Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Menuntut hak


__ADS_3

Turun dari mobil yang mengantarnya, Annisa langsung berlari masuk ke arah gerbang rumah mereka. Di halaman rumah sudah ada terparkir mobil Shaka. Itu artinya Shaka sudah pulang dan ada di dalam rumah.


"Shaka!" seru Annisa saat masuk ke dalam rumah mereka. Annisa terus berlari mencari Shaka di dalam rumah.


"Shaka!" panggil Annisa lagi saat membuka pintu kamar mereka di lantai dua rumah itu, namun Shaka tidak ada di dalam kamar. Mendengar suara air dari dalam kamar mandi, Annisa yakin Shaka ada di dalam. Dan benar saja, tak lama menunggu, Shaka keluar dari dalam kamar mandi hanya memakai handuk di lilit di pinggangnya.


"Shaka" Annisa berlari ke arah Shaka dan langsung menghamburkan tubuhnya memeluk pria itu.


"Aku minta maaf, aku gak akan mengulanginya lagi. Aku mengaku salah. Sungguh, aku gak bermaksud membuatmu tersinggung dan malu. Maafkan aku" tangis Annisa sambil menangis terisak.


Shaka menghela napasnya, perlahan kedua tangannya pun terangkat untuk membalas pelukan Annisa. Shaka memang mendiamkan Annisa dari tadi.Shaka kesal dan sedikit marah pada istrinya itu. Tapi kalau sudah istrinya menangis terisak Isak meminta maaf padanya, Shaka menjadi tidak tega melihatnya.


"Aku mencintaimu" ucap Annisa di dalam tangisnya.


Perlahan Shaka mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Annisa. Sambil mengusap usap lembut punggung gadis miliknya itu, Shaka mengecup ujung kepala wanita itu dengan penuh rasa sayang. Di saat itu, Annisa langsung mendongakkan wajahnya ke arah Shaka. Wajahnya terlihat begitu merah dan sembab, matanya juga terlihat bengkang kebanyakan menangis.


"Aku minta maaf" ucap Annisa lagi, karena Shaka masih diam saja tidak mengatakan apa pun.


Shaka menganggukkan kepalanya, kemudian menghapus lelehan bening yang membasahi wajah istrinya itu.


"Aku juga minta maaf sudah mengabaikan mu dari tadi. Maafkan kekuranganku juga yang belum bisa memberikan kehidupan yang sempurna untuk mu" balas Shaka. Merasa bersalah telah membuat istrinya itu menangis tersedu sedu.


"Apa pun kesalahanku, jangan pernah mengabaikan ku. Aku gak kuat." Annisa menangis kembali dan menekuk bibirnya ke bawah. Selain merasa bersalah, seharian ini Annisa sangat khawatir terjadi sesuatu pada Shaka.


Shaka malah mengulas senyumnya. Melihat Annisa menangisinya, Shaka merasa sangat di cintai wanita itu saat ini. Akhirnya cintanya mendapat balasan dari gadis itu. Shaka pun mengeratkan pelukannya ke tubuh Annisa.


"Aku juga gak kuat" balas Shaka.


Bukh!


"Kenapa dari tadi gak mengangkat teleponku? Gak membalas pesanku. Aku sangat khawatir sama kamu. Kamu dari mana? Kenapa baru mandi sekarang, pasti kamu baru pulang. Kata Salwa jam dua siang Papa sudah pulang" cerca Annisa setelah memukul dada bidang Shaka.


"Tadi pagi kan aku udah bilang kalau aku akan ke rumah teman ku"jawab Shaka.

__ADS_1


"Tapi kenapa gak mau mengangkat teleponku?" tanya Annisa lagi tidak puas dengan jawaban Shaka.


"Tadi aku sempat kesal dengan istriku ini, jadi aku malas mengangkat panggilan teleponnya"jawab Shaka sejujur jujurnya.


"Tapi tadi kan aku udah kirim pesan untuk meminta maaf. Masa istrinya gak di maafin?" Annisa kembali menekuk bibirnya ke bawah.


"Namanya juga lagi kesal" balas Shaka.


"Aku mencintaimu" ucap Annisa.


Shaka tersenyum," Aku sangat mencintaimu. Shaka menghapus lelehan bening yang mengalir di pipi Annisa lalu mengecup pipi cabi istrinya itu. Tanpa melepas pelukan mereka, Shaka pun mengiring tubuh Annisa berjalan ke arah sofa, dan mendudukkan tubub Annisa di sana.


"Aku memakai baju dulu, baru kita pergi ke rumah Ayah" ucap Shaka. Pandangan Annisa langsung mengarah ke tubuh Shaka yang hanya memakai handuk saja. Tanpa sadar Annisa menelan air ludahnya melihat pemandangan menggiurkan di depannya itu. Meski sudah sering melihat Shaka hanya memakai handuk saat keluar dari kamar mandi, tapi saat ini Annisa sedang jatuh cinta sedalam dalamnya pada Shaka. Membuat Shaka terlihat berkali lipat tampannya di mata Annisa.


'Aakh! kenapa sih Ayah dan Shaka harus terikat perjanjian tidak boleh menggauli aku?.'


Annisa berteriak frustasi di dalam hati. Meski masih remaja, tapi kan Annisa sudah dewasa, sudah memiliki nafsu. Dan juga mereka sudah menikah, kenapa harus di tunda tunda ibadah suami istrinya?. Bukankah tujuan menikah itu salah satunya untuk bisa menyalurkan hasrat tanpa harus berdosa?. Kalau masalah hamil, kan bisa di tunda dulu.


Sampai di rumah Ayah nanti, Annisa akan menuntut haknya pada sang Ayah. Nafkah batin seorang istri.


Annisa menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia bisa gak punya harga diri di depan Shaka kalau terus memandangi tubuh Shaka yang menggiurkan itu. Shaka pasti menolaknya jika Annisa meminta haknya sebagai istri dengan alasan janji yang sudah terucap dari bibirnya.


Shaka tersenyum, tangannya pun terangkat mengacak acak ujung kepala Annisa, lantas melangkahkan kakinya ke arah lemari untuk mengambil pakaian lalu mengenakannya.


Setelah selesai berpakaian, mereka langsung meninggalkan rumah itu karena malam ini mereka akan tidur di rumah orang tua Annisa. Karena esok hari adalah acara lamaran Yasmin, Kakak Annisa sendiri.


krucuk krucuk krucuk!


Shaka yang sibuk menyetir refleks menoleh sebentar ke arah Annisa yang duduk di sampingnya.


"Kamu belum makan malam?" tanya Shaka.


"Aku gak berselera makan" jawab Annisa mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Shaka menghela napasnya, istrinya itu telah menyiksa diri karena diabaikan dari tadi.


"Pengen makan apa?."


"Makan di rumah Ayah aja" jawab Annisa.


Shaka pun mengangkat satu tangannya untuk mengusap kepala Annisa dengan sayang. Sampai di rumah Ustadz Bilal. Shaka memarkirkan kendaraannya dan langsung turun, disusul Annisa dari pintu sebelahnya.


"Kamu bawa makanan?" tanya Annisa melihat Shaka mengeluarkan sebuah kantong besar berisi beberapa kotak makana di dalamnya.


"Tadi katanya pengen di bawakan makanan" ujar Shaka.


"Itu banyak banget, kamu dapat uang dari mana membeli makanan sebanyak itu?. Kartu tabunganmu kan ada sama aku."


Shaka mengangkat satu tangannya untuk mengacak acak ujung kepala Annisa. Meski otaknya pintar, tapi terkadang istrinya itu sangat polos.


"Tadi Papa memberiku bonus karena aku berhasil melakukan presentasi saat meeting tadi" jawab Shaka sembari tersenyum.


"Oh ya?" Wajah Annisa langsung berbinar, bangga dengan apa yang sudah di lakukan Shaka.


"Ayo kita masuk" ajak Shaka, menyematkan jemarinya di kelima jemari tangan Annisa, kemudian menarik tangan gadis itu melangkah ke arah pintu masuk rumah itu.


"Assalamu alaikum!" seru Shaka sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka.


"Walaikum salam!" seru semua orang yang ada di ruang tamu rumah itu. Ternyata di rumah itu sangat rame dipenuhi keluarga besar Annisa.


"Tante Sabin!" seru Annisa melepas tautan tangannya dari genggaman Shaka, dan langsung berlari ke arah Tante Sabina, dan memeluk wanita yang masih terlihat cantik itu."Tante apa kabar?."


Tante Sabina adalah Adik dari Ayah Annisa sendiri. Saudari satu satunya di keluarga Ayahnya. Semenjak setahun yang lalu, Tante Sabina tinggal di luar Negri bersama suaminya yang mendapat pekerjaan di sana. Meski saat Annisa menikah kemarin,Tante Sabina datang, tapi Annisa sudah kangen lagi dengan Tante satu satunya itu.


"Baik, bagaimana denganmu. Apa sudah isi?." Tante Sabina mengecup kedua pipi Annisa bergantian.


Annisa mengerucutkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya ke arah sang Ayah dan bergantian ke arah Shaka. Berhasil membuat pandangan para Paman Annisa beralih ke arah Ustadz Bilal dan Shaka.

__ADS_1


"Belum" jawab Annisa cetus.


*Bersambung


__ADS_2