Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Jalan yang benar


__ADS_3

Pulang sekolah Shaka memarkirkan mobilnya di halaman rumah dan langsung turun. Shaka menoleh ke arah tiga buah kenderaan yang mengikutinya dari tadi. Ketiga mobil itu adalah milik Ferel, Calix dan si kembar Dzaki dan Dafi.


"Ngapain kalian ikut?" cetus Shaka kepada ke empat sahabatnya itu.


"Ngapain lagi?" tanya balik Ferel melangkahkan kakinya duluan masuk ke rumah sepupunya itu.


Shaka mendengus, ia masih kesal karena tadi Calix mengatakan si budiman miliknya letoi.


"Istrimu masak gak?" tanya Calix, dia pengen numpang makan. Ya, meski dia akan orang kaya, tapi Calix tipe orang yang suka makan di rumah orang.


"Masak lah" jawab Shaka melongos masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai dua rumah itu menuju kamarnya dan Annisa.


"Wih! banyak makanan di atas meja. Siapa yang masak?" ujar Ferel yang sudah sampai di meja makan rumah itu.


"Siapa lagi kalau bukan aku" jawab Annisa yang sibuk mengunyah makanan di mulutnya.


"Aku gak yakin, paling pembantu" cibir Ferel. Sudah sangat mengenal Annisa dari orok.


"Di sini gak ada pembantu" cetus Annisa.


"Makan ah!" Calix yang baru masuk ke ruang makan langsung mengambil piring dari dalam rak piring, kemudian membawanya ke meja makan.


"Stop! ini bukan untuk kalian."


Tangan Calix langsung mengambang di atas baskom nasi yang berada di atas meja.


"Makanan ini untuk Ayah dan Umi. Tadi Kak Yasmin yang memasaknya" ujar Annisa.


"Ya elah Bu Ustadzah, ini makanan banyak banget. Gak bakalan habis sama Ustadz Bilal Albiruni Aaryan Putra Alfarizqi, dan Ustadzah Ummu Hani" decak Calix menyendok nasi beserta lauk pauk yang ada di atas meja ke atas piringnya.


"Ya, kalau kalian mau makan, tunggu Ayah sama Umi ku dulu selesai makan. Lagian sekarang belum waktunya makan siang" oceh Annisa sambil mengunyah makanan di mulutnya, sehingga suaranya terdengar kumur kumur.


"Kamu sendiri kenapa makan? Kan belum waktunya makan siang" ujar Calix mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


"Ini kan rumahku, terserah aku" cetus Annisa.


"Aku juga ikut makan, ah!" Ferel yang tergiur juga dengan makanan di atas meja, langsung mengambil piring dari dalam rak piring, dan langsung mengisinya dengan makanan di atas meja.


"Sayang! kamu di sini?. Kirain tadi di kamar."


Annisa, Calix dan Ferel langsung menoleh ke arah Shaka yang sudah berganti pakaian. Karena masih kesal, tadi Shaka langsung ke kamar, karena mengira istrinya itu berada di dalam kamar mereka.


Sampai di samping Annisa, Shaka pun menjatuhkan satu kecupan di kening istrinya itu.


"Tadi Kak Yasmin datang ke sini, dia yang memasak makanan ini semua. Untuk makan siang dan makan malam kita" ujar Annisa dengan wajah berbinar ke arah Shaka yang masih berdiri di sampingnya. Kalau ada orang yang bersedia menyiapkan makanan di rumah itu, itu adalah sesuatu berkah buat Annisa yang tidak pandai memasak. Meski Shaka sebenarnya bisa masak, tapi rasanya tidak seenak masakan orang yang mahir memasak.


'Oh! pantas aja aku tadi tersedak sendiri. Ternyata Annisa membicarakan ku dengan Kak Yasmin' batin Shaka mengulas senyumnya sambil mengusap lembut kepala Annisa dari belakang.


"Tadi Kak Yasmin mengajariku memasak. Aku sudah bisa, tapi aku masih takut menghadapi kompor." Annisa masih trauma dengan kejadian kebakaran itu, apa lagi rumah mereka terbakar karena kesalahan darinya yang lupa matiin kompor setelah memakainya.


"Gak apa apa, gak usah memaksakan diri" balas Shaka, mengambil sendok dari tangan Annisa, lalu menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Hari ini ulang Tahun pernikahan Mama sama Papa aku. Nanti malam kalian datang ya ke rumahku" ujar Calix setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Aku juga" tolak Ferel. Biarlah mereka tak berperasaan tapi mereka lakukan untuk kebaikan mereka.


Meski Calix dan keluarganya beragama Islam. Tapi kedua orang tuanya dari dulu sangat jauh dari Agama. Dan untungnya Calix semenjak SD, sekolah di sekolah berbasis Islam sampai sekarang, sehingga ia memiliki pemikiran yang berbeda dengan kedua orang tuanya tentang Agama.


"Kalian bantu aku ya, untuk membawa kedua orang tuaku ke jalan yang benar" mohon Calix. Berharap kedua orang tuanya menjalani hidup layaknya seorang Islam sejati.


Shaka, Ferel pun saling berpandangan, berpikir apakah mereka akan datang ke acara ulang Tahun pernikahan orang tua Calix.


"Emang kedua orang tuamu kenapa?" tanya Annisa bingung. Meski sudah lama mengenal Calix tapi Annisa tidak tau soal kedua orang tua Calix.


"Kedua orang tuaku adalah Islam. Tapi sepertinya mereka sudah melupakan Agama mereka. Aku ingin menuntun mereka supaya mengenal Agama mereka" jawab Calix.


Annisa pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, pertanda setuju dengan niat mulia Calixto untuk menuntun kedua orang tuanya mengingat Tuhan.

__ADS_1


"Pasti nanti malam kami akan datang" ujar Annisa.


"Alhamdulillah" ucap Calix mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Sebagai sesama muslim, kita memang harus saling membantu dan mengingatkan satu sama lain" ujar Annisa.


"Tapi Annisa, nanti di sana itu kamu tidak nyaman dengan aroma miras di sana" ujar Shaka, khawatir jika harus membawa Annisa. Bagaimana nanti jika Annisa salah mengambil minuman. Bisa mabuk di istrinya itu.


"Tenang aja, acara kali ini aku yang mengurusnya. Jadi tidak ada yang namanya miras. Makanya kalian bantu aku. Tugas kalian untuk menggantikan pemusik dan penyanyi yang akan menghibur nanti. menggantikannya dengan bershalawat" terang Calix.


"Baiklah" ujar Ferel, makanan di piringnya pun habis. Kemudian Ferel meneguk air putih yang berada di depan Annisa tanpa meminta ijin.


"Bagaimana kalau kita mengajak Salwa dan Hasna juga?. Nanti kita bisa bermain rebana di sana" celetuk Dzaki yang tiba tiba datang dari ruang tamu.


"Boleh juga" balas Calix, tentu ia senang jika Hasna datang ke rumahnya, mengingat Hasna adalah cewek yang di sukainya.


"Tapi Salwa gak usah!" tukas Shaka.


"Kenapa?, kan ada kamu dan Annisa yang akan menjaganya" tanya Ferel.


"Kan biasanya juga kita barengan semua kemana mana" ujar Dafi kepada Shaka.


Shaka menghela napasnya tak ingin menceritakan alasan kenapa tidak mengijinkan Salwa ikut. Salwa bukan saudara kandungnya, tidak ada yang tau itu termasuk Annisa. Shaka khawatir, jika Salwa akan di incar orang tua kandungnya di pesta seperti itu.


"Salwa itu tukang ngantuk. Dia tidak akan kuat begadang" jawab Shaka akhirnya beralasan.


"Acaranya hanya sebentar, paling jam sembilan malam sudah selesai" ujar Calix. Kan gak seru kalau performa mereka tidak lengkap.


"Iya, gak serulah kalau Salwa gak ikut" sambung Annisa, sependapat dengan Calix.


"Tapi sayang, nanti Salwa itu akan nyusahin kita" ucap Shaka beralasan. Kalau Salwa ikut, pasti nanti di sana berdua duaan terus dengan Ferel.


"Kalau Salwa gak ikut, malas ah!" Annisa mengerucutkan bibirnya. Kemana mana Annisa, Salwa dan Hasna sering jalan bersama. Kalau Salwa gak ikut, pasti rasanya ada yang kurang.

__ADS_1


"Tenang aja, aku gak bakalan mepetin Salwa terus kok" cetus Ferel melirik Shaka dari sudut matanya.Bukankah ia sudah membantu Shaka untuk mendekati Annisa. Setelah mendapatkannya, sepertinya Shaka lupa balas budi.


*Bersambung


__ADS_2