
Annisa masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Setelah meletakkan baby Han di atas tempat tidur, Annisa duduk termenung di pinggir kasur menghadap jendela. Nama Furqon masih terngiang ngiang di telinganya. Annisa berpikir, apakah Furqon yang di jodohkan dengan Kakaknya itu sama dengan Furqon yang di sukainya. Dan kenapa ia tidak mengetahui soal perjodohan itu?. Sejak kapan Kakaknya di jodohkan dengan pria bernama Furqon itu?. Apakah Yasmin kakaknya tau soal perjodohan itu?. Apakah kakaknya Yasmin dan Furqon saling mencintai?. Kenapa Kakaknya tidak memberitahunya?.
Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak Annisa setelah mendengar pria bernama Furqon itu di jodohkan dengan Kakaknya, Yasmin.
"Nenek" lirih Annisa tanpa sadar menjatuhkan air matanya. Neneknya sudah tiada. Biasanya setiap Annisa punya masalah, Annisa selalu curhat kepada mendiang Neneknya.
'Tuhan aku baru kali ini jatuh cinta, tapi kenapa aku harus jatuh cinta kepada pria yang di jodohkan dengan Kakakku?. Apa yang harus ku lakukan dengan hati ini. Sedangkan pemilik hati ini, akan menjadi milik Kakakku sendiri.'
Annisa membatin sambil menghapus air matanya.
Annisa merasa Dunianya terasa hancur seakan mau kiamat, mendengar kenyataan Furqon sudah di jodohkan dengan Kakaknya. Jika saja wanita itu bukan Kakak kandungnya sendiri, mungkin Annisa sudah pasti akan memperjuangkan cintanya kepada Furqon. Merebut Furqon dari wanita itu.
Ceklek!
"Annisa"
"Iya Umi?" jawab Annisa langsung memutar tubuhnya ke arah Umi Hani yang baru masuk ke kamarnya.
"Hanif tidur ya?."
Annisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Umi Hani yang melihat raut wajah Annisa terlihat bersedih, mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa?" tanya wanita itu.
Annisa menundukkan pandangannya,"Aku kangen sama Mama."Annisa menghapus air matanya yang mengalir kembali tanpa bisa di bendungnya lagi.
Umi Hani terdiam tanpa melepas perhatiannya dari wajah Annisa. Berpikir, tadi Annisa baik baik saja, meski merindukan Ibu kandungnya, selama ini Annisa tidak pernah sampai menangis.
'Apa Kak Aqeela sakit?' batin Umi Hani.
"Kamu bisa menemuinya, kenapa harus menangis Annisa?" tanya Umi Hani, menarik Annisa ke dalam pelukannya.
Annisa terus menghapus air matanya. Sebenarnya, dia menangisi nasib cintanya kepada Furqon yang terpaksa harus di kuburnya dalam dalam setelah mengetahui kalau Furqon sudah di jodohkan dengan Kakaknya. Tapi Annisa tidak ingin orang tuanya tau, apa yang menyebabkannya menangis sesedih itu.
__ADS_1
"Annisa sudah lama gak bertemu sama Mama. Tiba tiba aja Annisa sangat merindukannya" jawab Annisa.
Semenjak Mama nya ikut bersama Ayah tirinya ke kota lain. Annisa sangat jarang bertemu dengan wanita yang melahirkannya itu. Terakhir kali Annisa bertemu dengan Ibunya, enam bulan yang lalu. Wajar saja kalau dia merindukan Ibunya.
"Annisa, kenapa menangis sayang?." Ustadz Bilal tiba tiba masuk ke dalam kamar Annisa.
"Annisa kangen sama Mama, Ayah. Boleh Annisa tinggal bersama Mama?" tanya Annisa sambil menangis terisak.
Ustadz Bilal terdiam memandangi wajah putrinya itu. Setelah ustadz Bilal menikah dengan Umi Hani,selama ini Annisa memang tinggal bersamanya. Aqeela istri pertamanya pun tidak keberatan dengan hal itu, begitu juga dengan Annisa. Ini pertama kali Annisa meminta untuk tinggal bersama Ibu kandungnya. Tapi yang menjadi pertanyaan, apa gerangan yang membuat putrinya itu menangis sesedih itu?. Apa Ibu kandung Annisa lagi sakit?, pikir ustadz Bilal.
"Sudah lama Annisa gak tinggal sama Mama" Isak tangis Annisa lagi.
"Tentu boleh, kenapa kamu harus menangis memintanya sama Ayah?" Ustadz Bilal menarik tubuh Annisa dari pelukan Umi Hani. Kemudian menghapus air mata putri kesayangannya itu dengan jari tangannya." Ada apa? katakan sama Ayah. Gak mungkin kamu menangis sampai terisak Isak karena merindukan Mama kamu. Ayah tau, setiap hari kalian bervidio cal" tanya ustadz Bilal memandangi wajah Annisa menelisik.
Annisa terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Kamu kenapa?, tadi kamu baik baik aja. Dan tiba tiba kamu menangis terisak isak. Ayah tau kamu berbohong. Sebelum Ayah menjadi ustadz, dulu Ayah adalah anak yang nakal, jadi jujur sama Ayah."
Iya Annisa, kamu kenapa?. Kalau gak nyaman cerita sama Ayah kamu. Kamu bisa cerita sama Umi." Umi Hani ikut menimpali, membantu suaminya untuk menyelesaikan masalah rahasia yang di hadapi putri sambungnya itu.
Annisa menghapus air matanya, lalu menggeleng lagi. Tidak mungkin Annisa menceritakan tentang perasaannya kepada Furqon. Sedangkan pria itu sendiri sudah di jodohkan dengan Kakaknya. Apa kata keluarganya nanti?.
"Ayah, bolehkan Annisa tinggal bersama Mama?" tanya Annisa lagi. Lebih baik ia mengalihkan pembicaraan, dari pada terus di tuntut penjelasan.
"Tentu boleh" jawab Ustadz Bilal.
"Yang mengantar aku siapa?" Annisa melirik Umi Hani dari sudut matanya. Tidak mungkin Ayahnya yang mengantarnya, melihat Umi Hani belum pulih total dari operasi cesarnya.
"Minta di antar Ferel" jawab ustadz Bilal.
Ferel adalah sepupu Annisa, berada satu Tahun di atas usia Annisa.
Annisa mengerucutkan bibirnya, menatap tak suka pada Ayahnya. Ayahnya sangat mencintai Umi Hani. Ayahnya selalu mengutamakan wanita itu.
__ADS_1
"Kenapa gak Abang aja yang mengantar Annisa. Aku gak apa apa kalau hanya di tinggal sebentar. Kan ada Bi Omi yang membantuku di sini" ujar Umi Hani kepada suaminya, tak ingin Annisa cemburu kepadanya. Mengingat Annisa dulu sempat tidak mengijinkan ustadz Bilal menikah lagi.
"Aku pengen di antar Ayah" ucap Annisa semakin mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, tapi tunggu hari Rabu. Soalnya dua hari ini Ayah ada jadwal ceramah" pasrah Ustadz Bilal.
Umi Hani masih belum bisa jika harus di tinggal lama lama, tapi melihat tatapan tajam Annisa ke arahnya, Ustadz Bilal tidak berani menolak lagi.
Setelah Ustadz Bilal dan Umi Hani keluar dari dalam kamarnya, Annisa kembali menangis terisak di atas tempat tidurnya.
**
"Ustadz Furqon ! tunggu!" seru Annisa sambil berlari ke arah Furqon yang berjalan ke arah kantor guru.
Furqon yang di panggil menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke arah Annisa yang bernapas ngos-ngosan di depannya.
"Ada apa Annisa?" tanya Furqon dengan kening mengerut.
"Sejak kapan Ustadz Furqon dan Kak Yasmin di jodohkan?" tanya Annisa sembari memperhatikan wajah Furqon.
Furqon terdiam tidak langsung menjawab. Ia pun memperhatikan raut wajah Annisa sekilas. Wajahnya sembab dengan mata yang bengkak. Sepertinya gadis manis itu menangis dalam waktu yang lama.
"Sejak kecil, bahkan aku tidak tau kapan" jawab Furqon.
Kini Annisa yang terdiam.
"Apa Ustadz mencintai Kakakku?" tanya Annisa dengan mata berkaca kaca.
Furqon terdiam sebentar." Ya.... aku mencintainya" jawab Furqon.
Annisa langsung memutar tubuhnya tanpa mengatakan apa pun lagi kepada Furqon. melangkahkan kakinya dengan gontai meninggalkan pria yang memperhatikannya dari belakang.
*Bersambung.
__ADS_1