Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Aku cemburu


__ADS_3

"Maaf!" ucap Furqon perlahan menarik tangannya dari kening Annisa.


Annisa yang tersadar dengan tindakannya, pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, ternyata di ruangan itu, ada Shaka, Calix, Hasna dan Salwa.


"Kalau begitu, saya permisi, Assalamu alaikum" pamit Furqon, berdiri dari tempat duduknya dan segera meninggalkan ruangan itu.


"Annisa!" panggil Hasna melihat Annisa menundukkan pandangannya.


"Shaka, aku minta maaf, aku gak sengaja menyentuh tangan Ustadz Furqon. Aku...aku gak berniat...."


"Kamu gak salah Annisa, tapi Ustadz Furqon lah yang salah" potong Shaka kesal. Siapa coba yang gak cemburu, laki laki lain menyentuh calon istrinya.


"shaka!, kamu itu kenapa?. Kenapa kamu sepertinya membenci Ustad Furqon?. Dia hanya membantu Annisa untuk keluar dari alam bawah sadarnya" tegur Salwa. Sifat Shaka sepertinya berubah akhir akhir ini.


"Ustadz Furqon menyukai Annisa, dia pernah melamar Annisa. Jelas aku cemburu melihat Ustadz Furqon sangat peduli dengan Annisa. Ada aku di sini, seharusnya dia menjaga perasaanku" balas Shaka bernada sedikit marah.


Annisa yang melihat Shaka marah, tak sadar meneteskan air matanya.


"Lihat Annisa, dia sudah menangis, kamu sudah membuatnya sakit hati, Shaka. Seharusnya kamu gak perlu marah dan cemburu. Toh Annisa sudah memilihmu kan menjadi calon suaminya. Annisa lagi sakit Shaka, kok kamu malah mentingin ke egoisanmu" balas Salwa memarahi Shaka.


"Cukup! kalian diam!" geram Annisa. Dia lagi sakit, malah Shaka dan Salwa saling marahan di depannya.


"Maaf!" ucap Shaka meneduhkan pandangannya ke arah Annisa.


"Calix, tolong panggil Ferel, biar dia mengantarku pulang" mohon Annisa kepada Calix.


"Kenapa harus Ferel?, aku bisa mengantar mu pulang, Annisa" tanya Shaka.


"Aku butuh Ferel" jawab Annisa.


"Baiklah, aku akan memanggilnya" ucap Calix dan langsung keluar dari ruangan itu.Tak lama menunggu, Calix sudah kembali membawa Ferel.


"Annisa, kamu kenapa?" tanya Ferel khawatir.


"Aku sakit, antar aku pulang" jawab Annisa menangis.


Yakinlah, Annisa menangis bukan karena Shaka marah, melainkan karena Furqon. Sepertinya jiwanya sedang terguncang mendengar lantunan ayat suci Alqur'an pria itu. Annisa butuh sendiri untuk menata perasaannya yang tidak menentu arahnya.


"Ya udah Ayo!" ajak Ferel kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruang UKS itu.


"Gendong Ferel!" teriak Annisa. Tubuhnya lagi lemah, gak kuat untuk jalan, Ferel masih saja ingin membiarkannya jalan sendiri.

__ADS_1


"Aku mana kuat Annisa, tubuhmu besar gitu" ucap Ferel yang masih berdiri di depan pintu.


"Shaka aja tubuhnya lebih kurus, bisa gendong aku tadi" rajuk Annisa manja, tidak tau sama sekali kalau yang membawanya ke ruang UKS itu adalah Furqon.


"Tadi juga Shaka gak sanggup. Untung tadi ada Ustadz Furqon, dia yang membawa kamu ke sini" celetuk Calix.


Shaka mendengus tak suka. Merasa hilang harga dirinya, Karana menggendong cewek sendiri gak sanggup.


"Ya udah, ayok!" Ferel menurunkan tubuhnya di tempatnya berdiri, membuat Annisa mengerucutkan bibirnya. Masa Annisa Harus turun dari atas brankar, dan berjalan ke depan pintu. Nanti kepalanya tiba tiba pusing dan pingsan lagi, gimana?.


"Ferel!" rengek Annisa manja, melihat Ferel gak mau menjemputnya ke atas brankar." Aku bilangin nanti sama Paman Daren, kamu jahatin aku" ancam Annisa.


"Kau itu, manja banget sih!" Ferel mengenal napasnya lantas berdiri kembali dan menjemput Annisa ke atas brankar.


Annisa yang masih berbaring, pun mendudukkan tubuhnya dan Ferel langsung mengangkat tubuhnya ala bridal style, membawanya keluar dari ruang UKS. Namun baru sepuluh langkah, Ferel berhenti, dan menurunkan tubuh Annisa di lantai teras sekolah.


"Makanya diet, kalau pengen bisa di gendong" ujar Ferel. Meski tubuhnya termasuk tinggi, tapi tubuh Ferel juga kurang berotot, sehingga tidak cukup tenaga untuk membawa Annisa ke parkiran mobilnya.


"Aku lagi sakit Ferel" rengek Annisa, dia sedang sakit malah sepupunya itu meletakkannya di lantai.


"Meski pintar dan cerdas, Annisa itu adalah gadis yang manja. Dia memiliki saudara saudara sepupu yang banyak untuk memanjakannya. Apa kamu masih yakin ingin menikahinya!. Jangan sampai kamu melukainya sampai dia menangis, habis kau" ucap Salwa yang berdiri di samping Shaka sambil memperhatikan Annisa dan Ferel.


"Aku papah aja ya, kamu berat banget, aku gak sanggup gendong" ujar Ferel.


"Kepalaku pusing kalau berjalan, tadi aja aku pingsan" ucap Annisa masih duduk di lantai sekolah.


"Kamu kenapa bisa sakit sih?." Ferel kembali mengangkat tubuh Annisa, berusaha membawanya ke parkiran.


Annisa yang di gendong kembali, mengulas senyumnya. Dengan mengerjai Ferel, Annisa merasa sedikit terhibur dari kegundahan hatinya.


Entah berapa kali Ferel berhenti dan meletakkan tubuhnya di lantai sekolah, dan bahkan di atas rumput. Akhirnya mereka sampai di parkiran mobil Ferel, dan Ferel membantunya masuk ke dalam mobil. Setelah Ferel menyusul masuk, Ferel langsung melajukan kendaraannya.


Sampai di rumah yang di tempati keluarga Annisa saat ini, baru Ferel menghentikan laju kendaraannya. Ferel kembali menggendong Annisa dari dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah peninggalan mendiang Kakek dan Nenek mereka itu.


"Annisa" ucap Tante Yumna, Wanita tua itu adalah istri dari Paman Annisa bernama Reyhan."Ferel, Annisa kenapa?" tanya Tante Yumna.


"Sakit, Tante" jawab Ferel meletakkan tubuh Annisa di atas sofa ruang tamu.


"Sakit apa?" tanya Tante Yumna mendekati Annisa yang terbaring di atas sofa.


"Sakit cinta, Tante" jawab Annisa dengan mata terpejam. Semakin lama Annisa merasa tubuhnya semakin hangat, sampai bibirnya pun terasa kering.

__ADS_1


"Ck! kau itu, di tanya serius malah bercanda" decak Tante Yumna.


Annisa membuka matanya yang di pejamkan nya dari tadi, dan mengarahkan pandangannya ke wajah Tante Yumna.


"Tante Yumna tau gak gimana caranya move on?" tanya Annisa kembali memejamkan matanya yang terasa berat.


"Gak tau" jawab Tante Yumna singkat padat dan jelas.


Annisa berdecak, gak seru nih Tante Yumna nya ditanya.


"Udahlah, Annisa mau tidur" ucap Annisa bernada kesal, kemudian bergeming menikmati rasa sakit di kepala dan sekujur tubuhnya.


"Kalau begitu, Ferel pamit kembali ke sekolah Tante. Assalamu alaikum" pamit Ferel setelah selesai melaksanakan tanggung jawabnya, menjaga salah satu cucu kesayangan ratu sejagat itu.


"Hati hati, jangan ngebut!" seru Tante Yumna kepada Ferel yang melangkah ke arah pintu.


"Iya, Tante!" balas Ferel.


**


Malam hari, Shaka yang berada di dalam kamarnya, dari tadi uring uringan. Wajahnya terlihat tak bersemangat, memikirkan pernikahannya dengan Annisa yang tertunda dalam kurun waktu yang belum bisa di pastikan.


Annisa sedang sakit, dan orang tua Annisa juga sedang sibuk memikirkan tempat tinggal yang baru. Meski sebenarnya rumah yang terbakar itu masih bisa di tempati, tapi keluarga Annisa tidak mau tinggal di rumah itu lagi. Mereka ingin tinggal di tempat yang baru.


Tok tok tok!


"Shaka! boleh Mama masih?" sahut seorang wanita dari luar kamar.


"Masuk aja Ma!" balas Shaka.


Bu Drabia yang berdiri di depan pintu, pun langsung membuka pintu kamar anak ya itu dan melangkah masuk.


"Ada apa, Ma?" tanya Shaka.


"Barusan Mama mendapat telephon dari Mama Aqeela. Dia mengatakan kalau mereka akan siap menikahkan Annisa dan Kamu Bulan depan" ucap Bu Drabia setelah mendudukkan tubuhnya di depan Shaka.


"Serius Ma?"


*Bersambung


# Untuk pembaca baru otor di novel ini. Biar gak bingung, di sarankan membaca karya othor berjudul: Brother, I love you dulu. Okeh!

__ADS_1


__ADS_2