
Annisa yang sudah pulang sekolah, membuka kancing tasnya yang di letakkan nya di atas meja belajarnya. Annisa pun mengeluarkan selembar kain kecil yang ada bekas darahnya. Annisa menggenggam kain itu sampai tangannya mengepal. Mengingat dingin dan lembab nya tadi tangan Furqon saat memegang tangannya.
'Ya Allah, semakin aku ingin menjauhinya, kenapa dia malah semakin dekat?' batin Annisa.
Selesai mengganti pakaian sekolah nya, Annisa langsung ke luar dari dalam kamar, melangkahkan kakinya ke arah tempat pencucian kain, membawa sebuah sapu tangan genggamannya. Annisa akan mencuci bekas darahnya itu sampai bersih, baru ia kembalikan kepada pemiliknya.
Annisa tak ingin menyimpan sapu tangan itu, karena itu milik Furqon. Kalau membuangnya, Annisa merasa tidak menghargai Furqon yang sudah sedikit menolongnya. Dan mungkin bisa saja Furqon masih membutuhkan sapu tangan itu.
"Aduh! kok darahnya, susah hilang ya?" tanya Annisa entah kepada siapa.
Dia sudah memberi banyak deterjen ke sapu tangan itu, sudah menyikatnya kuat, namun bekas darah tangannya itu awet menempel, gak mau hilang. Sehingga hampir satu jam, baru Annisa berhasil membersihkan sapu tangan itu.
"kok warnanya jadi begini?" ucap Annisa, saat menerawang warna sapu tangan itu di depan wajahnya.
"Annisa, kamu nyuci apa? Sampai banyak bisa sabun begitu?" tanya Umi Hani yang tiba tiba datang.
Annisa menoleh ke arah wanita cantik milik Ayahnya itu."Nyuci ini Umi." Annisa menunjukkan sapu tangan di tangannya ke arah Umi Hani.
Umi Hani menggeleng gelengkan kepalanya. Berpikir, menyuci selembar sapu tangan aja, sampai menghabiskan sabun satu kilo. Bagaimana kalau satu ember?. Umi Hani pun memilih pergi dari tempat itu.
Annisa yang sudah selesai mencuci bersih sapu tangan milik Furqon, membawanya kembali ke dalam kamar, menjemurnya di balkon.
**
Esok harinya, Annisa melangkah kan kakinya ke arah ruang kantor guru. Annisa ke sana untuk menemui Furqon, ingin mengamalkan sapu tangan pria itu. Melihat Furqon belum datang, Annisa pun memutuskan untuk meletakkannya di meja Furqon yang ada di ruangan itu, dan menuliskan sesuatu di sebuah kertas yang di sobeknya dari dalam buku.
# Maaf nyucinya terlalu bersih, sampai warnanya memudar#
Furqon tersenyum, membaca tulisan di kertas kecil itu.' Dia sangat polos. Seharusnya dia tidak perlu mengembalikan sapu tangan ini' batin Furqon.
Furqon menyimpan sapu tangan yang di selipkan Annisa di salah satu buku di atas mejanya itu, ke dalam saku celananya. Lalu berdiri dari tempat duduknya, keluar dari ruang guru, untuk mengajar ke salah satu kelas di sekolah itu.
**
"Annisa!"
__ADS_1
Annisa yang di panggil langsung menoleh ke arah Shaka yang berlari ke arahnya. Annisa mengerutkan keningnya, memperhatikan wajah tampan Shaka, senyumnya sangat menawan, matanya sedikit sipit, rambut lurusnya sedikit warna pirang alami. Sekilas Shaka sangat mirip dengan orang Korea.
"Ada apa?" tanya Annisa setelah Shaka berdiri di depannya.
"Ini aku bawa nasi goreng untuk mu. Aku yang masak sendiri loh." Shaka memberikan kotak makan di tangannya kepada Annisa.
Annisa langsung mengulas senyumnya dan menerima kotak makan yang berisi nasi goreng itu.
"Baguslah kalau kamu pandai memasak. Soalnya aku gak bisa masak sama sekali" ujar Annisa semakin melebarkan senyumnya.
"Gak apa apa, nanti kalau aku gak sempat masak. Kita bisa go-food atau menyewa pembantu" balas Shaka. Uang orang tuanya banyak, jadi tidak masalah bagi Shaka.
Furqon yang melintas di samping mereka, hanya bisa menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, mendengar pembicaraan Annisa dan Shaka.
'Ya Allah, beri aku kesabaran dan ketabahan yang lebih banyak lagi. Karena aku tidak mungkin bisa menantang takdir yang sudah Engkau tentukan. Aku mencintai Annisa ya Allah, dari sebelum aku mengenalnya, sampai aku bisa mengenalnya, dan sampai gadis kecil itu sudah akan menikah dengan pria lain, rasa cinta ini tidak berubah untuknya.' batin Furqon sambil berjalan.
'Siapa yang cepat, dia yang dapat Ustadz Furqon. Setelah aku menikahi Annisa, aku berharap kau berhenti mengharapkannya' bagi Shaka melirik Furqon yang semakin menjauh dari sudut matanya.
"Ayo aku antar ke kelas mu"ajak Shaka. Annisa menganggukkan kepalanya, dan mengikuti langkah Shaka di sampingnya." kemarin kata Salwa kamu terjatuh di dalam kelas, dan tanganmu terpijak orang" ucap Shaka lagi.
"Iya, tetap aja orang itu membuat bidadari surga ku terluka." Shaka mengulas senyumnya ke arah Annisa.
"Jangan menatapku seperti itu." Wajah Annisa merona di perhatikan intens oleh Shaka.
"Aku gak sabar menunggu hari minggu" ujar Shaka.
"Kenapa dengan hari minggu?" tanya Annisa, padahal sudah tau jawabannya. Kalau hari Minggu besok mereka akan menikah secara resmi. Meski tidak membuat pesta besar besaran. Tapi tetap saja orang tua mereka mengundang banyak orang.
"Menikah, sayang!" jawab Shaka.
Sekolah itu milik Nenek moyang Annisa. Siapa yang berani melarang, mereka menikah meski masih berstatus pelajar. Jadi mereka tidak perlu khawatir di keluarkan dari sekolah.
"Ikh! lebay" tanpa sadar, Annisa memukul lengan Shaka, karena Shaka memanggil nya sayang. Annisa belum pernah di panggil sayang oleh laki laki selain Ayah nya.
"Jangan menggodaku seperti itu, Annisa. Kita belum di halalkan" ujar Shaka tersenyum lebar sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi.
__ADS_1
"Siapa yang menggoda mu?." Wajah Annisa semakin merona, menyadari kalau dia sudah berani memukul lengan Shaka.
"Gak usah malu" ujar Shaka.
Padahal selama ini Annisa bukan pemalu, bahkan Annisa sangat suka menggoda cowok cowok tampan di sekolah itu. Tapi semenjak Annisa memakai hati, Annisa menjadi pemalu. Apa lagi sebentar lagi mereka akan menikah, malunya semakin gede.
"Kelasku udah sampai, sana masuk ke kelas mu" suruh Annisa setelah sampai di depan kelasnya.
"Iya, cinta. Semangat belajar." Shaka pun menyempatkan tangannya mengusap lembut kepala Annisa, kemudian berlalu.
"Cie cie! calon manten udah berani romantisan ni yeh !" goda Salwa yang sudah sampai duluan di dalam kelas.
"Shaka tuh, sok lebay" ujar Annisa dengan mata berbinar.
"Yang wajahnya berbinar, sepertinya lagi senang nih!" sambung Hasna yang duduk di samping Annisa.
"Iya dong!" balas Annisa, mengeluarkan bukunya dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.
**
"Kenapa kamu gak berhenti saja mengajar dari sekolah itu?. Dari pada kamu galau terus karena susah move on dari Annisa" ujar Thariq kepada Furqon." Mending kamu fokus aja mengurus usaha kita. Apa lagi saat ini orderan kayu bertambah tiga kali lipat" ujar Thariq lagi.
"Aku gak punya alasan yang tepat untuk berhenti kepada Ustadz Bilal. Dan juga, aku masih bisa menahan diri" jawab Furqon menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Katakan saja, kalau pekerjaan di sini lagi banyak" ujar Thariq lagi.
"Cinta ini hanya cobaan kecil" balas Furqon tersenyum.
Thariq pun menjadi ikut tersenyum, dan menepuk pelan bahu Adiknya itu. Furqon memang terkesan lebih tegar menghadapi suatu masalah dari dulu.
"Terserah kamu saja, tapi kalau sudah tidak kuat, mengundurkan diri saja. Jangan sampai Annisa membuatmu terkena penyakit jantung dan hati."
*Bersambung
# Ayo dong, kasih semangatnya buat otor!
__ADS_1