Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Menghempaskan pelakor


__ADS_3

Annisa yang sudah selesai mandi langsung keluar dari kamar mandi. Annisa tidak melihat Shaka di dalam kamar, melainkan duduk di kursi yang ada di balkon kamar mereka, mulutnya terlihat mengeluarkan asap.


'Ya Allah, semenjak kapan dia merokok?. Dia benar benar berubah sekarang.'


Annisa menghela napasnya melihat Shaka sangat jauh berubah, tidak seperti Shaka setahun yang lalu. Tapi syukurnya Shaka tidak sampai menjadi pria nakal.


"Cepatlah pakai baju, aku sudah menyuruh si Bibi mengantar makanan ke sini" ujar Shaka melihat Annisa sudah keluar dari kamar mandi


Annisa mendengus, bibirnya mengerucut, masih kesal dengan Shaka yang tidak mau memanjakannya saat bangun tidur. Segera Annisa memakai pakaiannya dan langsung Melongos keluar kamar. Shaka langsung berlari mengejar Annisa.


Hap!


Belum sempat Annisa menuruni anak tangga rumah itu, Shaka sudah berhasil menangkapnya. Mengangkat tubuh Annisa membawa kembali masuk ke dalam kamar.


"Awas, turunin" Annisa meronta minta di turunin.


"Merajuk dia!" goda Shaka tersenyum. Wajah Annisa terlihat menggemaskan kalau lagi manyun begitu.


Annisa membuang wajah ke arah lain. Habis manis ampasnya dibiarin. Padahal Annisa sudah membayangkan, kalau mereka sudah ke Bulan, bangun tidur Shaka menggendongnya ke kamar mandi, mandi berdua, trus makan diambilin lalu disuapin. Tapi nyatanya, Shaka melakukanya selesai malam pertama, malam kedua gak lagi.


'Lebih baik aku gemukin badan aja, biar dia gak bisa gendong aku sama sekali.'


Annisa membatin sembari melirik Shaka dari sudut matanya.


"Siapa yang merajuk?."


Melihat bibir Annisa semakin mengerucut, Shaka langsung mengecupnya.


"Makanlah aku mandi dulu, setelah itu kita pergi keluar." Shaka berbicara sembari mendudukkan tubuh Annisa di sofa. Di atas meja sudah ada makanan tersaji.


"Aku maunya di suapin" manja Annisa memeluk lengan Shaka dan menyandarkan kepalanya di bahu Shaka.


"Manja banget sih kamu." Akhirnya Shaka mencepit gemas hidung Annisa.


"Ya udah kalau gak mau." Annisa berdiri dan tambah merajuk.


Shaka lansung menarik tangan Annisa yang hendak melangkah, sampai membuat Annisa terduduk kembali di sofa.


"Shaka!" pekik Annisa kesal.


Shaka langsung tertawa kecil, berhasil mengerjai istrinya itu. Shaka pun menarik Annisa ke dalam pelukannya, namun Annisa langsung mendorong tubuhnya, mengatai Shaka bau, karena belum mandi.

__ADS_1


"Bau tau."


"Mana ada ya, meski aku belum mandi, tubuhku tetap wangi. Coba cium" Shaka mendekatkan ketiaknya ke wajah Annisa.


"Ish, Shaka!" Annisa langsung menjauhkan wajahnya dan menutup hidungnya.


"Kamu masih berhadas, Shaka. Sana cepat mandi" tegur Annisa. Mengingat sehabis subuh tadi, mereka ke pergi lagi ke Bulan.


"Aku kan tadi udah wudhu. Kamu aja yang langsung ngorok" ejek Shaka.


Annisa mendengus, bagaimana Annisa tidak langsung ngorok. Dari tadi malam Shaka mengajaknya lembur sampai hampir subuh.


"Iya, tetap aja harus mandi" cetus Annisa.


"Iya bawel, aku mandi, mmuah!." Sebelum beranjak Shaka menyempatkan diri untuk mencium pipi Annisa.


"Shaka! kok aku gak jadi di suapin!" teriak Annisa, tapi Shaka sudah masuk ke kamar mandi.


**


Annisa memutar mutar tubuhnya di depan kaca sembari memperhatikan penampilannya, juga memperbaiki make up di wajahnya. Hari ini Annisa ingin ikut ke kampus bersama Shaka. Penasaran dengan mahasiswi yang mengganggu suaminya itu. Annisa harus bisa menyingkirkan bibit pelakor yang terus ingin menempeli suaminya itu.


Annisa mengulas senyumnya ke arah Shak, kemudian kembali lagi memperhatikam penampilannya di kaca cermin depannya


"Cantik aku kan?."


Shaka tidak menanggapi, pria itu pun melangkahkan kakinya mendekati Annisa, dan menarik selembar tissu dari atas meja rias.


"Siapa yang ingin kau goda? Hm" gemas Shaka melap bibir merah Annisa dengan tissu di tangannya. Namun lipstik warna merah itu tidak bisa di hapus, karena Annisa menggunakan lipstik yang no transfer.


"ikh Shaka!. Siapa juga yang ingin menggoda?. Aku ingin ikut ke kampus untuk menghempaskan pelakor." Annisa berbicara kesal, tak ingin Shaka menghapus lipstiknya.


Jika dulu Annisa langsung marah, emosi dan terbawa perasaan mengetahui Shaka dekat dengan wanita lain. Kali ini Annisa akan menghempaskan wanita mana pun yang berani mendekati suaminya itu. Makanya Annisa merubah penampilannya. Annisa harus lebih wao! dari bibit pelakor.


"Menghempaskan pelakor?" kening Shaka mengerut. Wanita mana lagi yang di sebut pelakor selain Inara, pikir Shaka. Dan juga saat ini Shaka tidak merasa dekat dengan wanita mana pun. Jangankan dengan wanita, bahkan Shaka tidak punya teman sama sekali di kampus.


"Indri" jawab Annisa langsung melongos pergi setelah meraih tas kecilnya dari atas meja rias.


Mendengar jawaban Annisa, Shaka pun terdiam. Dari mana Annisa tau dengan gadis bernama Indri?.


Sampai di depan rumah, Annisa sudah masuk ke dalam mobil mewah miliknya. Bukan, mobil limitid edition itu milik Abang sepupunya, Mr Boy.

__ADS_1


"Kamu udah bisa nyetir?" tanya Shaka yang datang menyusul Annisa. duduk di kursi kemudi mobil itu.


"Makanya beliin aku mobil. Masa iya, menantu pengusaha minjam minjam" Jawab Annisa sedikit mencibir.


"Tapi kan suami kamu bukan pengusaha, sayang" Shaka mencebik, lantas duduk di samping Annisa sebagai penumpang.


"Semenjak kapan kamu bisa nyetir?" tanya Shaka, sambil memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.


"Baru satu Bulan. Ini juga masih uji coba bawa kenderaan di jalanan padat" jawab Annisa mulai melajukan kenderaannya.


Shaka menghela napasnya, ternyata Annisa meminjam mobil Mr Boy bertujuan untuk menunjukkan siapa dirinya kepada Indri. Kalau dia adalah wanita cantik, manis, modis dan berasal dari keluarga kaya raya. Meski mobilnya minjam.


Ya, begitulah! keimanan manusia tidak ada yang sempurnya.


"Indri hanya menggangguku, aku tidak punya hubungan apa apa dengan dia. Jadi kamu tidak perlu menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya pada dia. Bukankah semua kuncinya ada di aku?. Meski dia menggangguku, tapi aku tidak terpengaruh sama sekali."


"Annisa, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Aku lebih menyukaimu berpenampilan sederhana" lanjut Shaka setelah sempat menjeda kalimatnya.


"Tapi siapa yang tau, kalau di luar mata mu jelalatan melirik lirik wanita cantik dan modis?" ketus Annisa.


"Untuk apa? Aku sudah punya kamu."


"Cuci mata, bosan dengan yang di rumah."


"Makanya aku memilih kamu sebagai istriku. Seperti anjuran yang diajarkan Nabi. Carilah istri yang Agamanya baik, supaya kamu tidak kesulitan membimbingnya. Nasab yang baik, aku melihat kamu berasal dari keluarga baik baik, bukan dari keluarga penjudi, pemabuk atau pembunuh. Istri yang cantik, supaya kamu selalu senang melihatnya. Istri yang kaya, jika suatu saat kamu kesulitan mencari rezeki, istrimu bisa membantu mu. Tapi kembali lagi ke individu masing masing. Setiap orang punya pandangan berbeda beda dalam menilai. Dan setiap orang pasti ada kelemahan dan kelebihan." Shaka menjeda kalimatnya sebentar dan menoleh ke arah Annisa yang diam sembari sibuk mengendalikan setirnya." Kamu hampir mendekati ke empat anjuran itu, Annisa. jadi buat apa lagi aku mencari wanita lain?. Untuk nafsu?, aku bebas melakukannya pada mu."


Shaka pun mengangkat satu tangannya untuk mengusap kepala Annisa.


"Meski kamu tidak ada di dekat ku, Annisa. Aku terus berusaha membentengi diriku untuk tidak tergoda dengan yang namamya perempuan lain. Karena aku masih yakin, kamu akan kembali."


Annisa menoleh sebentar ke arah Shaka setelah mendengar menuturan pria itu barusan.


"Aku memang sudah melakukan kesalahan dengan menyembunyikam Inara dulu. Tapi Annisa, saat itu Inara memberikan amanah padaku. Dia memintaku untuk tidak memberitahu siapa pun tentang dirinya untuk sementara waktu. Dia mempunyai aib yang membuatnya malu untuk bertemu dengan keluargaku."


"Aku tidak pernah menjalin hubungan apa apa dengan Inara, Annisa."


"Tapi Inara mencintai mu" potong Annisa cepat, tepat saat kenderaannya terparkir di parkiran kampus.


"Kamu benar, dia mencintaiku. Percaya atau tidak, tapi waktu kami sering bersama, usia kami masih kecil. Semenjak orang tuanya pindah ke kota lain, dia hanya bisa mengatakan itu lewat telephon. Kami sangat jarang bertemu. Dan juga aku sudah mengatakan sama dia, kalau aku mencintai Annisa."


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2