskan pelajaran.
'Astaqfirulloh!' batin Furqon melihat senyum Annisa kali ini terlihat begitu mempesona.
**
Annisa yang sudah selesai melaksanakan shalat subuh, mengganti pakaiannya dengan baju olah raga untuk wanita berhijab. Pagi ini Annisa akan lari pagi, mumpung hari libur.
"Annisa, kamu mau kemana?." Umi Hani mengerutkan keningnya melihat Annisa yang baru turun dari lantai dua rumah itu, dengan memakai pakaian olah raga.
"Mau olah raga Umi" cengir Annisa.
"Semenjak kapan kamu suka olah raga?" tanya Umi Hani. Biasanya putri sambungnya itu tidak pernah suka dengan yang namanya olah raga. Masa bodoh dengan tubuhnya yang terus bertambah bobotnya.
"Semenjak pagi ini, Umi. Annisa pengen kurus, biar cantik dan seksi hehehe. " jawab Annisa menyengir." Kalau gitu Annisa pergi dulu Umi, assalamu Alaikum Umi cantik." Annisa langsung pergi setelah mengucap salam dan menyalam wanita bidadari surga Ayahnya itu.
"Annisa mau pergi kemana pagi pagi begini?" tanya Ustadz Bilal yang sempat mendengar Annisa dan Hani berbicara.
"Olah raga, katanya biar kurus, cantik dan seksi" jawab Umi Hani, mengambil baby Han dari gendongan ustasz Bilal.
"Olah raga?" ulang Ustadz Bilal, tidak percaya. Lama sekali putrinya itu sadar dengan bobot tubuhnya yang semakin bertambah. Dan apa gerangan yang membuat putrinya itu pengen kurus.
"Akhir akhir ini aku melihat Annisa berbeda. Dia sering senyum senyum sendiri dan melamun. Tapi kalau di tanya dia gak mau jawab" ucap Umi Hani, mengikuti langkah suaminya ke arah dapur.
"Anak itu memang rada rada aneh. Kenapa kamu masih heran?." Ustadz Bilal sudah tidak heran lagi dengan tingkah putrinya itu yang sering bersikap kecentilan, pecicilan, sok cantik dan imut.
*Bersambung
__ADS_1